Sunday, 31 July 2016

KU LI TUA VS EX MODEL



Didikan dan dorongan dari orang tuaku mampu menghantarkanku menjadi orang yang memiliki status
sosial dan ekonomi lumayan dibandingkan keadaan keluargaku sebelumnya ketika aku masih kecil. Maklum kami berasal dari keluarga yang cukup bersahaja.

Aku selalu disuruh belajar dan belajar. Kata mereka, bila ingin memperbaiki tingkat kehidupan maka kita harus giat belajar sehingga kelak setelah memiliki ilmu yang tinggi dan lulus dari perguruan tinggi, rejeki akan lebih mudah didapat. Orang tuaku ada benarnya meskipun sekarang banyak sekali sarjana menganggur, kalah sama yang berani mengambil kesempatan apa saja biarpun tidak tinggi sekolahnya. Namun sesungguhnya ada kekurangannya juga. Setelah menyandang gelar S1 di salah bidang keteknikan aku beruntung dengan amat mudahnya mendapatkan pekerjaan yang bergengsi.


Namun seperti yang telah kusebutkan tadi, aku begitu terobsesi dengan isi otak belaka, namun tidak dalam hal kepandaian bergaul. Lebih parah lagi dalam hal bergaul dengan cewek. Asli seperti layaknya murid TK bila dibandingkan dengan para pria dewasa lainnya. Di samping memiliki masalah dalam psikologi, kelemahan lain yang juga kritis yang kuidap adalah masalah fisiologi.

Aku lemah. Aku terlalu acuh dan menganggap remeh masalah olah tubuh. Dampaknya adalah aku tidak memiliki kekuatan fisik yang prima yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Tubuhku memang tidak kerempeng, namun kurang berotot dan bertenaga, dan celakanya lagi untuk urusan seks aku tidak terlalu ‘jantan’. Bila melihat wanita
cantik aku hanya sekadar ngiler saja tanpa berani bertindak lebih jauh, takut mengecewakan. Akhirnya aku hanya mampu dari ke hari membayangkan mereka saja. Selebihnya onani, itupun paling seminggu sekali, bila kantong pejuhku sudah kurasa penuh.

Tapi biarlah, tidak semua yang kita inginkan di dunia bisa kita dapatkan, Tuhan telah sangat adil membagi karunia-Nya. Ada yang diberi kelebihan rejeki, ada yang diberi kelebihan penampilan fisik, dan ada yang diberi kelebihan kekuatan fisik.

Sesungguhnya semua itu tergantung juga dari cita-cita, tempaan hidup, ataupun keadaan yang kadang tak dapat dihindari atau dikehendaki sebenarnya. Mungkin semua orang ingin kaya, namun berhubung satu dan lain hal
mereka tidak beruntung mendapatkannya. Akan tetapi sebenarnya bila mereka pasrah dan mampu berpikir positif
untuk menggali kelebihan-kelebihan dari kekurangan-kekurangannya (seperti setali dua uang, di satu sisi ada plus pasti di sisi lain ada minusnya), mereka akan menemukan keunggulan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang mereka anggap ‘beruntung’.

Begitulah kehidupan, kebanyakan orang hanya mampu mendongak ke atas, selalu berkeluh kesah memprihatini diri sendiri atas kelebihan orang lain.

Sementara aku saat ini memiliki pandangan lain, aku suka iri melihat para pria perkasa yang akibat tempaan hidupnya yang berat justru membuat mereka memiliki kekuatan fisik yang prima, sekaligus memiliki pesona seksual yang luar biasa bagi lawan jenis.

Aku merasa bahwa kelebihan materiku paling hanya dapat menyilaukan mata wanita, tapi tidak benar-benar mampu membuat mereka bertekuk lutut. Mereka mudah dekat denganku karena statusku, namun aku merasa mereka tidak benar-benar di ‘dekatku’ setelah merasakan ‘keintiman’ denganku.

Sehingga pada suatu ketika aku menemukan metode yang kuanggap dapat memuaskan hasratku, meskipun tidak secara langsung namun ternyata luar biasa kenikmatan yang dapat kuraih, yaitu memuaskan diri dengan meminjam kemampuan orang lain.

