Sunday, 29 December 2013

INIKAH CINTA

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk."Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..""Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu" jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya.

Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya.Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani.

Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus-elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak-sentak beberapa saat."Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..", rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya."Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..", katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol.

Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. "Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..", rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. "Rani.., teruskan sayang..", kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana."Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..", kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan."Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..", rengeknya"Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!" ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku.

Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, "Nanti aku boleh nyium itunya yah..". Aku pengin segera sampai ke rumah.Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH-nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet.Badannya yang telanjang aku peluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku.

Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku.

Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya.

Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam."Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali", kataku berbisik"Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..".Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga.

Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian."Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss..., aahh.., sayaangg..", mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip-selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya.

Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut."Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..", rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya."Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..""aahh.., iya.., eennaakk sekalii..".Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya.

Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya."Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..",rintihnya"Tahan dulu sebentar..., Nanti juga ilang sakitnya..", kataku membujukKemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat.

Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat."Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..", rintihnya."Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..", kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam-hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat.."."Raanii.., aku mau keluar niihh.."."Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh".Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku.

Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya."aahh..., aahh.., aahh..", kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun."aahh.., aahh.., aduuhh...", kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

SELERA KAMPUNG

Sejak aku ditukarkan ke sekolah di sebuah kampong yang terletak di pedalaman semenanjung, hidup ku semakin berubah hari demi hari. Aku merupakan seorang guru matematik yang baru keluar dari maktab. Sememangnya aku adalah lelaki yang perwatakan menarik, sederhana dan mudah menghormati orang-orang kampong. Maka tidak hairanlah boleh dikatakan semua orang kampong cukup suka kepada ku.

Kampung yang terletak jauh dari bandar dan boleh dikatakan agak ceruk juga di tempati lebih kurang 100 keluarga. Kedudukan antara rumah adalah jauh dan dipisahkan oleh kebun getah. Manakala jalan penghubung hanyalah jalan tar kecil yang hanya muat-muat untuk sebuah kenderaan sahaja. Manakala sekolah tempat aku mengajar pula menjadi tempat pelajar-pelajar dari kampung ini dan juga lagi dua buah kampung bersebelahan menuntut ilmu. Begitulah sedikit penerangan tentang kampung yang ku diami sekarang.

Aku tinggal di sebuah rumah kampung yang disewakan oleh salah seorang penduduk kampung yang berhijrah ke Bandar. Kuarters guru-guru tidak dapat menampung lagi jumlah guru-guru kerana projek pembinaan kuarters yang lebih besar masih dalam pembinaan. Walau pun rumah yang aku sewa tidak secantik mana, hanya rumah kampung beratapkan asbestos dan berdindingkan papan. Namun aku selesa mendiaminya meskipun seorang diri.

Seperti yang telah aku sebutkan sebelum ini tentang perwatakan aku dan juga hubungan ku yang baik dengan orang kampung, maka ramai orang kampung yang datang meminta berbagai bantuan dengan menjadikan aku sumber rujukan mereka dalam berbagai hal. Kelebihan aku yang mahir dalam komputer memberikan mereka semua peluang untuk merujuk aku dalam berbagai masalah komputer dan sekali gus mengajar anak-anak mereka supaya pandai mengendalikan komputer.

Selama bertahun aku menetap di kampung tersebut, selera nafsu ku juga semakin berubah. Minat ku kepada isteri-isteri orang yang matang dan montok semakin meluap-luap. Kebanyakkan suri rumah yang menetap di kampung tersebut memiliki tubuh yang montok. Maka sudah tentu masing-masing memiliki struktur tubuh yang gebu seperti tetek yang besar, malah ada yang melayut, perut yang gebu, peha yang montok serta bontot yang bulat dan besar. Tidak ketinggalan juga ramai antaranya yang kelihatan tonggek. Sudah tentu saban hari aku menelan air liur melihat punggung mereka yang bulat itu melenggok-lenggok dan bergegar di dalam kain batik sewaktu ke kedai atau ke rumah ku bagi bertanyakan berbagai pandangan berkaitan ilmiah dan kehidupan. Memang malu dan sukar untuk aku katakan, namun hakikat sebenarnya adalah aku sudah pun menikmati beberapa isteri orang sepanjang aku mengajar di sini.

Semuanya bermula dari keberanian ku mengorat kak Timah, isteri abang Azhar. Kak Timah datang ke rumah ku pada petang minggu itu bagi bertanyakan kepada ku cara untuk menutup akaun arwah emaknya yang meninggal dunia bertahun dahulu. Sepanjang kak Timah berbual di ruang tamu rumah, mata ku seakan sukar untuk melepaskan dari menatap wajahnya yang bagi ku sungguh menawan meski pun usianya ketika itu sudah hampir mencecah 45 tahun. Teteknya yang kelihatan sedikit melayut di dalam baju kurung kedahnya nampak seperti sedap untuk di hisap. Pehanya yang montok itu kelihatan montok dan sungguh menggoda di dalam kain batiknya yang lusuh. Sepanjang aku berbual dengannya, tidak habis-habis aku membayangkan alangkah nikmatnya jika peha montok itu mengangkang untuk ku sumbat batang ku di celah nonoknya. Sepanjang kami berbual, sempat juga aku selitkan sedikit unsur-unsur lucah.
Ternyata kak Timah juga suka, malah dia juga turut memberi respon dengan kata-kata lucah walau pun dalam bentuk sindiran. Kemudian kak Timah meminta diri untuk pulang dan sebaik dia berdiri dari sofa rotan ku, mata ku segera mencari bontotnya. Berkali-kali aku menelan air liur melihat bontotnya yang berkain batik lusuh itu. Dah lah bontot besar, lebar pulak tu. Bila berjalan ke pintu bontotnya melenggok dan bergegar. Aku yang geram pun dengan selambanya menampar bontotnya sampai dapat ku lihat ianya bergegar. Kak Timah tak marah pun, dia sekadar menjeling dan senyum. Paling mengejutkan adalah dia mengatakan adakah aku gatal dan aku menjawab sememangnya aku gatal melihat bontot yang cantik miliknya itu. Kak Timah berhenti di muka pintu dan dengan membelakangi ku dia melentikkan bontotnya. Terbeliak mata ku melihat bontotnya yang lebar itu kelihatan semacam makin sendat dalam kain batik lusuh itu. Aku tepuk bontotnya sekali lagi dan dia nampaknya membiarkan. Melihatkan kak Timah seakan menyukai dengan perbuatan nakal ku, aku memberanikan diri meraba bontotnya yang nyata tidak memakai seluar dalam.

Aku tunduk menciumi bontotnya dan kak Timah menonggekkan bontotnya. Aku semakin stim dan aku tarik tangan kak Timah kembali ke ruang tamu. Aku minta kak Timah berdiri berpaut pada dinding dan aku pun kembali mencium dan menghidu bontotnya yang besar lebar itu sepuas hati ku. Menonggek kak Timah berdiri membiarkan bontot lebarnya aku cium dan ku puja dengan bernafsu. Aku menyangkung di belakang kak Timah. Batang aku yang keras dalam seluar aku rocoh-rocoh. Sememangnya aku mengidamkan bontot perempuan yang lebar dan bulat seperti milik kak Timah itu. Kak Timah aku lihat menoleh kepada ku dengan tudung yang masih di kepalanya. Dia senyum melihat aku menggomol bontotnya.

Aku berdiri pula dan aku rapatkan batang aku di bontot kak Timah yang bulat. Sungguh sedap dan lembut rasanya. Tangan ku meraba-raba bontot kak Timah. Daging empuknya yang lebar dan berlemak aku ramas penuh nafsu. Kak Timah melentikkan tubuhnya. Dia seperti menyerahkan seluruh bontotnya yang berkain batik lusuh kepada ku. Aku memang bernafsu betul ketika itu. Bontot bini orang kampung yang besar dan montok itu membuatkan aku sungguh tak tahan. Aku keluarkan batang aku dan aku lancap di belakang kak Timah. Sambil melancap aku tengok bontot kak Timah. Aku ramas bontot empuknya. Kak Timah menoleh lagi dan dia tersenyum lebar melihatkan aku melancap di bontotnya. Kak Timah menarik batang ku rapat ke daging empuk bontotnya. Kain batik lusuhnya aku rasa sungguh lembut dan licin disentuh batang ku. Aku menghimpit batang ku ke bontot empuknya.

Aku cium kepala kak Timah yang bertudung itu. Aku hembuskan nafas berahi ku di telinganya. Tubuh gebu bini orang itu seakan menggeliat hingga bontot montoknya rapat menyentuh batang ku yang keras. Aku gila betul kepada bontotnya. Kak Timah rapatkan batang ku di celah bontotnya. Sekali lagi aku merasakan bontot empuknya yang sedap di dalam kain batik lusuh yang lembut itu menghimpit batang ku. Tubuh kak Timah turun naik membuatkan bontot empuknya turun naik menghimpit batang ku. Sedap sungguh rasanya ketika itu. Kak Timah pun melentik-lentikkan bontotnya seakan mahu melanyak batang ku di bontotnya. Memang betul-betul nikmat aku dilancap bontot kak Timah. Batang ku menempel di bontot kak Timah menikmati lenggokkan daging empuknya yang berlemak. Aku semakin tak tahan lagi. Kanan kiri pinggul berlemak kak Timah aku ramas-ramas. Aku tarik pinggul empuknya hingga bontotnya rapat menghenyak batang ku. Aku tekan batang ku dan ku sorong tarik batang ku di atas bontot lebar yang empuk milik bini orang kampung itu. Aku stim teramat sangat melihat bontot besar yang berkain batik. Aku tak tahan. Akhirnya air mani ku terpancut-pancut keluar. Bontot kak Timah yang berkain batik lusuh dihujani pancutan demi pancutan air mani.
Kak Timah menoleh dan melihat muka ku yang nyata sedang dilanda keghairahan melepaskan air mani di atas bontotnya. Kak Timah melentikkan bontotnya seakan meminta ku melepaskan air mani ku sepuasnya. Dia hanya tersenyum membiarkan bontot lebar yang besar itu di limpahi air mani lelaki yang bukan suaminya. Aku peluk kak Timah. Tubuh montok yang berlemak itu aku peluk dalam keberahian melepaskan air mani yang membasahi kain batik lusuh di bontotnya. Tetek kak Timah aku ramas geram bersama geramnya aku menekan batang ku yang sedang memancutkan air mani di bontot kak Timah.

Kak Timah pun pulang ke rumah bersama air mani ku yang masih membasahi kain batiknya. Malah, dia membiarkan cairan kental keputihan itu meleleh di bontotnya. Aku berdiri di pintu memerhatikan bontot besarnya yang melenggok dan bergegar di dalam kain batik yang basah dengan air mani ku.

Perbuatan ku bersama kak Timah tidak berakhir di situ. Sekali-sekala, kak Timah datang ke rumah ku dan kami akan bermesra-mesra hingga air mani ku membasahi kain batiknya. Kadang kala aku tidak melancap di bontotnya, tetapi kak Timah melancapkan batang ku dengan menggoncangkan batang ku menggunakan tangannya yang dibaluti kain batik lusuhnya yang lembut. Namun, lumrah manusia, diberi betis nak peha. Akhirnya kak Timah berzina juga dengan ku. Persetubuhan yang kami lakukan memang sungguh menikmatkan. Dapat juga aku merasa tubuh montok bini orang kampung yang berbontot besar dan montok itu. Walau pun kami tidak pernah bersetubuh telanjang, hanya dengan menyelak baju dan kain batiknya sahaja sudah cukup membuatkan persetubuhan kami hangat. Kak Timah tahu aku meminatinya kerana bontotnya. Akhirnya dapat juga ku nikmati dubur kak Timah dan membenihkan lubang najisnya yang empuk berlemak itu. Pertama kali aku melakukannya, air mani ku keluar tidak sampai seminit. Ianya gara-gara terlalu ghairah kerana mendapat apa yang selama ini aku idamkan. Setakat air mani ku memenuhi lubang nonoknya sudah menjadi perkara biasa. Malah, seorang bayi turut terhasil dari perbuatan sumbang kami berdua.

Kak Timah yang sentiasa sudi melayan nafsu ku dan curang kepada suaminya semakin hangat di atas ranjang. Dia semakin bijak mengetahui apakah keinginan ku dalam permainan nafsu. Bontotnya yang aku idam-idamkan dan selalu ku puji dan stim kepadanya menjadi medan persetubuhan yang paling kerap aku nikmati. Malah sekiranya masa tidak mengizinkan atau kami kesuntukan masa, tetapi tetap inginkan persetubuhan, kak Timah tahu bagaimana hendak melakukannya.

Dia akan hisap batang ku dulu dan kemudian dia akan menonggeng di mana-mana saja yang sempat dan tersembunyi, selak kain batiknya dan aku pun jolok duburnya. Pernah kami melakukannya di majlis gotong royong di balairaya. Kami sempat melencong di dalam kebun pisang. Pokok pisang kebun Haji Jamil menjadi tempat kak Timah berpaut sementara aku menikmati lubang bontot lebarnya yang sedap dan berlemak itu. Bergegar lemak-lemak yang melebarkan dan membesarkan bontot bini orang tu. Memang sedap. Tak hairanlah setiap kali main bontot memang tak pernah pancut luar. Sedap sangat lepas dalam.

