Friday, 12 August 2016

NAFSU BAPAK KOST



Pagi itu kulihat Oom Pram sedang merapikan tanaman di
kebun, dipangkasnya daun-daun yang mencuat tidak
beraturan dengan gunting. Kutatap wajahnya dari balik
kaca gelap jendela kamarku. Belum terlalu tua, umurnya
kutaksir belum mencapai usia 50 tahun, tubuhnya masih
kekar, wajahnya segar dan cukup tampan. Rambut dan
kumisnya beberapa sudah terselip uban. Hari itu memang

aku masih tergeletak di kamar kostku. Sejak kemarin aku
tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang
berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah
membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di
sana ada seorang laki-laki setengah baya yang sering
kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua
puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di
fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin
mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan
apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas
umurku.

Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup
keras. Tidak, dia tidak melihatku dari luar sana. Oom
Pram mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari
pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih
kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman
sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi
demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Pram
istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

Memang Oom Pram sejak 5 bulan terakhir terkena PHK
dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan
perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di
rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan
pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan
selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di
luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang
mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka
memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya
indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami
menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom
Pram telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang
dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau
memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan
kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya
ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai
memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Oom Pram yang
melakukannya…

Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar
suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom
Pram sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di
kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat,
hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya
dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika
tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera
kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku.
“Masuk..!” kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Pram
sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju
mandi. Senyumnya mengambang “Bagaimana Lina? Ada
kemajuan..?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya
diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah.
Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas
senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan
kiriku dan mulai memijit-mijit.

“Lina mau dibuatkan susu panas?” tanyanya.
“Terima kasih Oom, Lina sudah sarapan tadi,” balasku.
“Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk. Dia masih
memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan
kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah
ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai
pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa
nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut
yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang
kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang
tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku
tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

“Lin kakimu mulus sekali ya.”
“Ah.. Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,”
balasku sekenanya.
Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas
berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi
memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam
saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin
bangkit.
“Lin, Oom jadi terangsang, gimana nih?” suaranya
terdengar kalem tanpa emosi.
“Jangan Oom, nanti Tante marah..”
Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan
aku yakin Oom Pram sebagai laki-laki sudah matang dapat
membaca bahasa tubuhku. Aku menggelinjang ketika jari
tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat vaginaku
yang terbungkus CD. Dan… astaga! ternyata di balik
baju mandinya Oom Pram tidak mengenakan celana dalam
sehingga penisnya yang membesar dan tegak, keluar
belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak
melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan
otot di sekelilingnya dan kepala yang licin mengkilat.
Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi
kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan
nafsuku.

Oom Pram membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang
hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan
menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya
mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku
pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh
gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku,
kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya
telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku
dengan lembut sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung
lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke
bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut.
Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup
ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat
ahli, kadang putingku dipelintir sehingga menimbulkan
sensasi yang luar biasa.

Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya.
Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum
dibelainya wajahku.
“Lin kau cantik sekali..” dia memujaku.
“Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu masih
perawan..?” aku mengangguk lemah.
Memang aku masih perawan, walaupun aku pernah “petting”
dengan kakak iparku sampai kami orgasme tapi sampai saat
ini aku belum pernah melakukan persetubuhan. Dengan
pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim
untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama
ini terpenuhi dengan masturbasi, dengan khayalan yang
indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak
iparku dan yang kedua adalah Oom Pram induk semangku,
yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya
andaikata dia tidak menanyakan soal keperawanan, pasti
aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena
dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat
dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu,
dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan
tenang, lembut dan sabar. Justru aku lah yang kurasakan
meledak-ledak.

“Bagaimana Lin? kita teruskan?” tangannya masih mengusap
rambutku, aku tak mampu menjawab.
Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin perawanku
hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapannya.
“Oom… pakai tangan saja,” bisikku kecewa.
Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh
dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga
telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena
keringat, batang kemaluannya panjang dan besar berdiri
tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku
yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka
selangkanganku lebar-lebar. Kulihat vaginaku telah
merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku
terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang
kemaluanku telah banjir oleh lendir yang siap melumasi
setiap barang yang akan masuk.

Oom Pram membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan
kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat,
lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitoris,
kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan.
Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitorisku
yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa
aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke
kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Pram melakukan sedotan
kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan
dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa,
seluruh kelamin sampai pinggul, gerakanku makin tak
terkendali, “Oom… aduh.. Oom… Lin mau keluar….”
Kuangkat tinggi-tinggi pantatku, aku sudah siap untuk
berorgasme, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan
ciumannya dari vagina. Dia menarikku bangun dan
menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu ke mulutku. “
Gantian ya Lin.. aku ingin kau isap kemaluanku.”
Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam
genggamanku. Oom Pram sudah terlentang dan posisiku
membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering
membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam
film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya.

Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal
kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung
penisnya yang mengkilat berkali-kali. “Ahhh… Enak
sekali Lin…” dia berdesis. Kemudian kukulum dan
kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal
kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Pram
membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan
di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di
atas tubuhnya, kemaluannya persis di depan lubang
vaginaku. “Oom, Lin masukin dikit ya Oom, Lin pengen
sekali.” Dia hanya tersenyum. “Hati-hati ya… jangan
terlalu dalam…” Aku sudah tidak lagi mendengar
kata-katanya. Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada
bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris
dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya
kumasukkan ke dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa
detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi
kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam
lubang vaginaku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam
bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal
dariku atau darinya.

Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung
kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir
dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah
makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang
kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan
kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti
yang sering aku dengar dari temanku ketika
keperawanannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit
kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas
kembali berulang-ulang. “Oh.. Lin kau hebat, jepitanmu
nikmat sekali.” Kudengar Oom Pram mendesis-desis,
payudaraku diremas-remas dan membuatku merintih-rintih
ketika dalam jepitanku itu. Dia mengocokkan kemaluannya
dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan
akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke
bawah, terus ke bawah sehingga penis Oom Pram sudah utuh
masuk ke vaginaku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah
kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk,
kurubuhkan badanku di atas badannya, payudaraku
menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom
Pram erat-erat. Tangan kiri Oom Pram mendekap
punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap
bokongku dan anusku. Aku makin kenikmatan. Sambil
merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang
kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok
dari bawah.

Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil
makin keras dan akhirnya meledak. “Ahhh…” Kutekan
vaginaku ke penisnya, kedutannya keras sekali, nikmat
sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam vagina terasa
cairan hangat, menyemprot dinding rahimku. “Ooohhh…”
Oom Pram juga ejakulasi pada saat yang bersamaan.
Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan
kemaluannya masih memenuhi vaginaku. Kurasakan vaginaku
masih berkedut dan makin lemah. Tapi kelaminku masih
menyebarkan kenikmatan. Pagi itu keperawananku hilang
tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

No comments:

Post a Comment