Inilah sebagian kisah-kisahku dalam mendapatkan kepuasan seksual tetapi tidak secara langsung melakukannya
sendiri, alias kepuasan sekunder.

Menyutradari
Suatu pagi di hari Sabtu ketika sedang jalan-jalan cari angin untuk menumpas kejenuhan dan kepenatan kerja beberapa bulan ini aku mencoba rute ke arah pelabuhan yang selama ini belum pernah kucoba. Memasuki tol dalam kota aku menuju arah pelabuhan Tanjung Priok. Rencanaku adalah melihat-lihat suasana pelabuhan. Mengamati kapal berlabuh atau berlayar, kesibukan bongkar muat, atau hal-hal lainnya yang benar-benar baru.

Kuparkir mobil di areal parkir lalu aku mendekati anjungan sambil bersedeku di pagar. Hawa semilir pelabuhan masih segar di pagi hari. Kesibukan pelabuhan sudah mulai.

Pertama kuamati kapal besar yang berlabuh. Nampaknya kapal barang, karena lebih banyak barang yang turun
ketimbang manusia. Tiba-tiba terlintas kilat sesuatu di kepalaku. Aha, kenapa tidak kucoba? Lalu mulai kuteliti satu per satu para kuli pelabuhan. Ada beberapa yang tua, namun kebanyakan masih muda. Badan mereka rata-rata kekar berotot. Rata-rata berkulit gelap mungkin karena tertempa teriknya matahari pelabuhan selama bertahun-tahun. Tapi bagaimana caranya? Aku sedang mendebat diriku sendiri. Ah, macam mana mereka bisa menolak penawaranku.

Lalu aku mencoba menyeleksi secara diam-diam, siapa diantara mereka yang hendak kupilih sebagai calonnya. Yang tua? Sebenarnya nggak masalah, toh mereka nampaknya juga masih jantan. Yang muda, tentu saja memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar untuk rencanaku nanti.

Akhirnya kupilihlah yang agak tua, sekitar 50 tahunan, dengan pertimbangan yang tua lebih berpengalaman dan lebih mampu mengendalikan permainan. Di samping itu itung-itung membantunya secara finansial, kasihan
tua-tua masih banting tulang menjadi kuli. Nah sekarang tahapan selanjutnya adalah melobi dan merayu si Bapak
agar bersedia menjadi aktor dalam permainan erotis ini. “Pagi?”, sapaku mencoba ramah. “Pagi juga”, bapak ini agak terkejut dan grogi ketika disapa seorang perlente seperti diriku ini (hehe memuji diri sendiri) hingga menimbulkan sejuta pertanyaan baginya, tiba-tiba ada orang asing yang menyapanya.
“Boleh ngomong sebentar, 5 menit aja Pak”.
“O.. Oh ya boleh, boleh, ada apa Den?”.
“Panggil aja Prakosa, jangan pakai Dan-Den segala”,
gurauku. Mencoba mencairkan ketegangan.
“Gini Pak, saya mau minta tolong tapi saya juga khawatir
akan Bapak tolak mentah-mentah.”

Bapak ini menunggu kalimatku selanjutnya, lalu nggak tahan akhirnya bertanya.

“Pertolongan apa, Nak Prakosa?”.
“Istri Bapak ada di mana? Di kampung atau dibawa ke
Jakarta sini?”.
“Ah ya ditinggal di kampung saja Pak, susah kalau dibawa
ke sini. Berat hidup di Jakarta Pak.”

Oho, ada peluang nih.