Selain kak Timah aku juga dah merasa tubuh montok dan gebu milik kak Esah. Bini orang yang selalu gersang itu aku nikmati tubuhnya sewaktu aku dalam perjalanan ke rumah ketua kampung melalui jalan pintas yang melalui kebun-kebun. Kak Esah kira sudah berumur juga. Di dalam lingkungan 50-an. Anak-anaknya juga sudah besar-besar dan ada yang lebih tua dari ku. Suami kak Esah terperap di rumah lantaran sakit angin ahmar. Jadi hanya kak Esah dan anak-anaknya yang mencari rezeki dengan membuka kedai makan di tepi jalan besar yang dibuka setiap malam hingga awal pagi.
Biar aku cerita macam mana tubuh gempal kak Esah yang montok tu aku nikmati. Sewaktu aku melalui denai yang merupakan salah satu jalan pintas, aku terserempak dengan kak Esah yang juga sedang melalui jalan yang sama dan juga hendak pergi ke rumah ketua kampung. Jadi kita orang pun berjalan bersama-sama perlahan-lahan sambil berborak-borak. Sewaktu tiba di denai yang kecil, aku biarkan kak Esah jalan dahulu di depan sementara aku mengikutnya di belakang. Semasa tu lah aku tengok bontot kak Esah yang berkain batik tu nampak licin tanpa seluar dalam.
Bontotnya yang besar dan nyata sungguh berlemak lebar itu membuatkan aku geram. Melenggok-lenggok bersama pehanya yang besar. Sambil aku mengikutnya aku merocoh batang aku yang keras dalam seluar sambil mata aku tak henti menontot lenggokan bontot kak Esah. Kak Esah cakap apa pun aku tak perasan sampaikan dia menoleh ke belakang tengok aku sebab aku tak ambil endah apa yang dia katakan. Aku sedar kak Esah menoleh kepada aku yang sedang khusyuk pegang batang dan tengok bontot dia. Aku tengok muka kak Esah, dia senyum je kat aku. Lepas tu aku pun senyum balik kat dia dan akhirnya kita orang pun tiba kat rumah ketua kampung.

Selepas selesai urusan, aku dan kak Esah berjalan balik ke rumah bersama-sama. Kemudian kak Esah tanya aku satu soalan killer. Dia tanya kenapa masa dalam perjalanan pergi tadi dia nampak aku pegang batang aku sambil tengok bontot dia. Aku pun dengan selamba je bagi tau yang aku stim sangat kat bontot dia yang besar tu dan melenggok-lenggok dalam kain batik tu. Kak Esah senyum je dan dia pun kata patutlah masa kat rumah ketua kampung mata aku asyik tengok peha dia je. Memang betul pun, masa aku kat rumah ketua kampung, kak Esah duduk depan aku. Mata aku asyik memandang pehanya yang gebu dan lebar dalam kain batik tu. Aku berkali-kali menelan air liur dan bayangkan betapa bestnya kalau peha besar tu terkangkang menerima rodokan batang aku di cipapnya. Masa ketua kampung pergi ambilkan borang asrama untuk anak kak Esah, aku lagilah tak boleh tahan sebab kak Esah duduk silangkan kakinya. Jadi pehanya nampak lagi sendat dalam kain batik tu. Aku tau kak Esah tengok aku, jadi dengan selamba aku raba-raba batang aku yang keras dalam seluar.

Lepas dah melalui denai kecil, aku pun berjalan beriringan dengan kak Esah. Aku tengok depan belakang kiri kanan. Line clear. Aku pun mula cucuk jarum. Aku raba bontot kak Esah. Rasa lembut je bontot lebar dia yang berlemak tu. Dari tepi aku nampak bontot dia menonggek pulak. Makin stim pulak aku. Kak Esah biarkan je. Dia senyum je. Aku yang tau dia ni mesti boleh makan punya pun tarik tangan dia masuk kat belukar tepi denai tu. Kak Esah biar je aku tarik dia sampai agak dalam sikit dari denai tu, aku pun sandarkan kak Esah kat sepohon pokok yang redup. Aku peluk kak Esah dan kucup bibir bini orang yang berumur dan montok tu. Kak Esah nampaknya membalas. Memang dia pun suka kat aku rupanya.

Kami berdiri berpelukan dan berciuman. Tubuh montok kak Esah yang bertudung, berbaju kemeja singkat dan berkain batik itu aku peluk semahunya. Seluruh pelusuk tubuh bini orang yang berlemak itu aku raba dan ramas sesedapnya. Batang aku yang makin stim dalam seluar kak Esah pegang. Dia buka seluar aku dan dia pegang serta mula melancapkan batang aku sampai aku jadi makin stim yang teramat sangat. Aku minta kak Esak hisap batang aku. Kak Esah pun menyangkung dan menghisap batang aku keluar masuk mulutnya. Aku tengok kepala kak Esah yang bertudung tu bergerak depan belakang hisap batang anak muda yang berpuluh tahun muda darinya. Bontot kak Esah yang lebar tu nampak sendat dalam kain batiknya masa dia menyangkung macam tu. Aku paut kepala kak Esah dan aku jolok mulut kak laju-laju. Kak Esah biarkan aku rodok kepala dia yang bertudung tu.

Selepas itu, aku minta kak Esah duduk atas rumput yang bersih dan kering. Kak Esah macam faham apa yang aku nak buat. Dia pun mengangkang dan menunggu aku membuka kain batiknya. Aku usap peha kak Esah dan aku selak kain batiknya. Cipap kak Esah yang kehitaman tu aku nampak dah berkilat dengan lendir. Nampak sangat makcik kita sorang ni dah stim sangat. Aku pun apa lagi, terus terjun dalam lubang cipapnya yang dah longgar gila tu. Aku hayun sesedap rasa. Walau pun dah longgar sebab dah berderet budak yang dia beranakkan, tapi masih syok dengan kelembutan daging dalamnya dan licin dengan air cipapnya. Kena pulak tu kak Esah kemut memang sedap. Rasa macam ada mulut satu lagi tengah hisap batang aku kat bawah. Lazat, memang lazat.

Kak Esah terkangkang dengan kain batiknya yang terselak. Tudungnya yang semakin kusut menampakkan bahawa dia semakin hilang kawalan diri. Aku menjolok cipap longgar perempuan berumur yang bertubuh montok dan berlemak itu semahu-mahunya. Bunyi lucah dari cipapnya yang berlendir dengan air nafsu sungguh memberahikan. Tudung kak Esah sedikit kusut. Lemak yang membuncitkan perut kak Esah membuai-buai setiap kali aku menghenjut batang ku keluar masuk bagaikan belon yang berisi air. Nafsu ku semakin tidak keruan dan aku semakin seronok menyetubuhi wanita matang itu.

Kak Esah memeluk ku dan menarik tubuh ku rapat kepadanya. Dia berbisik bertanyakan adakah sedap menyontot tubuh gemuknya. Aku memberi respon dengan mengatakan ianya sungguh melazatkan. Kak Esah mendesah nikmat dan menyuarakan kesedapannya di jolok batang ku. Suara kak Esah semakin tersekat-sekat. Kak Esah semakin kuat memeluk ku dan akhirnya tubuhnya terangkat-angkat membuatkan tubuh ku yang lebih slim darinya turut terangkat. Jelas dia sudah mencapai kepuasan batinnya. Bau peluh kak Esah semakin semerbak menusuk hidung ku. Aku bangun dari menindih tubuhnya. Aku minta kak Esah menonggeng di atas tanah yang beralaskan rumput. Kak Esah menonggeng dan aku lihat kain batik di bontotnya basah dengan air nafsunya. Aku selak kainnya dan aku ramas daging bontot kak Esah yang berlemak.
Aku sumbat batang ku ke dalam lubang cipap kak Esah. Aku celup batang aku sekali dua hingga ke pangkal dan aku keluarkan kembali. Aku ludah simpulan lubang dubur kak Esah yang berwarna gelap itu. Aku kuak belahan bontotnya yang berlemak itu bagi membolehkan air liur ku masuk ke dalam duburnya. Aku halakan kepala batang ku ke simpulan dubur empuk bini orang yang berumur itu dan aku tekan sedikit demi sedikit hingga tenggelam kepala batang ku. Kak Esah merengek dan bertanya kepada ku adakah boleh melakukan persetubuhan melalui jalan najis itu. Aku memberitahunya bahawa sudah tentu boleh dan sememangnya aku bernafsu kepadanya gara-gara bontotnya. Kak Esah memberitahu ku bahawa dia tidak pernah di liwat dan agak takut untuk melakukannya. Aku memujuk kak Esah agar tenang dan biarkan aku saja yang bertungkus lumus. Aku minta kak Esah berikan saja duburnya untuk ku nikmati. Kak Esah agak gugup, namun dia membenarkan.

Aku tekan batang ku hingga seluruhnya masuk ke dalam dubur kak Esah. Melentik tubuh gebunya mungkin sebab pedih sebab pertama kali duburnya di liwat. Aku hayun batang aku di lubang najisnya yang sempit itu. Sungguh sedap rasanya meliwat dubur perempuan berumur yang berlemak itu. Kain batik kak Esah aku selak lagi hingga seluruh bontotnya yang putih dan lebar itu menampakkan gegarannya. Bagaikan belon berisi air, bontot berlemak kak Esah berayun ketika aku menghayun batang ku. Setiap kali batang ku menujah dubur empuk berselulit perempuan kampung itu, semakin sedap ku rasa. Aku menghayun bagai nak gila. Kak Esah merengek tak henti-henti. Melentik bontot kak Esah dijolok batang aku. Aku hilang kawalan. Bontot berlemak yang lebar itu semakin membuatkan aku ghairah. Aku jolok bontot tonggek bini orang itu semakin laju. Kak Esah mengerang semakin kuat. Akhirnya aku benamkan batang ku dalam-dalam dan ku lepaskan air mani yang berkhasiat dan subur ke dalam dubur kak Esah. Kak Esah merengek sewaktu dia merasakan air mani terpancut-pancut dari batang ku yang tersumbat sedalam-dalamnya di dalam duburnya. Aku perah seluruh air mani ku agar keluar memenuhi lubang bontot bini orang yang kegersangan itu.

Selepas puas memenuhkan lubang bontotnya, aku tarik batang ku keluar. Serentak itu, tanpa aku duga kak Esah mengeluarkan gas aslinya dari lubang bontotnya yang ternganga. Berkali-kali kak Esah terkentut-kentut hingga anginnya dapat ku rasa kuat menghembus batang ku yang sudah terkeluar dari duburnya. Kemudian mengalirlah benih ku keluar dari duburnya setelah ianya sesat tidak menjumpai lubuk peranakan yang boleh dibuntingkannya, sebaliknya hanya najis-najis yang bakal diberakkan sahaja yang dijumpainya. Kak Esah tersipu-sipu malu. Dia berdiri dan membetulkan tudung serta kain batiknya. Ketika itu kak Esah memanggilku dan mengangkat kainnya. Kak Esah menunjukkan sesuatu kepada ku. Dari kainnya yang diangkat, aku lihat air mani ku mengalir turun dari duburnya ke peha dan betisnya. Kak Esah kata air mani ku banyak dan dia kata aku seakan-akan kencing di dalam duburnya.

Dengan kepedihan, kak Esah berjalan semacam terkangkang pulang ke rumahnya. Sewaktu kami berpisah mengikut haluan masing-masing, aku terdengar bunyi air mani ku tercirit-cirit dari lubang bontotnya. Kak Esah ketawa kecil sambil berlalu dari situ. Aku melihat kain batik kak Esah basah dari bontot hingga ke bawah. Aku tersenyum sendiri. Tak sangka, sedap juga emak orang yang dah kira berumur tu. Paling kelakar adalah sempat juga dia kentut kepada ku. Memang aku tak dapat lupakan kak Esah. Setiap kali terkentut, tiap kali itulah aku akan teringat kepada kak Esah.

selepas affair dengan kak Esah, aku menjalinkan pula hubungan sulit dengan Kak Sue. Dia ni bini orang juga. Lakinya bekerja bawa lori di pekan dan balik 3 hari sekali. Anaknya pun dah besar-besar dan paling sulong sebaya aku dan masih belajar di unversiti. Aku mula main dengan kak Sue semasa kak Sue datang ke rumah aku minta tolong buatkan surat untuk urusan tanahnya. Aku pun sambil buat surat sambil cucuk jarum. Kak Sue ni orangnya biasa-biasa je, tak semontok kak Esah dan Kak Timah, gebu-gebu je lah. Tapi bontot dia membuatkan aku macam nak bawak dia lari dan kawin kat Siam. Dahlah lebar, tonggek pulak tu. Aku yang stim sangat kat dia pun selamba je bangun dari kerusi komputer. Dia punya terlopong tengok aku sampai lalat pun boleh masuk. Nak tahu kenapa. Sebab masa aku bangun tu batang aku tegak menongkat kain pelikat. Kak Sue senyum je kat aku. Aku pun senyum juga kat dia.
Lepas tu aku offer dia pegang batang aku. Kak Sue ni pun berani juga nak cuba. Dia pun pegang. Biasalah, alang-alang dah pegang, aku minta dia lancapkan sekali. Kak Sue pun lancapkan dan aku pun tanggalkan kain pelikat dan baju aku sampai aku telanjang depan kak Sue. Kak Sue pun hisap batang aku lepas aku minta dan seterusnya persetubuhan pun bermula. Aku main dengan kak Sue tak pernah ikut depan. Walau jolok cipap sekali pun, tak pernah ikut depan. Mesti menonggeng sebab aku syok gila dengan bontot dia yang lebar dan tonggek tu. Dah lah pinggang dia slim. Aku beruntung sebab kak Sue dah selalu kena liwat laki dia. Jadi tak ada masalah masa aku jolok bontot dia pertama kali. Memancut air mani aku dalam bontot dia. Kak Sue ni pun jenis suka pakai kain batik ke hulu hilir. Jadi memang senang sangat nak main dengan dia kat mana-mana pun.

Pernah sekali tu aku dah gian gila dengan bontot tonggek dia tu, aku main dengan dia kat belakang reban ayam rumah dia. Masa tu aku sengaja datang ke rumah dia. Tengok-tengok dia tengah berkemban sidai baju kat ampaian. Aku pun ngorat ajak main. Dia pun ok je. Tapi masa tu mak dia ada dalam rumah. Anak-anak dia pun ada juga. Jadi dia pun ajak aku pergi belakang rumah dan kat belakang reban pun jadi. Aku selak kain batik kemban dia dan jolok cipap dia dari belakang. Bila nak terpancut je, aku cabut batang aku dan aku jolok bontot dia. Aku rodok dubur tonggek kat Sue kuat-kuat sampai dia menjerit kecil. Lepas tu macam biasalah, aku kencingkan mani aku dalam bontot dia.


Tu je lah… sampai sekarang aku masih menikmati tubuh empuk mereka. Dari apa yang aku tahu, masing-masing kata puas main dengan lelaki muda. Sebab lelaki dah berumur ni dah tak pandang sangat perempuan montok-montok dan gebu-gebu macam mereka. Lelaki muda je yang boleh bagi mereka kepuasan batin walau pun lubang masing-masing dah longgar. Lebih-lebih lagi lubang bontot yang ada sebilangannya yang sebelum itu tak pernah kena liwat, akhirnya di liwat juga. Bagi mereka, walau pun tak sedap pada mulanya, tapi bila dah selalu kena, sedap gila rasanya hingga menimbulkan kerinduan dan ketagihan pada duburnya untuk diliwat. Malah, itu jugalah satu-satunya lubang yang masih sempit dan sedap ditubuh mereka yang boleh dinikmati dengan penuh nikmat untuk lelaki muda yang memberikan mereka kepuasan batin. Jadi tak hairanlah dia orang semua malas nak jaga badan. Lagi besar bontot dia orang lagi dia orang suka sebab dia orang tahu ada orang yang menghargai bontot besar mereka tu.

RITA

Lepas abg mandi dan siap, kita keluar kay?" Janmencuit dagu Rita yg baru selesai mengenakantudungnya. Rita hanya mengangguk sambil memaut manjalengan suaminya sebentar sebelum melepaskannya. Jan kebilik air dan Rita bangun dri bilik ke ruang tamu. TVdibuka. Semua saluran dipilih tetapi tiada yg menarik.Rita menonton dokumentari di salah satu saluran tetapifikirannya melayang jauh teringatkan satu babak dlm LRT yg disaksikannya ketika keluar ke Pasar Senikelmarin…….
Dlm LRT yg cukup sesak petang itu Rita tiba2terperasan seorg amoi cantik memakai mini-skirt sedangdiraba oleh 2 pemuda Bangla. Rita nampak tangan salah seorg pemuda yg berdiri di belakang amoi seiras aktresVicky Zhao sedang mengusap punggung amoi itu dri luarmini skirtnya yg agak ketat, sambil sebelah lagitangannya meramas lembut tetek amoi tadi. Seorg lagi yg berdiri di sisi hadapan amoi cantik itu menyeluktangannya ke dlm skirt amoi dan pastinya sedang merabapantat amoi itu.
Anehnya si amoi tidak marahsebaliknya hanya senyum pd si Bangla. Lama juga aksimereka Rita perhatikan dan Rita yg memang kuat nafsusex pula yg sudah terangsang di luar sedar. Dia terasaseolah-olah tangan2 Bangla itu tangan Jan, yg bergandamenjadi 3 dan melakukan rabaan serentak ke punggung, pantat dan teteknya….. Rita yg duduk di sofa menyingkap ekor tudungnya danmenyelempangkannya ke bahu lalu meramas teteknya ygdibalut baju bodysuit. Skirt labuh warna hitam ygdipakainya pula disingkap hingga paras pusat, mendedahkan pantatnya yg masih dibalut panty.Digosoknya lembut sambil mulutnya mula mendesahkeseronokan.
Teteknya pula terus diramas hinggamenegang. Putingnya juga mengeras dan bergesel dgn brayg dipakai. "eeemmmmm…" keluh Rita kegelian bila sepasang suis syahwatnya yg comel seolah-olahdigeletek oleh permukaan dlm branya sendiri. BerahiRita kian memuncak. Terasa pantynya seolah-olahpenghalang tangannya utk lebih selesa memainkanpantat, dia menyelak fabrik panty yg menutup permukaan pantat dan celah kangkangnya lalu menguis lembut alurpantatnya yg agak basah akibat terbitnya cecairpelincir atas ke bawah berganti-ganti."AAAAhhhhhhhhhssss…ooohhhhhhh…….emmhhhhh…….." desusRita dlm nikmat oleh permainan tangannya sendiri. Kakinya terkangkang luas. "Amboi sayang, kalau dok layan sendiri pun takkan lemasih pakai tudung?" suara Jan mengejutkannya danmengembalikan Rita kpd realiti. Rita tersipu malusambil merapatkan kembali pehanya dan menutupnya dgn skirt yg diselak tadi.. "Maaf bang, stim sangat lamakita tak main." Rita merengek manja . "Takpe, lepasbalik nanti kita main." Janji Jan sambil mencuit sisitetek Rita membuatkan Rita terkejut, menjerit kecil kegelian.
Jan tau Rita kegersangan walaupun hanya 3hari dia keluar KL , tugas outstation.* * * *Dlm kereta Jan ketika mereka pulang ke rumah…………"Abang ada gaya baru utk kita main mlm ni." Janmenjeling nakal Rita. "Apa dia bang?" Rita yg memang dahagakan batang keras6 inci Jan tersenyum miang."Rita main sambil pakai tudung, pakaian lain bukakhabis mcm biasa.""Isyy..pelik le abang ni.""Best apa, Abang tengok Rita main cipap sampai selak panty tadi, tapi pakai tudung, kinky le.""Abangggg…" Rita malu2 menampar manja bahu suaminya.Rita terdiam seketika. Betul juga, elok juga dicubacara penampilan baru, bukan setakat posisi bersetubuhyg harus dipelbagaikan. Lagipun mesti nampak lebih sexy nanti dia berbogel, tapi hanya bertudung kepala."Elok gak tu bang, kalau Rita boleh pakai ketat2sambil pakai tudung, bogel pun apa salahnya.""Ekekeke!!!"……………….* * * *Jan menyorot lenggok punggung Rita yg menggiurkan ketika masuk ke bilik tidur.
Tubuh Rita itulah ygmenyebabkannya tidak terniat utk 'merasa' perempuanlain walaupun matanya sering terbeliak melihatkeseksian wanita ke mana sj dia pergi. Rita yg ayubila membiarkan rambut lurus hitam berkilat separas bahunya terurai bertambah ayu bila memakai tudung danberpakaian sopan dan nampak sexy sekali bilamengenakan pakaian sexy seperti baju sendat, seluarketat, kain belah dan kebaya ketat, Rita naik ke atas katil dgn gaya yg memberahikan membuatkan Jan semakin gian. Namun dgn gaya seorggentleman Jan bersahaja mengikuti isterinya sambilmenyandarkan tubuhnya yg hanya berkain pelikat di sisiRita yg masih lengkap berpakaian. Jan mengucup kening Rita dan menggenggam erat jari2 isterinya sambilmeramasnya."Bestnya ada abg bersama mlm ni…" Rita mencuit manjahidung suaminya"Abg pun…..." Jan mula merayapkan tangan ke bahu Ritadan memicitnya. Rita mula merasa lain mcm. Dia lantas mencium pipi Jan, Jan membalas dgn merangkul Rita dankeduanya saling berkucupan. Jemari Rita yg nakal danhauskan batang lelaki merayap ke celah peha Jan danbermain dgn batang Jan yg sudah pun beransur mengeras di balik kainnya. Dri bibir Jan beralih ke telinga Rita.
Cukup dgn hanyamenggesel hidung dri luar tudung, Rita mengeliat gelisambil merengek. Dia seronok diperlakukan begitu danmenyelak sedikit tudung yg menutup lehernya agar Jan menjilat dan menyedut di situ."Eeerrmmm…aahhhsss…aaahhhh…ahhhh!" Rita kian hebatmengeliat dan mendesah bila lehernya dijilat dandisedut lembut oleh Jan. Terasa tangan Janmeramas-ramas teteknya. "lagiii bangggg….". Tangan Rita juga tak kurang nakalnya meraba ke sana-sinihingga terungkai ikatan kain pelekat Jan sudahnya.Sedar2 kain pelekat Jan beralih tempat dan Rita dgnrakusnya menggenggam batang Jan sambil menggosoknya keatas dan ke bawah dan mula mengulumnya. Lan mulamendesis keenakan.
Nikmatnya bila batang dikulum danmelihatkan ia dikulum oleh seorg wanita cantikbertudung, berahi Jan semakin melambung. Tangan Janmerayap meraba-raba punggung montok Rita yg agak menonggek tatkala Rita membongkok mengulum batangnya.Rita kemudian bangun lalu membuka baju bodysuit danbranya sekali.
Terdedahlah sepasang tetek Rita ygselama ini hanya dilihat bentuknya dri luar olehmereka selain suaminya. Jan membaringkan Rita danmeramas lembut tetek Rita sambil menghisap danmenjilat putingnya silih berganti.
"Abaaannnngggsedapnyyaaa…lagi banggg…aaahhhhhooohhhhsss" desah Ritasambil meliukkan badannya. Dia mmg tak tahan dgn jilatan dan ramasan Jan yg power dan mampumembuatkannya klimaks! Rita tambah seronok bilamenyedari tubuhnya hanya bertudung dan berskirt shj.Nampak kinky gitu!"Sayang, tolong bogelkan Rita." Bisik Rita dlm berahi yg teramat sangat.Jan melurut skirt labuh Rita. Terpampang pantat tembamisterinya yg dibalut panty nipis warna putih.Dicekupnya pantat Rita sambil mengusapnya ke atas danke bawah. Sesekali jari telunjuknya membelai alur pantat Rita yg sudah mula berair. Rita merenung Jansambil senyum dan mengeliat kegelian campur nikmat."Abaannggggggg sedapnyaaaaaaaa.." keluh Rita.. Airmazinya mula mengalir.
Bibir pantat Rita dikuaksedikit dan jari nakal Jan mula mencari biji kelentitnya. Ketemu sahaja suis syahwatnya. Terusdigentel lembut hingga Rita merengek kegelian sambilmengangkat punggungnya ke atas dan ke bawah. Sementaraitu kedua-dua tetek Rita sudah tegang menonjol bersama putingnya. Rita semakin tak tertahan bila dlm satumasa, putingnya digentel dan pantatnya diusap Jan.Rengekan berahi terus terkeluar dri bibir comel Rita. Melihatkan Rita sudah mula hanyut dibuai nafsu, Jan cuba menanggalkan panty Rita. Rita mengangkat punggungpejalnya utk memudahkan Jan menarik pantynya ke bawah.Kini lengkaplah pembogelan Rita dgn hanya kain ygberada di tubuhnya hanyalah tudung di kepalanya. Rita bangun dan menolak suaminya baring sebelum menindihJan sambil menyuakan pantatnya ke muka Jan danmenyembamkan mukanya ke celah peha Jan. Bermulalahacara menghisap batang dan menjilat pantat serentak.Lidah Jan dgn buas meneroka setiap inci pantat Rita manakala Rita pula dgn berselera sekali mengulumbatang Jan.

Setiap tarian lidah Jan menambahkankegelian dan keseronokan pd tubuh dan minda Rita ygmenghasilkan lebih banyak mazi. Pantat Rita kian becakhingga berdecap-decap bunyinya terkena lidah Jan. Rita mengepit kepala Jan dgn kuat di antara kedua celahpehanya kerana geli dan sedap yg teramat sangat.Posisi 69 yg memberikan keseronokan serentak itu mmgkegemaran Jan dan Rita. Tiba2 Rita melepaskan batangJan dri mulutnya lalu mengejang dan mendesah kuat"Ahhhhhhhhhssssssss....abbbannnnngggg ememmmmmnikmatttnyaaaa.......aahhhhhhhhsss" Jilatan yg dahsyatitu menewaskan Rita. Dia terduduk sementara sebelum rebah ke atas katil di sisi Jan "Abang, Rita nak doggy style." Pinta Rita sambilbangun dan membuat posisi doggy di atas katil mereka.Lan menelan air liurnya melihat punggung bulat Ritamenonggek ke arahnya. Rita berpaling ke belakang, sebelum lalu mengangkang sambil melentikkan punggungagar pantatnya yg lebar dan gebu itu kelihatantersepit antara kedua buah punggungnya.