“Lah berapa lama Bapak tidak ketemu istri?”, pancingku.
“Sebulan, kadang lebih. Emang kenapa ya Nak?”.
“Nggak kok, apakah Bapak tidak terlalu lama berpisah
dari istri”, kukupas halus naluri dasar seorang manusia,
khususnya pria.
“Heh heh.. Bapak tahulah maksud Nak Prakosa. Habis
gimana yah, memang masalah makan jadi nomor satu bagi
saya. Jadi harus berjauh-jauhan dari istri agar ada yang
bisa dimakan. Daripada kumpul, kami mau makan apa?”.
“Okelah gini Pak, singkat kata aja ya, saya mau membantu
Bapak untuk menyalurkan kekangenan Bapak kepada istri
atau wanita tepatnya.”
“Waduh, Bapak nggak punya duit lebih untuk begitu-begitu
Nak.”
“Oh tidak, tidak, Bapak tidak perlu mengeluarkan biaya.
Nanti biarlah saya yang membiayai semua ini bahkan ada
tips buat Bapak. Jadi tinggal Bapak bilang saja bersedia
nanti sisanya biar saya yang urus. Gimana, mau nggak
Pak?”

Hampir aku kejedot rantai kapal yang besar-besar itu ketika si bapak akhirnya meng-aprove proposalku. Laki-laki mah di mana-mana sebenarnya sama saja, sulit menolak penawaran menggiurkan seperti ini. Aku sudah bergairah duluan ketika membayangkan bakal ada adegan panas antara ‘Beauty and the beast’. Permainan kontras yang mampu melecut gairahku.

Kuputuskan segera mengontak sang pemeran wanita pagi-pagi supaya tidak keburu dibooking orang. Begitu mendapat konfirmasi atas kesediaannya untuk menyediakan waktunya malam ini, maka bergegas pula kukontak sebuah hotel kelas sedang. Yang penting tempatnya agak terlindung dari keramaian. Si bapak akan kujemput duluan sore-sore dari tempat kerjanya sesuai janjiku untuk mengurus semuanya. Sementara pemeran wanita akan datang sendiri tanpa perlu dijemput.

Aku biasa membeli tabloid-tabloid panas yang banyak tersedia di ibukota. Aku suka memelihara gairahku akan
wanita dengan berlangganan membeli filem bokep, tabloid atau majalah panas yang berisi info mengenai esek-esek
di ibukota. Dengan seringnya berlangganan membeli tabloid semacam itu, aku jadi banyak mendapatkan
informasi mengenai agen-agen yang menyediakan wanita untuk melayani syahwat para lelaki/wanita.

Jam 20.00 aku dan si bapak telah berada di dalam kamar hotel setelah makan malam, kami mengobrol berbagai hal
sambil menunggu kedatangan wanita cantik pesananku. Tentu saja tarif sekelas dia lumayan mahal, di atas
rata-rata tarif wanita panggilan lainnya. Tapi biarlah, fantasi kadang meminta ongkos besar.

Tit.. tit.., HP-ku berbunyi, kuangkat..

“Yes dear, dah nyampe?”.
“Udah di bawah Mas, di kamar berapa?”, terdengar suara
riang. Professional sekali. Semua dilayani dengan riang
asal sesuai tarif.
“315, ke kiri dari lift ya.”
“OK Mas..”

Kulihat si bapak agak grogi juga, kutenangkan bahwa semua ini dilandasi alasan komersial belaka. Jadi tidak perlu takut akan ditolak. Siapa tahu malah si wanita setelah malam ini akan menjadi ketagihan kataku. Kan malah lebih enak nanti-nanti dapet layanan rutin gratisan dari si Mbak, gurauku. Banyak kok wanita yang menginginkan seks sejati, yang benar-benar mampu membuat si wanita terkapar dalam orgasme sejati. Dan itu tidak ada kaitannya dengan siapa bapak, tetapi apa yang bapak dapat lakukan untuk memuaskan si wanita. Si bapak mulai kendor ketegangannya.

Ting.. tong.., Kubuka pintu kamar.





“Hai”, salamnya.
“Hai juga, sendiri apa dianter?”, kutanya basa basi.
“Dianter dedemit apa, hehehe”, cair sekali suasananya.

Semoga semuanya berjalan lancar. Ini semua demi kepentinganku, menyalurkan hasrat seksualku yang lagi
menuntut.