Perlahan-lahanbatang Jan menusuk gagah ke dlm pantat Rita danbermulalah adegan sorong tarik. Sambil itu Jan meramas punggung dan tetek Rita bergilir-gilir. Rita semakinkuat mengerang "ooohhhh ahhhhhhhhhemmmmmm…emmmmm..ahhhhhh…laju lagi bangggg!!!" . Lanhampir shj terpacut oleh kemutan pantat Rita tetapihasil kerajinannya bersenam dan mengamalkan ubat-ubatan tradisional, rasa geli pd batangnyaberjaya dikawal. Dicabutnya keluar batangnya ygberlumuran lendir pantat Rita dan dibaringkannya Ritamenelentang. Rita senyum lagi. Dia tahu posisi asasmemantat pula akan berlaku selepas ini. Tanpa disuruh Rita mengangkang luas. Jan tidak terus masuk tetapimenggeselkan batangnya pd pantat Rita yg sudah menebalbibirnya dan timbul biji kelentitnya. "Abanggg masukkklahhh Rita tak tahan ni…." Rengek Ritasambil menarik-narik batang Jan. jan mengalah akhirnya dan batangnya kembali merodok pantat Rita.
Lan membuatpelbagai arah tusukan yg membuat Rita seakan mahumenjerit kesedapan."Baaangggg aaaahhhhh aaaaahhh ahhhh dalam lagisedapnya bang aaahhhhh!!!""Ritaaaa….pandainya sayang kemut abannggggg…ahhhhh aaahhhh…"keluhan berahi sepasang suami isteri itu terusmenghangatkan suasana. Amat kinky sekali bila seorgwanita bertelanjang bulat tetapi memakai tudung kepalasedang dihenjut suaminya. "Rita nampak cantik mlm ni." Puji Lan sambil menjilat permukaan tetek Rita sambilmeramas punggungnnya dan menusuk batangnya ke dlm."Ahaks, Rita mmg cantik sepanjang masa." Balas Ritanakal."Lebih cantik lagi kalau telanjang bertudung mcm sekarang, depan Abang!""Ermmm gatal!" Rita menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kekanan dik nikmat yg tak terhingga. Lubang pantatnyaterasa amat amat geli, gatal dan lazat akibat garuanbatang Jan di permukaan dlmnya. Jan mencabut batangnya dan menaikkan Rita ke atas badannya.
Posisi kali iniRita di atas. Giliran Rita pula menghenjut pula. Lanmenonton dgn bernafsu sekali Rita yg ayu bertudungsedang berbogel menindih pehanya. Dapat dilihatnyatetek Rita bergoyang mengikut rentak hayunan tubuhpemiliknya. Batang Jan pula kelihatan sekejap timbulsekejap tenggelam dlm lubang pantat Rita. Sesekaliriak muka Rita kelihatan spt mahu ketawa kerana gelibila bulu ari2 Jan yg lebat terkena bibir pantat dan biji kelentitnya yg menegang. Jan geram lalu meramastetek dan punggung Rita. Sorong tarik batang berjalanserentak dgn ramasan tetek membuatkan Rita tidaktertahan utk klimaks."Abangggg….Rita tak tahan nak cum ni…." "Tahan sikit sayang…lama lagi niii..""Abannngggggg……………!!!!""Ooohhhh…ahhhhhh…ahhhhh aahahahhasssssss." Setelah beberapa minit berdayung Jan akhirnyamemancutkan air maninya ke dlm pantat Rita."AAAAAaaahhhhhhh argghhhhssssssssss ooohhhh!!!" badan Rita mengejang apabila dia juga sampai ke kemuncaknyalalu terkulai lemah.
Air mani Rita terasa hangatkeluar mengalir dri lubang pantatnya bersama lelehanlebihan air mani suaminya.Terasa masih sedikit sisaair mani yg perlu dikeluarkan lalu dihalakannyabatangnya ke muka Rita. Rita yg tersenyum kepuasansegera melancapkan batang Lan dgn tangannya hinggatersembur lagi air mani ke mukanya dan bertempek pdkain tudungnya. Rita calit sedikit air mani di mukanya dgn jari dan merasanya kemudian menyapukan lebihannyake teteknya. Tidak terdaya lagi utk berbuat apa2setelah tenaga simpanan mereka utk beberapa hari laludiperah, keduanya tertidur. Rita sempat membukatudungnya sebelum itu dan mencium Jan sebagai ucapanterima kasih. Jan senyum dan memeluk tubuh Rita erattanda kepuasan.

ABANG DAN MIMI

Abang fikir apa tu?” Mimi tiba-tiba bertanya kepadaku. Aku tak sedar bila Mimi keluar dari biliknya.”Mana Amir? Dah tidur ke?”"Dah….sekejap aja dia dah tidur. Itu yang kadang-kadang tak tahan….” keluh Mimi.”Kenapa?” tanyaku.”Ye lah… dia menyusu sikit aja… sekejap-sekejap. t*t*k Mimi masih penuh susu tapi dia dah tak mahu… Sakit rasanya bila susu bengkak….” terang Mimi.Ada chan untuk mengena perangkap nampaknya…. “Abang tolong nak….. Dulu Kak Siti kau macam tu juga setiap kali selepas bersalin.Lepas Abang tolongkannya, dah No problem lepas tu” jawab ku.”Eh macamana..??

Kalau boleh Mimi nak juga Abang tolong” jawab Mimi manja.”Mari sini, duduk sebelah Abang…” aku menunjukkan tempat di sebelahku.Mimi pun bangun dan merapati ku dan duduk bersebelahanku di sofa panjangnya. Dia menoleh kepadaku. Aku pun meletakkan tanganku di atas bahunya dan berkata…”Abang tolong hisapkan susu yang baki tu supaya tak rasa sakit lagi, itu aja caranya…” terang ku.”Eish…. Abang ni nakallah” sambil menampar pehaku dengan manjanya. “Mana boleh macam tu….kalau Abang Salim tahu, mampus Mimi kena sembelih…”"Kalau tak beritahu, mana Abang Salim akan tahu…. Kak Siti kau pun bukannya ada” terang ku sambil jariku memicit-micit bahu Mimi. “Dulu Kak Siti pun Abang buat macam tu” terang ku padanya.”Eh, malulah…”

Mimi melekapkan mukanya ke dadaku. “Eh ini petanda baik ni…” fikirku.Aku mula memicit belakang bahu Mimi dan aku dapati Mimi tidak memakai bra di bawah T-shirtnya. Tanganku mula meraba belakang Mimi dan sesekali mencuit tepi t*t*k Mimi. Terasa Mimi mengeraskan badannya menahan geli.Tiba-tiba Mimi mengangkat mukanya dan berkata “Okay kita try, kalau teknik abang boleh menolong…. Mimi tak tahan sakit ni….” Jelasnya.”Kat dalam bilik lah abang, malu sebab terang sangat kat sini,” kata Mimi.

Kami pun bangun dan menghala ke bilik tidurnya. Pertama kali aku memasuki biliknya, cantik dan kemas. Aku ternampak Amir tidur dalam kotnya.Cahaya dari ruang tamu sahaja yang menerangi bilik tersebut. Aku pun membaringkan Mimi di atas katil beralaskan dua biji bantal supaya tinggi sedikit. Aku duduk disebelahnya dan tiba-tiba Mimi memegang tangan ku dan dia membawa tanganku ke dalam T-shirtnya.

Aku merasa kulitnya yang gebu dan aku mula meraba. Aku rasa panas.Kemudian aku ramas bertalu-talu t*t*k Mimi itu dan dapat merasakan ada air susu yang mengalir dari putingnya. Aku baru nak menyelak T-shirt Mimi tapi Mimi segera bangun dan menanggalkannya.”Senang,” jelasnya.Maka tersembullah dua gunung idamanku selama ini. Jariku mula menyukat nyukat di serata pelusuk t*t*k Mimi. Ternyata t*t*k Mimi memang besar seperti yang selalu aku lihat dan cukup istimewa untuk merangsang nafsu lelaki. Tanganku mengusap-usap teteknya dan puting teteknya ku gentel. Aku angkat kepala ku untuk menyonyot teteknya.

Terasa air panas memancut ke dalam mulutku dan aku terus telan. Aku dah biasa menghisap air susu t*t*k isteriku dan rasanya sama sahaja, panas, masam sikit dan sedap. Aku menyonyot sebelah sambil mengusap-usap yang sebelah lagi. Puas menyonyot sebelah hingga kering, aku beraleh kepada t*t*k yang sebelah lagi sambil menggentel puting yang tadi. Puas menggentel aku mengusap pula. Teteknya menjadi tegang.Mulut Mimi hanya mendengus, “Us us us us us” sepanjang perlakuan ku. Walaupun teteknya besar, tapi susunya tidaklah banyak seperti yang Mimi adukan padaku. Sehingga kering kedua-dua belah teteknya, Mimi masih mengelus kesedapan dan memegang kepalaku ke teteknya sambil menarik tangan ku ke teteknya yang sebelah lagi.Sekali-sekala aku dengar Mimi menarik nafas panjang.

Bunyi nafasnya juga bertambah kuat. Nafas ku juga begitu. Aku pun mula memberanikan diri lalu melonggarkan kain batik Mimi. Mimi tidak menghalang, dia hanya mendengus kesedapan. Tangan ku mula menjalar masuk, melalui getah seluar dalamnya dan merasa tundun cipapnya yang tembam dan menerokai persekitaran cipapnya yang berbulu itu. Perlahan lahan ku usapi bulu cipap Mimi yang halus dan jarang itu. Kemudian aku memanjangkan usapan untuk mencapai juntaian kelentit Mimi. Aku rasa sedap, kelentit Mimi lebih panjang dan keras dari Siti. Sambil itu jari hantu ku meraba masuk ke dalam lubang pukinya. Ternyata ianya sudah berlendir dan basah.”Arrgh…argh…Abang… jangan……. Oh..oh.. sedapnyer….” Mimi merengek….Jari aku masih lagi membuat pergerakan turun naik dengan lembut di cipap Mimi.

Aku rasa seluar dalam Mimi telah basah di kawasan alur kemaluannya.. Kemudian aku menekan-nekan ke dalam alur cipapnya dengan jariku. Mimi menikmati rasa ghairah yang amat sangat. Semakin lama semakin tidak tertahan Mimi aku buatnya. Kain Mimi aku longgarkan dan kemudian aku lucutkan dan diikuti dengan seluar dalamnya yang berwarna pink itu aku lucutkan.Mata Mimi aku lihat terpejam sambil bibirnya yang munggil itu merengek kesedapan. Aku mengalih mulutku dari t*t*k Mimi dan aku lihat Mimi membukakan matanya seperti tertanya-tanya. Aku merapatkan bibir ku ke bibir Mimi dan mula mengucupnya sekuat hatiku. Mula-mula Mimi menarik bibirnya tapi aku kuatkan diri dan mula menjolok mulut Mimi dengan lidahku. Mimi akhirnya mengalah dan mula melawan lidahku sambil mengucup bibirku dengan rakusnya. Tak sangka gadis yang comel lote dari Kelantan ini berahi juga nafsu seksnya.

Tangan aku mula menguak dan mengangkangkan kedua peha Mimi yang gebu itu sambil masih memainkan kelentitnya yang keras. Aku hairan kenapa tiada halangan dari Mimi tapi itu juga memberikan aku keberanian untuk bertindak seterusnya. Aku mula mengucup Mimi dari bibir, berhenti seketika di kedua teteknya dan terus menghala ke tundunya yang tembam itu.Aku menjilat tundunnya dan menciumi seluruh cipap Mimi di bibir luar sehinggalah menggunakan lidahku untuk menerokai lurah dan lubang cipap Mimi yang wangi itu. Dada aku begitu kencang berkocak bila melihat seluruh tubuh Mimi yang putih gebu melepak. Aku mengangkat kedua lutut Mimi ke atas dan mengangkangkannya. Aku sembamkan semula muka aku ke cipap Mimi yang tembam tu…. Mula-mula aku jilat kat tundun… Lepas tu turun sikit sampai ke lurah pantatnya. Bila aku jilat aja bibir lurah tu, secara automatik punggung Mimi terangkat dan mengerang kesedapan “Arghhh arghhh arghhhhh….!!!”.Aku kemudiannya bukak bibir p*nt*t Mimi dan aku jilat dengan rakusnya…”Urghh uurghhhh….!! ……. Sedapnyaaa Abangggg” antara keluar dengan tidak sahaja ayat tu dari mulut Mimi.

Aku masokkan lidah aku dalam lubang p*nt*t Mimi dan aku kisar dekat dalam… Air yang keluar bukan mainlah banyaknyer. Walau pun rasa payau-payau sikit tapi aku hirup kering… Memang sedap dan memberangsangkan dan ditambah gerangan yang keluar dari mulut Mimi.”Arrkkkkkkkk!!” tetiba Mimi menjerit kecil bila aku gigit biji kelentit dia. Aku jilat aku gigit… Aku jilat aku gigit… Butuh aku dah membasahkan cadar katil dengan air mani.”Abang….. please f*ck me… Mimi dah tak tahan ni” pinta Mimi.Aku terus menjilat p*nt*t Mimi. Aku rasa aku belum puas lagi. Memang menjilat ni favourite aku cuma kadang-kadang sahaja Siti berikan kerana dia tak tahan geli.Selagi aku tak puas aku tak berenti menjilat.”Abang…. Abang… pleasseeee f*ck me… plzzz f*ck me Abang..

Mimi tak boleh bertahan lagi niiii” kata Mimi dengan begitu manja.Sekali lagi rasa ghairah yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata menjalar di seluruh tubuhku.Permainan jilat menjilat ini agak lama, dan Mimi puas mendesus dan menegang kerana mencapai klimaks tapi aku tetap meneruskannya. Mimi tidak banyak menjerit, hanya mengeliat dan mengerang kesedapan sahaja kerana mungkin bimbang Amir akan terjaga dan adengan ranjang ini terpaksa diberhentikan. Aku merenggangkan kepala dan lidahku dari kemaluan Mimi dan membetulkan adikku di celah kedua belah peha Mimi di mulut pantatnya. Sekali lagi kami bercium dan memberikan Mimi harum bau cipapnya. Mimi memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Sedap dan nikmat aku rasakan. Aku pun bangun melutut. b***ng butuh aku yang begitu menegang aku geselkan pada biji kelentit Mimi.”Oohhhhhh….!!! Masukkan Abang…. now plzzz” teriak Mimi.Aku mula menikamkan b***ng adikku yang keras dan besar ke sana sini, mencari lubang nikmat Mimi.Kepala z*kar ku masuk betul-betul pada sasarannya. Secara perlahan-lahan bibir cipap Mimi aku kuakkan dengan kepala zakarku.

Terasa sempit sekali walaupun Mimi baru sahaja melahirkan anak melaluinya. Penjagaan tradisional yang diamalkan olehnya nyata berkesan untuk memulihkan lubang cipapnya kembali sempit seperti anak dara. Air pelicin Mimi membasahi kemaluanku namun begitu ketat kurasakan…dan itulah kenikmatan yang aku inginkan. Lain dengan Siti, setelah melahirkan anak yang kedua, lubang cipap Siti masih sedap tapi sedikit longgar. “Zzupppp……!!!” dengan sekali henjut sahaja b***ng z*kar aku dah separuh masok.”Oohhhh……!!!” kedengaran dari suara Mimi menggeluh.Zakarku semakin jauh menerokai lubang cipap Mimi dan akhirnya pangkal kemaluan kami bertaup rapat…terasa zakarku telah suntuk dengan rapat sekali. “Sedapnyer Abang….. Besar sungguh adik Abang…..… Kena slow-slow sikit eh…” kata Mimi.”Okay, Abang buat perlahan-lahan” jawab aku.…Mimi membuka kangkangnya dengan lebih luas dan aku mula sorong tarik sampai santak ke bibir p*nt*t Mimi. Aku meniarap atas badan Mimi tapi disokong dengan kedua-dua siku aku agar tak terlalu membebankan Mimi.

Aku mula sorong tarik b***ng aku ke dalam dan keluar. “Abang…… adik Abang ni besar dan panjang lah…… Tak macam Abang Salim punya” tiba-tiba Mimi berbisik kat telinga aku.Aku hanya tersenyum sahaja. Punggung aku masih lagi menggepam. Kali ni lebih laju sikit sebab aku rasa ada kelicinan pada lubang p*nt*t Mimi. Mungkin air dia dah banyak keluar agaknya sebab aku rasa bulu-bulu di z*kar aku dah basah berlendir-lendir dan melekit-lekit.Dah puas cara meniarap, aku pusingkan Mimi buat cara doggy pulak. Mimi tidak membantah. Dia angkat punggung menaik tinggi sikit. Aku sendiri heran macam mana geram aku boleh melebih bila main dengan Mimi ini. Sedangkan dengan bini aku pon aku tak jilat lubang jubur dia. Mungkin disebabkan keputihan kulit Mimi berbanding bini aku yg menyebabkan berahi aku menggila. Ahhh….!!! tak kisah lah tu semua. Janji aku dapat lepaskan geram aku tuh…Aku pun masokkan b***ng aku ke p*nt*t Mimi dari belakang.

Fuhhhh….!!! Lagi ketat rupanya main ikut belakang niii. Namun aku dapat juga masukkan seluruh b***ng dalam p*nt*t Mimi. Aku tak pernah buat doggy style dengan isteri aku kerana dia suka dari hadapan. Buat begini rasa macam bergigi-gigi dinding p*nt*t Mimi. Itu yg menambahkan rasa ngilu lagi kepala butuh aku.”Aaahhhh aaahhhhh….!!! Sedap Abang… Masukkan lagi Abangggg… Masukkan sedalam yang abang boleh…” pinta Mimi. Ermmm….!! Nampaknya dia dah boleh tahan dengan kebesaran b***ng z*kar aku ni. Aku pun hayun dengan lebih laju lagi sampai berbunyi cuppp cuppp cuppp….!!! Peha aku belaga dengan punggung Mimi… Aku tengok Mimi meramas t*t*k kanannya… Semakin membengkaklah t*t*k tu dan dah mula mengeluarkan susu semula….Kemudian kami bertukar posisi. Aku menelentang pulak dan Mimi naik di atas aku.

Mimi pegang b***ng aku dengan tangan kiri dia memasukkan dalam lubang p*nt*t dia. Diturunkan punggungnya perlahan-lahan sehingga tenggelam keseluruhan b***ng sakti aku. Kini tiba pulak giliran aku untuk berehat dan Mimi pula yang memainkan peranan sebagai juragan melayari bahtera.Aku rasa macam nak terpancut bila Mimi menggelekkan bontotnya. Cepat-cepat aku tahan peha dia.Mimi ketawa kecil. “Kenapa Abang… Geli sangat ke?” Mimi bertanya.”A’ah… Abang takut terpancutlah… Abang tak puas lagi ni… Mimi jangan hayun laju sangat laa” kata aku.Mimi tersenyum manja sambil aku meramas dan menggentil puting t*t*k, Mimi terus memainkan peranan dia. Kali ni dia menolak kedepan dan kebelakang kemudian menghenjut ke atas dan ke bawah. Cipap dia semakin berlendir kerana banyak sangat menggeluarkan air. Entah berapa kali dia capai climax aku pun tak tau lah….

Kami bertukar posisi semula selepas Mimi mencapai klimaksnya yang entah ke berapa. Dia penat dan mahu bertukar posisi. Kali ini aku di atas dan mulakan semula menyorong tarik b***ng ku. Hampir 20 minit aku menyorong tarik b***ng aku di dalam kemaluannya dan tiba masanya aku hendak pancutkan air mani aku.Tiba-tiba Mimi mengerang dan aku rasa badan Mimi mengejang sekali lagi. Kali ini nafasnya juga kencang dan kepala nya bergoyang ke kiri-kanan. Aku tahu Mimi dah tak tahan. Tapi aku terus menyorong tarik butuh aku dalam cipap Mimi. Mimi semakin macam teransang. Puki Mimi semakin becak dan melengas. Mata Mimi pejam rapat dan mukanya berkerut seperti menahan suatu keperitan. Suaranya melongoh. Pelukannya keras. Nafas Mimi semakin kencang. Sah Mimi dah sampai puncaknya dan mulut Mimi yang kecil itu ternganga terutama bila aku tarik batangku keluar.

Teteknya ku ramas dan ulit dan putingnya aku gentel. Tangan kiri ku turun ke bawah danmenggentel kelentitnya. Dia merengek keras…!! “Ummnnnghhh..!! …….. ” Mimi melenguhh.Aku percepatkan henjutan ku. Memang waktu itu ku rasa kesedapan yang terhingga.Ku tanya Mimi, “Sedapppp…??”Dia tidak menjawab, cuma mengeluh, melongoh umpama menyatakan…”Yaaaa…!!”.Henjutan ku semakin hebat. Seluruh tubuh Mimi aku peluk kuat……sambil kakinya memeluk kuat badan aku. Kemudian tiba-tiba dia menggelepar seperti ayam liar dipegang…!! Aku tahu dia sedang mencapai klimaksnya. Aku masih bertahan, walaupun cuma sedikit lagi. Secara tiba desakan air mani ku hampir bersemburan.Tambahan pula Mimi menggeliat dan punggungnya bergoyang ke kiri ke kanan. Kami saling berpautan. Waktu itu aku henjut dan tusuk seluruh b***ng aku habis, berdecit-decit pukinya. Lendirnya banyak dan seluruh tenaga ku merangkul tubuh Mimi. Aku terus tekan dan tekan dalam-dalam. Air mani ku pun rasa nak memancut. Aku terus menghenjut. Aku pun dah tak tahan juga. Aku pun memancut semua air mani aku ke dalam cipapnya. Dia hanya berdesis kesedapan apabila air mani aku bertakung didalam kemaluannya. Aku menghembuskan nafas kelegaan.Kami sama-sama mencapai klimaks. Kami sungguh-sungguh merasa nikmat.

Tubuh Mimi masih belum aku lepaskan. b***ng ku masih terbenam dan aku rasa dalam saluran kemaluan ku mengalir air mani. Aku biarkan. Mulut kami berkucupan. Sesekali aku ramas t*t*k Mimi. Kemudian aku menjongkok dan menghisap puting teteknya. Sementara itu aku terus menghenjut b***ng ku keluar masuk, walaupun semakin lemah. Bila aku tarik, Mimi melenguh. Kemudian aku tusuk semula. Aku tengok Mimi tergapai-gapai. Aku peluk dia kemas-kemas. “Mimi puas?” aku tanya.Dia menganggguk.”Sedap?” tanya ku.Dia senyum.Bibirnya merah kena sedutan kucupan ku. Makin nampak kejelitaan Mimi. Kami masih bersatu tubuh dan batangku masih di dalam faraj Mimi. Aku rasa b***ng ku sudah makin lemah. Perlahan-lahan aku cabut. Aku tengok air mani ku mengalir keluar dari celah lubang cipapnya. Aku menggentelkankan puting t*t*k Mimi semula.”Dah hilang sakit tadi?” aku bertanya.”Sekarang hilang…… tapi nanti sakit semula….” jawab Mimi manja.Kami tersenyum.

Aku biarkan Mimi baring tanpa seurat benang dan kami berdua telanjang ibarat suami isteri yang baru lepas bercengkerama. Kami berpelukan sambil memain-mainkan putting t*t*k Mimi, aku yang kiri dan Mimi menggentelkan yang kanan.Dalam berdakapan itu, aku bisikan, “Mimi betul puas?” Mimi menjawab, “Mhhhh…Anu abang besar, masakan tak puas….”Kami pun terlelap…..Kami dikejutkan oleh suara Amir menangis. Mimi bergegas bangun, berkemban dengan kain batiknya dan mengangkat Amir. Jam di dinding menunjukkan jam 12.00 tengahari. Aku segera bangun dan memakai kain pelikat dan T-shirt ku. Aku keluar bilik dan melihat Mimi sedang menyusukan Amir. Kain batiknya dilondehkan dan kedua-dua teteknya tersembul megah, satu puting dalam mulut Amir dan yang satu terdedah.

Putingnya keras dan panjang seinci, mungkin kerana seronok aku memerhatikan atau mungkin seronok setelah apa yang baru dilakukan. Aku duduk disebelah Mimi dan mula menggentelkan puting teteknya. Mimi memandangku dan tersenyum sambil mengelus kesedapan.”Abang nyonyot yang sebelah sini, boleh?” tanyaku mengusik. “Abang haus ni….”"Janganlah bang, tengok Amir ni tak cukup susu sebab habis dah abang hisap tadi…. Tak sempat buat susu baru….. Tapi nanti kalau ada lebih, Mimi panggil Abang, okay….” sambung Mimi dengan manja.”Tak apa…. Abang bergurau aja….” jawab ku. “Mimi nak makan apa, Abang nak keluar cari makan sekejap…Abang belikan…” tanya ku.”Kalau nak ikutkan hati nak makan hot-dog Abang…… tapi tak ada tenaga pulak nanti… Abang cari nasi pun bolehlah…..”"Okay, Abang balik dulu…” aku mengucup dahi Mimi sambil memicit puting teteknya sekali lagi.

Geram betul aku di buatnya melihatkan Mimi separuh bogel di ruang tamunya itu.Aku pun bangun dan pulang ke rumahku melalui pintu belakang. Plan aku dah mengena. Nasib baik badan dapatlah aku melapah tubuh monggel Mimi untuk seminggu. Isteriku tak ada dan suaminya

NEBRASKA IS BORING

I was sitting outside on the patio feeling depressed 
and lonely. I was twelve-years-old and had just moved 
with my family from Seattle down to Nebraska. We were 
out in some farming community in the middle of nowhere 
with a population of about a hundred. It was too hot, 
too dry and too boring. We'd only been here two days 
and I was already desperate to leave. If I were stuck 
here too much longer, I'd probably explode.

As I sat there looking out at the world a girl rode by 
on her bicycle. She looked at me as she passed and then 
turned around She rode back my way and stopped in front 
of my house, sitting there on her bike and looking at 
me.

After a couple moments of silence I said, "What?"

"Aren't you supposed to say hello when you meet someone 
new?" she asked.

"You're the one who rode up to me. Aren't you supposed 
to say hello first?"

The girl shrugged. "Maybe." She scooted forward with 
the bike and held out her hand. "I'm Kylie."

"I'm Vincent," I said, shaking hands with her. I looked 
her over as I did so. She was pretty cute. Not great, 
but cute. I'd only just recently discovered 
masturbation and started getting interested in girls, 
but I was still a total virgin.

"Cool. You just moved here?"

"Yeah."

"Cool. You got a bike?"

"Yeah."

"Go get it. We can go for a ride together."

"Ok. Be right back."

I went into the garage and got out my bike. I rode over 
to Kylie. "Ok, I'm ready."

"Good. Follow me." She started pedaling. I followed 
after her.

"So where we gonna go?"

"I thought I'd kind of show you around," she replied.

"Ok."

We rode around talking with each other as she showed me 
places. I learned that she was twelve, just like me, 
and was going to the same school I'd be attending in a 
couple weeks. She was really smart and really nice, 
which was cool. I wondered if she had a boyfriend.

Finally we came to a stop at a 7-11. She went in and 
bought a couple candy bars, coming out and giving me 
one of them.

"Thanks," I said, tearing into it. I hadn't had 
chocolate in a while.

"You're welcome," Kylie said.

"So what all do you do for fun around here? I haven't 
seen that many kids our age."

"There aren't that many. Most everyone seems to be 
older or younger. There used to be a couple boys who 
lived in your place, but they moved away, of course."

"What did you guys do for fun?"

"Lots of things," she said with a little shrug. "We 
watched movies, rode our bikes, played video games, 
fucked, went swimming, went out fishing, stuff like 
that."

I nodded and then sopped, feeling puzzled. "Wait. 
You... you guys... fucked?" I blushed a little saying 
the word in front of a girl.

"Yeah."

"Like... actually for real?"

"Yes. Actually for real."

"Like really for real?" I asked, still stunned.

Kylie rolled her eyes. "Are you always this stupid? 
Yes, really for real. Like they had their dicks in my 
pussy."

"Oh," I said weakly, my penis stiffening up. I leaned 
forward a little to hide it.

Kylie shrugged again. "It's not like it's a big deal. 
There's not much to do out here, like I said."

"Yeah, but... sex?"

"It's fun," she said simply and then looked over at me. 
"What, haven't you done it before?"

"No, I haven't," I said, feeling a little 
uncomfortable.

"Oh."

"How old were they?"

"Ross was thirteen and Brian was fifteen."

"Wow."

"Yeah."

We kept riding, and I really wanted to ask her more 
about having sex, but she started talking about 
something else. By the time we were done talking and 
riding it was dark. We went back to my house and stood 
there near the porch saying goodnight.

"I had fun riding around today," I said to her.

"Me, too. I'll see you tomorrow!"

"Bye," I said, watching as she rode off.

I went back into the house after parking my bike in the 
garage. I had to sit down and talk with my parents 
about my day and theirs. They were happy that I'd made 
a new friend. I was happy, too, and promptly jetted 
upstairs where I jerked off three times before I fell 
asleep, each time thinking about Kylie being fucked.


* * *


I was awakened at a little after nine to the sound of 
someone knocking at my window. I pulled open the 
curtain a touch and saw Kylie standing there. She waved 
at me and said, "Open the window!"

Still under the blanket I opened up the window. Kylie 
then surprised me by pushing it all the way open and 
crawling inside, flopping down onto my bed. I pulled 
the blanket up a little more, acutely aware of the fact 
that I was naked under it.

"You got your bed the same place Ross had his."

"I do?"

"Yeah. I used to sneak in through his window at night 
sometimes and we'd fuck."

"Oh," I said weakly.

"Yep." She stood up and looked around. "Your stuff is 
nicer than his, though."

"Thanks."

"So anyhow... you wanna go out riding again?"

"Sure. You mean now?"

"Yeah."

"Ok."

"Cool."

Kylie just stood there. Finally I said, "Uh... I need 
to get dressed."

"And?"

"And... I'm naked right now?"

"So?"

"So... maybe you should leave the room so I can get 
some clothes on?"

"Why?"

"Because I'm naked?" I was experiencing an odd sense of 
deja vu.

"It's not like I haven't seen naked boys before," Kylie 
said.

"Yeah, but..." I trailed off helplessly.

Kylie said, "Will it help you if I let you see me 
naked?"

"What?" I asked after a few seconds.

Kylie started undressing before my startled eyes. She 
tossed her shirt aside, pulled off her shorts and then 
removed her bra and panties as was now standing naked 
in my bedroom. She looked really, really hot. Her 
breasts were just starting to grow and she didn't have 
any hair between her legs yet. I knew girls grew some, 
though, from pics I'd seen before. All I could see with 
Kylie was a small slit. If I hadn't already been rock-
hard, this would have done it.

"See? No big deal."

"Right," I said, clearing my throat.

"So?"

"I've just never been naked in front of a girl before," 
I managed to say.

"Oh, it's no big deal." Kylie marched over and before I 
could stop her, she quickly grabbed hold of the blanket 
and yanked it off me, leaving my naked body exposed.

I squawked and covered my penis with my hands. "Hey!"

"Oh, no, no," Kylie said, sitting on my legs and 
grabbing at my hands. "Come on, let me see it!"

"No!"

"Why not?"

"Because!"

"If you let me see your dick, I'll let you stick it in 
my pussy."

I blinked. "What?"

This distraction caused my hands to relax just enough 
for Kylie to pull them apart, exposing my very hard, 
still hairless, penis.

"There, see? That's not so bad." She looked down at it. 
"Pretty nice, too."

"Thanks," I mumbled, feeling myself blush.

Kylie took my penis in her hand and started stroking 
it, moving almost exactly like how I did when I 
masturbated. "Real nice."

"Ah... thank you..." I whispered, the pleasure flooding 
through my body.

"You're really still a virgin?"

"Yeah..." I was afraid to move, not knowing what she 
had planned, but desperately hoping.

Kylie scooted forward a little bit. She lifted herself 
up and I felt the tip of my erection brush against 
something. Then she lowered herself down and I watched, 
eyes wide, as Kylie's hairless twelve-year-old vagina 
slid slowly down around my hard twelve-year-old virgin 
penis.

"There," she said in a quiet tone as she settled 
herself down over me. "Now you're not a virgin 
anymore."

"Oh, god..." I could barely think. My mind was totally 
overwhelmed.

"What do you think?" Kylie asked, raising herself up a 
little and then lowering back down.

"It's incredible," I whispered. I couldn't believe I 
was doing this. I was actually getting laid! I could 
feel the warm, wet, wonderful textured tightness of 
Kylie's vagina caressing my young penis as she moved up 
and down on me. It was the most wonderful thing I'd 
ever experienced.

"God, I needed this," Kylie whispered. "I haven't been 
laid since Ross and Brian moved away..."

"Glad I could help..." I mumbled, lost in pleasure.

Kylie began grinding her pelvis against me and I 
started almost instinctively thrusting up into her, 
savoring the sensation of her vagina around my penis. I 
knew sex would be wonderful, every boy knows that, but 
I had no idea how wonderful.

Just as I was starting to near my orgasm, Kylie stopped 
moving and looked down at me, a fine sheen of sweat on 
her naked body.

"You wanna try being on top for a bit?"

"Uh... ok, sure."

Kylie got off me, a little bit of cold hitting my penis 
as it left her warm vagina. She lay down on my bed next 
to me, gave me a kiss on the cheek and spread her legs 
wide. "Get between my legs and see if you can get it 
in."

"Ok."

I got on top of Kylie, looking down at her vagina. I 
saw what looked like a small opening and pushed myself 
against it, feeling a surge of pleasure and victory as 
my penis was almost sucked back into her slit. I 
lowered myself down onto Kylie's naked body, feeling 
her breasts against my chest.

"Good," she whispered. "Very good..." I felt her hands 
settle on my bare butt. "Now start moving, but be 
careful not to slip out."

"Alright," I whispered in return and started fucking 
slowly. It was really hard at first. I had no idea what 
the hell I was doing. But I just kept doing what felt 
good and it seemed to be working. I tried to keep 
myself as deep inside her as I could, making sure I 
wasn't going to slip out.

"Wonderful, Vincent... you're doing so good... it feels 
so good..." Kylie whispered, holding tight onto my ass 
as we fucked.

I had buried my face in Kylie's shoulder and was 
quickly losing control of my body. I started making 
short, sharp, rabbit-like thrusts into her, plunging my 
young erection in and out and in and out of her liquid 
warmth. Then my whole body started shaking as the 
orgasm took hold, and my penis started pulsing inside 
her vagina, my sperm shooting into her waiting body.

My thrusts began to slow, and eventually stopped 
entirely. I continued to lay there on top of Kylie, 
breathing hard, my mind swimming with what I'd just 
done. My penis was still hard and still inside her 
vagina, and I never, ever wanted to take it out of her.

Kylie ran a hand through my hair. "You did really 
good."

"Thanks," I said, a little weakly.

"Let me sit up."

Saddened at having to pull out of Kylie, I got off her, 
watching my penis slide out from inside her vagina. It 
was covered with a film of wetness, but otherwise 
didn't look any different from how it did yesterday. I 
was kind of disappointed. It didn't seem right that it 
should look the same after I just got laid.

"Is anyone else home?" Kylie asked, sitting up.

"No."

"Where's your bathroom?"

"Across the hall."

"Ok. Be right back." She got off my bed and walked out 
into the hall, still naked.

For my part I laid back on the bed, feeling very happy. 
I was only twelve and I'd just fucked my first girl! 
All my friends back in Seattle would be soooo jealous! 
I began idly masturbating while I remembered how 
fantastic her vagina had been.

"Ha. Typical boy," Kylie said, walking back into the 
room. I started and almost covered up, but then I 
thought why bother?

"What do you mean?" I asked, continuing to masturbate 
while I looked at her body.

"You just got laid and already you're horny again."

"Yeah, well," I mumbled, blushing a little. "Can we do 
it again?" I asked a little shyly.

Kylie laughed. "Typical boy!" she said again. "Not 
right now. Right now, we're going to go for a bike 
ride."

"Oh." I was disappointed. "But we can do it again 
sometime, right?" I persisted.

"Of course."

"Good."

"Now get dressed," Kylie said, putting her own clothes 
on.

Fifteen minutes later, after we'd each had a bowl of 
cereal, we were on our bikes, riding along the narrow 
street and talking to each other. It was weird. I'd 
just gotten laid. I'd lost my virginity to this cute 
girl. But we weren't talking about sex or anything. We 
were just talking about... stuff. Our favorite music 
and video games, what kind of foods we liked, etcetera. 
It was nice and relaxing.

Soon we rounded a small hill and came across a little 
patch of trees around a small pond. Kylie slowed her 
bike and then stopped, getting off it. I followed suit.

"What's this place?"

"A pond."

I rolled my eyes. "I know THAT. Does it have a name or 
anything?"

"Not really. It's just a nice place to swim."

"Oh, ok."

Kylie started undressing and once she was naked waded 
out into the water. "Come on, Vincent! It's really nice 
in here!"

"Naked?" I asked, doubtfully.

Kylie gave me a look. "You just fucked me about an hour 
ago. What are you worried about?"

"Good point." Still feeling a little shy I worked my 
way out of my clothes and, forcing myself not to cover 
my erection, joined Kylie in the water.

"This is cool," I said, paddling around a little. "I've 
never gone skinny-dipping before."

"Nice, huh?"

"Yeah."

The two of us splashed around for a little bit. I don't 
know how long, but it was fun. After a while, though, 
Kylie seemed to tire of it. She got out of the water 
and pulled out a small blanket that she laid down on 
the ground, spreading it out.

I got out of the water and joined her as she lay down. 
We both relaxed and lay there enjoying the sun on our 
naked bodies.

"This is nice," I said.

"Yeah. You wanna fuck again?"

I blinked at how abrupt she was. "Uh... sure!"

"Cool." She got up on all fours and said, "Let's do it 
doggie-style."

I got up on my knees, dimly aware how this was supposed 
to work. I moved in behind her and looked around, still 
not entirely sure what I was supposed to do.

Kylie reached back and pulled her buttocks apart. "See 
the spot?" she said, touching it with her finger.

"Ok."

I moved close, the tip of my penis brushing against the 
hole. I pushed and felt myself slide into her vagina. 
It took some effort to steady myself, but soon I was 
thrusting slowly, enjoying the feelings not only around 
my penis but also of her body smacking against my hips 
as we fucked.

"Am I doing it right?" I asked.

"Oh, yes..."

"Good..."

I closed my eyes, feeling myself entirely at peace. I 
could hear the hum of insects, and the chirp of birds. 
The sun was shining on my naked body, my penis was in a 
happy place and I was very content. It was the most 
perfect moment in my entire life. Nebraska was boring 
as hell, but obviously it had some good points.

"This is really nice," Kylie said quietly.

"Yeah..." I gasped.

"Are you gonna cum real quick?"

"Uh..." I stopped thrusting and simply held myself 
against her, penis as deep as I could get it. "Maybe. 
Why?"

"I want you on top again."

"Oh, ok."

Kylie moved forward and I slid out of her. She rolled 
onto her back and I got on top, this time not even 
needing to look as I pushed my penis back into her 
vagina. I began fucking her slowly again, looking into 
her eyes as I did so.

"You look... really beautiful..." I whispered.

"You, too."

"I love doing this..."

Kylie grinned. "Of course you do. All boys do."

"Yeah..." I smiled at her. "Can I kiss you?"

"Sure."

I moved my mouth down, stopping with my thrusts as I 
kissed Kylie for the first time. It was very sweet and 
nice. Eventually I felt her mouth open and her tongue 
pushing against mine. So this was French kissing, I 
thought as I started screwing her again.

Soon enough I neared my orgasm. It wasn't a big deal, 
really, when I came. I mean, it felt really great to 
cum inside a girl again, and it was very cool feeling 
my sperm shooting into her, but it wasn't that 
important somehow. Just the act of having sex with her 
was more meaningful. Like it was the journey that 
mattered and not the destination.

When I was done cumming I pulled out and we lay next to 
each other holding hands. It was another wonderful, 
sweet moment in a whole day of wonderful, sweet 
moments. I couldn't ever remember being happier than I 
was now.

"That was a lot of fun, Kylie," I said to her, giving 
her a little kiss.

"Thanks," she said, kissing me back. "I liked it to."

"So... does this mean we're boyfriend and girlfriend 
now?"

Kylie shook her head. "I don't think so. I mean, I had 
sex with Ross and Brian all the time and I never 
thought of myself as their girlfriend. We're just 
friends who have sex, you know?"

I nodded. "Ok. I can live with that."

"I bet."

"What does it feel like for you?"

"Having you inside me?"

"Yeah."

Kylie looked thoughtful for a bit. "Well... it feels 
really nice, is all I can say, really. I mean, I like 
feeling a boy's body on top of me. You know, just 
having our skin touching all over?" I nodded in 
response, having already noticed that myself. "But when 
your penis is inside me... I don't know if I can 
describe it, but it feels wonderful having a boy in me 
like that."

"Oh."

"What's it feel like for you, Vincent?" Kylie asked, 
turning onto her side to look at me.

"Very warm and wet and tight around my penis. Just... 
really great," I said with a little grin. "I can't 
imagine anything feeling better."

"Huh... I wish I could turn into a boy and see what 
it's like."

"I wish I could turn into a girl to see what it's 
like."

In an ideal world, we would have both suddenly switched 
bodies. But we lived in reality, so nothing happened.

"You wanna fuck again?" Kylie asked me after a bit.

"Ok."

Over the next couple hours Kylie and I had sex three 
times. That made five times total, I thought to myself 
as I rode my bike home with her. I wondered if I'd ever 
lose count. On the one hand, I hoped not because I 
desperately wanted to know how many times we were Doing 
It. On the other hand, I knew that if I lost count it 
would be because we'd Done It like a thousand times and 
THAT would be sweet!

When we got back to my place it was getting pretty late 
in the afternoon. I got off my bike and walked it up to 
the front door, Kylie trailing behind.

"I had a really good time today," I said, feeling a 
little shy.

"Me, too."

"You wanna meet up again tomorrow?" I asked, hopefully.

Kylie snorted. "What do you think?"

"Uh... yes?"

"Right."

"Good," I said, grinning.

Kylie gave me a very tender hug and a kiss on the cheek 
and then rode off. I walked into the garage, parked my 
bike and spent the rest of the day with a really stupid 
grin plastered across my happy young face.


* * *


Most of the rest of the week passed in kind of a happy, 
sexual blur for me. Every morning I'd wake up to Kylie 
knocking on the window, I'd let her in, we'd fuck in my 
bed, eat breakfast, fuck again, go to the pond, swim, 
fuck, eat something, fuck, ride our bikes for a little, 
fuck and then I'd go home. I quickly lost track of how 
many times we'd had sex, and was very pleased to do so.

And of course I made sure to send emails back to all my 
friends in Seattle, bragging about all the sex I was 
having. I don't know if they really believed me or not, 
but that was ok.

One night my parents had let Kylie join us for dinner. 
They really liked her, which was nice. We'd even gone 
up to my bedroom after dinner. My parents made us keep 
the door open, but we still had a very quick fuck while 
they were watching TV.

Life was incredibly sweet for me right now!

Late one Sunday night I was sleeping and heard a faint 
tapping on my window. I woke up and looked at the 
clock. It was just before midnight. I opened the 
window. Kylie was standing there with a sad smile on 
her face.

I opened the window up. "What are you doing here?" I 
hissed.

"I got into a fight with my dad. He was drinking 
again."

"Oh." I'd learned over the last few days that her 
father was a raging drunk. "I'm sorry."

"He tried to hit me a couple times," she said, starting 
to cry a little. "He missed, though and I ran away."

"Good for you," I said.

"Can I sleep here tonight?"

I hesitated for only an instant. She was a friend of 
mine and I couldn't turn her away. But she was a girl 
and I knew my parents would be pissed. But I couldn't 
send her back to her dad.

"Sure, come on in."

I opened the window the rest of the way and Kylie crept 
inside, landing on my bed. She put her arms around me 
and hugged me tight, crying a little. I put my arms 
around her and hugged back, not sure what I should do.

There was a faint sound of floorboards creaking and a 
knock at my door.

"Vincent?" my dad said. "Is there someone in there with 
you?"

"Hang on a second, Dad," I said. I quickly got up and 
pulled on a pair of boxers. Opening the door I stepped 
out into the hall. "Hey, Dad."

"Vincent. Is that Kylie I heard in there?"

"Uh... yeah."

My dad sighed. "Vincent-" he began.

"Wait, Dad. It's not what you think. Her Dad was 
drinking and he tried to hit her tonight."

My dad's voice turned to ice. "Oh, he did, did he?"

"Yeah. I'm her only friend here and she wants to stay 
here tonight."

Dad considered this. "Alright. I'll explain it to your 
mother. She can stay tonight, but you'll have to sleep 
on the couch."

"What? Why?"

"Because she's a girl and you're a boy, Vincent."

"Yeah, but we're just friends, Dad. How about if she 
takes my bed and I sleep on the floor? I don't think it 
would be good for her to be alone tonight."

Much to my surprise, my dad seemed to buy it. He let 
out a faint sigh. "Alright, but you keep the door open, 
ok?"

"Ok."

"Let me talk with her for a moment."

"Alright."

I stood aside and let my dad into the room. He walked 
over to the bed and put his hand on the back of Kylie's 
head.

"You doing ok, Kylie?"

"Sort of. I'm sorry for just coming over here like 
this. Please don't be mad at Vincent."

"I'm not mad at anyone, Kylie," my dad said in soothing 
tones. "Don't worry. You can stay here tonight and you 
can sleep in Vincent's bed. He'll use his sleeping back 
and sleep on the floor."

"Oh... ok."

After hearing my dad mention my sleeping bag, I'd dug 
it out from the closet, wishing that I didn't have 
Pokemon on it. I took a pillow from the bed and spread 
it all out onto the floor.

"Alright," my dad said. "I'll leave the door open. You 
kids get some sleep, ok?" he said in strong tones.

"Yes, Dad."

"Thank you for letting me stay here tonight," Kylie 
said.

"It's not a problem, dear. You just get some rest." Dad 
nodded at us both, shut the door most have the way and 
walked back to the bedroom he and Mom shared, the 
floorboards creaking as he walked.

"I'm really sorry, Vincent. I didn't want you to get 
into trouble or anything."

"I'm not in trouble. My dad's pretty cool."

"Yeah... I wish mine was..."

I reached up to hug her. I had no idea what to say.

"Vincent?"

"Yeah?"

"Will you come and lay up here with me for a bit?"

"But my dad said-"

"You can get back onto the bag before you go to sleep. 
But right now, I want to have you next to me for a bit, 
ok?"

"Ok."

She sat up and started undressing. I took the cue and 
pulled off my boxers, carefully setting them next to my 
sleeping bag. Now naked as she was, I climbed into bed 
with her, feeling her body snuggle up against mine.

"I'm really glad I have you for a friend, Vincent."

"I'm glad I have you, too," I whispered, running my 
fingers through her hair as she let her head rest on my 
shoulder. Her heart was beating fast against me. I was 
scared my Dad might come back into the room, but I 
figured I'd hear the sounds of the floorboards creaking 
before he got here.

I wanted to just hold Kylie, to be a good friend to her 
and everything, but the sensation of her naked body 
rubbing against me as we laid there face-to-face was 
way too much stimulation and my penis got hard pretty 
much instantly.

Kylie wiggled against it and giggled softly. "That 
thing never gets tired, does it?"

"I'm sorry," I whispered back. "I can't really control 
it."

"It's ok... you wanna Do It for a bit?"

"With my mom and dad just down the hall?"

"We can be quiet." She got an odd look on her face that 
I could barely see in the light coming from the window. 
"I just need to feel you inside me for a while."

"Ok."

Kylie rolled onto her back. I got on top of her and 
slowly guided my penis into her vagina. I'd become very 
good at that during the last few days. It was very easy 
to get good at something you really liked doing.

"Oh, yes," she whispered. "Oh, I needed you so much, 
Vincent..."

"I'm glad I could be here for you," I whispered back.

We fucked in silence after that. I wasn't trying to 
cum, really. I just wanted to make her and me both feel 
really good, so I was fucking her as slowly as I could 
get away with. That also kept it quieter. I really 
didn't want to think about what might happen if my 
parents caught me having sex with Kylie.

"Oh, yes... oh, that feels so nice..." Kylie whispered.

"Cool..." I said softly, giving her a little kiss, 
pumping her slowly and tenderly.

"Oh... oh... that's so... ooooh... oooooh..." Suddenly 
she held me very, very tight and clenched her teeth, 
trying not to make any noise. I felt her vagina grab 
hard and fast at my penis as her whole body trembled 
and shook under me.

I wasn't sure what had just happened, but whatever it 
was, it was enough to push me over the edge. I closed 
my eyes and let the orgasm wash over me, my sperm 
blasting up into Kylie's vagina. As the pleasure 
subsided I thought I'd heard a noise out in the hall, 
but as I kept myself perfectly still and quiet, I 
couldn't hear it again.

Rattled a little I pulled out of Kylie and whispered, 
"I should get back to my sleeping bag."

"Ok," she replied quietly, a little out of breath.

Once I was back down there and had put on my boxers I 
whispered to her, "What happened? You know, when I was 
fucking you?"

"Oh... I had an orgasm..." She smiled a little tiredly. 
"I never had one before when I was being fucked by a 
boy."

"Cool," I said, happy and confused at the same time. 
Happy cause I'd done something the vaunted Ross and 
Brian hadn't, but confused cause I hadn't known girls 
even had orgasms.

"Vincent?" Kylie's tired, sleepy voice came down to me.

"Yeah?"

"I love you."

My heart skipped a beat. "I love you, too."

Kylie's hand came down from the bed. I took it in my 
hand and held her until I drifted off to sleep.


* * *


The next morning was very busy. We got up late, and 
went downstairs to have breakfast with my parents. 
After we were done eating, Mom took Kylie out for a 
ride. She said she wanted to talk with her and figure 
out what to do about her father.

As for my father, he said to me, after Kylie and Mom 
had left, "Vincent? Come into the living room. We need 
to talk."

My heart sank. The sound I'd heard last night hadn't 
been my imagination. "Ok, Dad," I said, hoping that I 
was wrong.

Once we were in the living room, Dad sat me down on the 
couch and sat himself in his favorite chair.

"Vincent... we need to discuss something."

"Ok."

Dad took a deep breath and closed his eyes. "Have you 
and Kylie been having sex?"

A thousand lies approached my mouth, but all were 
doused before they were uttered. Sighing a little I 
said in a quiet voice, "Yes..."

Dad sucked in another deep breath and nodded. "I see. 
How long has this been happening?"

"Uh... for like the last few days."

"So basically from the first day you met her?"

"Yeah."

Dad looked up at the ceiling. "I feel the need to be 
precise here. When I say 'sex' I mean have you been 
putting your penis into her vagina?"

"Yes."

"Ah. I thought that was what I was hearing last night, 
but I wasn't sure."

I hung my head. "I'm sorry, Dad."

He shook his head. "You don't need to be sorry, not 
really. Sex is very normal. I lost my virginity back 
when I was not too much older than you."

"Really?"

"Yeah."

"I thought you and Mom didn't meet until you were in 
college."

My dad laughed long and loud. "Oh, son... believe it or 
not, I had sex with women before your mother."

I was mildly ill at the thought of even my mom and dad 
having sex with each other, much less with anyone else. 
"Ew," was what I managed to say.

Dad simply chuckled.

"So you're not mad at me?"

Dad sobered up. "I'm mad at you for having sex with her 
last night, I'm mad at you for having sex period, but, 
well, it is a normal sort of thing." He shrugged. "I 
just wish you'd waited until later. At least until you 
were an age with the word 'teen' at the end of it."

"Sorry."

"Was it your idea to start having sex?"

I shook my head. "No, it was hers. She'd had sex with 
the boys who had lived here before."

"Oh. Is she the only girl you've done it with?"

"Yeah." I took a deep breath of my own. "And I'm really 
sorry about doing it with her last night. But she 
seemed really sad and she said she wanted me to snuggle 
with her and make her feel better and then she asked if 
I would have sex with her and then we did," I said in a 
rush.

My dad nodded. "Well... at least you were doing the 
right thing by trying to help your friend through a 
tough time." He looked at me sharply all of a sudden. 
"Have you been using protection?"

"What?" I asked, puzzled.

"Protection," he repeated. "So that she doesn't get 
pregnant?"

"Pregnant?" I asked in shock.

"Yes. That's what usually happens when people have 
sex."

I was stunned. "I never even thought about it. You mean 
Kylie might be pregnant?" I started to panic a little.

"Calm down, calm down. She's probably not. She's 
probably not even had her first period yet. But it is 
possible."

"Oh, god," I said, feeling a little sick.

"Not to be indelicate, but are you making sperm yet?"

"Yeah..."

"I see... well..." Dad sighed and stood up. "Wait 
here." He left and came back a minute or two later. I 
spent the entire time worrying. "Here." Dad tossed a 
small box onto my lap.

I opened it up to see a set of small, foil squares. 
"What are these?"

"Condoms. You know what they are?"

I picked up one of the squares and looked at it. "No?"

Dad sighed. "You unroll them onto your penis before... 
before you..." He took a deep breath. "Before you have 
sex with Kylie. It will keep your sperm from reaching 
her eggs and making her pregnant."

"Oh..."

"Yes. After you're... well, done... you pull out, take 
it off and toss it into the trash. Always use a new one 
each time."

My mind was turning over. "So... it's ok for me to have 
sex with her as long as I use these?"

Dad sighed yet again. "I'm a realist, Vincent. I know 
that if I tell you not to have sex with her, you'll 
sneak out of the house and find a way. It's not really 
ok if you have sex with her, but I doubt you could stop 
if you wanted to. So if you DO have sex with her, 
PLEASE use some of these condoms, ok? If you need more, 
just let me know and I'll buy them."

"So if she stays over again, can we both sleep in my 
bed?"

Dad waved a hand. "One thing at a time, one thing at a 
time. We don't even know what's going to happen with 
her and her father today."

"Oh, right." I got depressed. "Dad? Kylie's a really 
nice girl. Why would anyone want to hit her, especially 
her father?"

Dad shook his head. "I don't know, son. Drink does 
strange things to a man. I understand her mother is 
dead, so he has to raise her by himself. I'm sure he's 
very lonely and has god only knows what demons inside 
him. What he did was bad, but that doesn't make him a 
bad man. Try not to judge him."

"I'll remember that, Dad." These were the wisest words 
my father ever said to me and I did my best to remember 
them and live by them for the rest of my life. "If her 
Dad keeps drinking and trying to hit her, can she live 
with us?"

"One thing at a time, please, Vincent!"

"Sorry, sorry. I just really like her a lot, Dad."

Dad sighed and came over to join me on the couch. He 
put an arm around my shoulders. "I know, Vincent. I 
know. We'll see what we can do, ok?"

"Ok." I thought for a moment. "Dad?"

"Yeah?"

"Thanks for, you know, not yelling at me or anything."

Dad laughed a little. "You know how my dad found out I 
was having sex?"

"How?"

"He walked in on me and my girlfriend having sex on the 
couch. Then he exploded. THAT was not a pretty sight, 
let me tell you. He calmed down a little, but, boy, did 
he scare Alicia. We never really saw each other again 
after that." He gave me a hard look. "Believe me, I 
wanted to burst into there and tell you two to knock it 
off, but I knew that wouldn't help anything."

"Thanks, Dad."

"You're welcome."

"Oh, hey, Dad?"

"Yes?"

"Are you going to tell Mom? You know... about me and 
Kylie?"

Dad laughed. "I think your mother probably already 
knows. She's suspected for the last couple days. I 
actually had a bet with her and thanks to you, I have 
to go to see the ballet out in Omaha next month."

"Oh, sorry." I blushed.

The rest of the day was really, really tense for me. I 
was on pins and needles waiting for Mom to come back 
home and really hoping that she had Kylie with her. 
Those hopes were dashed when she finally showed up at 
around dinnertime, looking very tired.

She walked in, gave my father a hug. He said, "We're 
going to the ballet honey." My mother snorted and 
walked over to me.

"You ok, Vincent?"

"Yeah, Mom. Where's Kylie?"

"I took her home."

"Oh."

"I assume your father has already talked with you about 
certain... activities?"

"Huh?"

"Yes, I have," my Dad put in.

"Alright. Then I won't say anything more about it."

"But Mom... why did you take Kylie home? I mean, after 
what her dad did?"

My mother sat down. "I talked with her father. I think 
he's very truly sorry for what he did. I also made it 
clear to him that if he tries anything like that with 
her ever again, he'd regret it."

"But why couldn't she just stay here with us?"

"Kylie belongs with her family, Vincent."

"But she's my friend!"

My mom sighed. "I know you really care about her. You 
can still be friends with her, but she cannot stay here 
with us. That's final."

I knew that tone. There wasn't any argument at this 
point. "Alright."

"Good." She held up a bag from the KFC out in town. "I 
brought us some dinner. Let's all eat."

Dinner was a little tense and, for me, kind of sad. I 
know that I would probably see Kylie tomorrow, but I 
was worried about her in the meantime. She was a really 
cool person and I really loved her and I worried that 
her dad might try to hit her again or something. In the 
end there wasn't really anything for me to do. I just 
had to suck it up and deal with it.

I slept very fitfully that night. I was still concerned 
about Kylie and I kept hoping she'd come to knock on my 
window. Every time I heard even the faintest sound from 
outside, I thought it might be her coming to be with 
me.

No such luck. Eventually I drifted off to full sleep, 
not waking until morning.


* * *


The next day I was a big ball of worry. Kylie didn't 
come by all day and didn't call or anything. I was 
scared something might have happened to her. I kept 
bugging Mom and Dad to let me go visit her, but no 
dice. I just barely managed to get to sleep that night.

But the next morning, at just after nine, my heart 
leapt with joy as I woke up to the sound of a gentle 
tapping at my bedroom window. I pulled it open to 
reveal Kylie's smiling face.

"Hey, Vincent."

"Kylie!" I said, unbelievably relieved. I leaned 
through the window to hug her.

"Careful there," she said. "You don't want to fall out. 
Let me come in."

"Sure!" I moved back so that Kylie could get in. Once 
she was inside she sat on my bed with me and we kissed 
for a few moments.

"Thanks for letting me stay here the other night," she 
said.

"You're welcome. I couldn't send you away, you know."

"I know. But still."

"Yeah. Where were you last night?"

"My dad took me out to Omaha. We went and had dinner 
and saw a movie. He felt really bad about the other 
night. He said he's going to join AA."

"That's good. I felt really bad about him... you 
know... trying to hit you."

Kylie nodded. "You're not the only one."

We sat there just looking at each other for a bit. 
Slowly I said, "Sooo... you wanna have sex?"

"Maybe in a bit. Can we just snuggle for a while, 
though?"

"Sure." I pulled back my blanket for Kylie as she 
started getting undressed. Once she was naked she got 
in bed with me. We lay there facing each other and 
hugging. I gave her a kiss.

"You mom knew we were having sex," Kylie said as one of 
her hands drifted down my back to rest right above my 
ass.

"Yeah, my dad thought we were, too."

"What did he say to you about it?"

I gently caressed one of Kylie's breasts and said, "He 
told me that he didn't like it, he thought we should 
have waited and that we shouldn't be doing it. He also 
gave me a little lecture about not getting you 
pregnant."

Kylie nodded. "Your mom kind of said the same stuff. 
She wanted to know if I'd started my periods yet, but I 
haven't so she said we were probably ok but that we 
should be careful in the future."

A horrible thought occurred to me. "Did she tell your 
dad?"

"No, she didn't."

"Thank god," I said, relaxing.

Kylie squeezed my butt and giggled. "What did your dad 
say about... you know... pregnancy?"

"He gave me some condoms. He said that if I need any 
more to ask him."

"Condoms? Do you still have them?"

"Yeah." I rolled over and reached down under the bed, 
pulling out the small box. I took out a foil-packed 
condom and handed it to Kylie, lying on my back next to 
her.

She turned it over in her hands. "So what do you do 
with it?"

"I'm not really sure."

"Well, put it on so we can have sex."

That was the best motivation I'd ever heard of! I tore 
open the packet, revealing a small, round bit of 
something rubbery. It was rolled up, and as I unrolled 
it a little, it was pretty obvious what I was supposed 
to do with it.

"I think it goes on my penis," I said.

Kylie nodded. "Well, put it on."

I held the condom against my penis and slowly rolled it 
down until it was completely on me. It felt weird, and 
there was another problem.

"I don't think it's going to stay on." It was way too 
lose for me. Either it was too big or my penis was too 
small. I preferred to think it was the condom that was 
the problem.

"Well, let's try it anyhow."

"Ok." I got between Kylie's legs, holding the condom 
onto my penis with my hand. I lined up and penetrated 
her easily. It didn't feel nearly as good as it did 
without the condom, but it still felt better than 
masturbating.

Once I pulled my hand off the small tube of latex and 
tried to move, however, there was an immediate problem. 
My penis slid right out of the condom, leaving it still 
inside Kylie's vagina.

"Shit," I said. "It came off."

"Try it again."

I took the condom out of Kylie and put it back onto me. 
Once it was as secure as it was likely to get, I pushed 
back inside her. But as soon as I started fucking, I 
slid right out of it again.

"This isn't working," I said in annoyance.

"Just leave it off, then."

I looked at Kylie. "Are you sure?"

"Yeah. Your mom said that since I haven't started my 
periods yet, I probably can't get pregnant."

"Well, if you're sure," I said without any real effort 
to convince her otherwise.

"I'm sure."

"Ok." I held my penis against her vagina and then slid 
up inside, pleased at how much better it felt without 
the condom. "Oh, that's so much better," I whispered to 
her.

"Yeah..."

It was another unhurried session of sex. We were both 
heading towards orgasms and we knew it, but it wasn't 
that important. What was important was just being 
together. Being friends. Being lovers. Me inside her, 
her under me.

Kylie and I made love all day. We had sex mostly in my 
bedroom, but we also tried it once in the shower and 
once in the living room, giggling at how naughty we 
were being by fucking on the couch. Each time we had 
sex, I made sure to open a condom up and throw it in 
the trash. I figured that way if my dad checked, he'd 
think we were using them.

In retrospect we should have found a way to do so. 
Three months after Kylie and I started having sex, she 
noticed that she seemed to be getting a little fat and 
had started throwing up in the morning. When I told my 
mom about this she went into instant panic mode. We got 
Kylie away from her house and took her to a doctor in 
Omaha where he confirmed she was pregnant. We found out 
the day of my thirteenth birthday. When my dad found 
out and asked me about the condoms he'd been buying, I 
explained to him the problem we'd had. He rolled his 
eyes and that was when I learned that condoms came in 
different sizes. Ooops.

Kylie's dad went berserk when he heard she was pregnant 
and at first we all thought he was going to start 
drinking again. Instead he sat down with my dad and mom 
and they all talked. It was finally decided that until 
she gave birth (we'd decided against abortion), Kylie 
would stay with us, sleeping in my room with me. It was 
nice sleeping with her every night. It was like we were 
married. We even still had sex fairly often, right up 
until about a month before she was supposed to have the 
baby.

Eight months after the testing, one week before her own 
thirteenth birthday, Kylie gave birth to our son. It 
wasn't an easy birth. The doctor had to perform a c-
section and because of that, Kylie wouldn't be able to 
get pregnant ever again.

A week after she gave birth, Kylie moved back to her 
dad's house with our baby. I made sure to go over and 
visit as much as I could. Her father was kind of a jerk 
to me at first, but eventually he calmed down and we 
all started to get along ok.

Kylie and I both still managed to stay in school 
despite the problems and all the jokes from our 
classmates. Some of the other kid's parents raised a 
fuss, but there wasn't much they could do. It WAS kind 
of weird when, for a while, Kylie, myself and our son 
were all going to the same school (he started 
kindergarten in our senior year and there was only one 
school in the area for everyone), but we dealt with it 
ok.

After graduation, Kylie and I got married. We moved 
into our own house in Omaha and we've been living there 
ever since. It's been ten years now since we first had 
sex. We still do it as often as we can. We still love 
each other and our son.

Life might throw you a few surprises as you go down the 
road. I hadn't expected to get laid at twelve or to be 
a father at thirteen. The best you can do is just stay 
the course and hope things turn out alright. I have a 
son I love and I wife I love.

Nebraska is great!

END

Copyright 2004 by Alex Hawk. Aren't skater boys just 
about the sexiest things on the planet? I think so.

This was a very personal story for me in some ways. 
Like Vincent, I became a father at a young age. My son 
was born when I was fourteen and his mother was 
thirteen. There's another boy who is probably my son 
(we've never done a paternity test), and he was born at 
around the same time.

It was indeed very weird having a kid so young. My 
parents weren't nearly as understanding as Vincent's, 
nor were the mother's (though at least they weren't 
drunks who tried to hit her). It was a real struggle 
for me and his mother, my best friend ("officially" the 
father of the other boy who is probably my son), and my 
sister (she was the mother of said boy. Yes, I probably 
knocked up my sister. Long story), to all stay in 
school. To this day I don't know how we managed.

It seems to me that society really needs to loosen up 
and accept the idea of "kids having kids". There were 
actually some advantages to starting so early. By the 
time my son is eighteen, I'll only be thirty-two. I 
have a friend that age (Ryan, the guy from "Story of 
Joe"). If my son is anything like his parents, I'll 
probably be a grandfather while in my twenties. There's 
a strange thought.

For anyone who's curious, I've written a FAQ about me. 
This should answer all the questions people have asked 
about me and stuff. You can ask for a copy in email.

Anyhow, I'm rambling a bit much. Please send any and 
all feedback to alexhawk@operamail.com and thanks for 
reading!