Kuamati dandanannya cukup berkelas, bahkan tidak nampak norak bak pelacur kelas jalanan, maklum eks model.
Memang yang kupilih adalah eks model untuk memastikan kualitas kecantikannya. Sebenarnya banyak juga yang
cantik-cantik yang bukan model, tetapi daripada seperti memilih kucing dalam karung mendingan cari kepastian aja
deh. Kulit putih mulus, tinggi langsing dengan dada menjulang, hidung mancung dan wajah oval. Klop sebagai the beauty.

Dia sempat agak kaget ketika ada orang lain di situ, Bapak itu, yang duduk di kursi pojok ruangan. Bapak itu anteng saja dan tidak menatap sama sekali sang aktris.

“Della, ehm sori ya kita perlu bicara sebentar”, aku mulai menceritakan semuanya sejak masalahku sampai hasratku yang dapat dipenuhi melalui cara ini. “Tenang aja Mas, no problem, it’s all about money, Dear. But it’s better when he could make me satisfied. Who knows.”

Aku lega sekali, malah dia mulai menatap bapak itu dengan tatapan tajam dan mengundang. Kudekati si bapak dan memberitahukan bahwa wanitanya oke-oke saja malah penasaran ingin menikmati tubuhnya. Si Bapak mulai bangkit dan berani menatap Si Wanita.

Aku duduk di pojok dan mempersilakan keduanya melakukan adegan sesuai dengan inovasi mereka sendiri. Keduanya duduk di tepian ranjang. Sengaja tadi si Bapak tidak kusuruh mandi dulu, badannya masih berkilau-kilau
berkeringat meskipun sudah agak lama terkena AC kamar hotel. Biarlah mereka yang memutuskan untuk mandi atau tidak.

Si Bapak masih canggung, Si Wanita yang membimbing. Dipegangnya tangan Si Bapak lalu ditimpakan di pangkuannya sambil diiringi dengan lembut tatapan merayu seorang wanita. Badannya mencondong sehingga tetek sebelahnya yang gede itu telah berkenalan dengan lengan Si Bapak yang kokoh.

Nah, Harimau sudah menggeliat mulai terpancing dari tidurnya. Direngkuhnya pundak Della. Dibelai-belai, dan tangan satunya mulai mengusap-usap paha. Della menggelinjang karena tangan kasar itu sangat efektif
meraba ujung-ujung sarafnya.
Della sedang mencoba dunia baru. Dunia bawah tanah yang tidak pernah ditengok sebelumnya. Rasa penasaran
membangkitkan gairahnya. Roknya berbelah tinggi, hingga ketika duduk pahanya sudah terpampang telanjang sampai pangkal. Si Bapak yang bibirnya hitam kasar mendekat menuju pipi. Nafas nampak mulai memburu dan bertekanan, otot-otot mukanya mulai bangkit menonjol dan mengeras.

Pemandangan erotis yang luar biasa ini ditangkap oleh mata Della sangat mengkilik-kilik nurani kewanitaannya.
Ingin ia melayani dan memuaskannya. Naluri bawaan setiap wanita. Aku ikut mulai menghangat.

Ketika Della mulai membuka kancing baju batik lusuh Si Bapak satu-persatu dari ujung atas, bibir hitam dan
tebal Si Bapak sedang mulai menyapu-nyapu pipi mulus Della. Pipi Della merona hangat dialiri darah yang terpacu oleh jantung yang meningkat detaknya.

Permainan semakin meningkat dengan mulai naiknya usapan telapak lebar dan kasar Si Bapak menuju pangkal paha. Della meremang. Tubuhnya menjadi makin merapat, teteknya ingin mendapatkan tekanan-tekanan yang lebih kuat dari tubuh si laki-laki perkasa. Setengah kesadarannya mulai meninggalkan dirinya. Ia ingin semua tubuhnya dirajam tangan-tangan kasar itu.

Dibelai-belainya lengan-lengan Si Bapak, menyelami betapa perkasanya lelaki ini. Darahnya berpacu kencang. Mukanya semakin merona merah memberitakan tentang hasrat. Ciuman-ciuman menjilat berpindah ke arah leher di belakang telinga Della, lenguhan-lenguhan kecil menjadi tak terbendung. Semuanya dari dalam dirinya
ingin keluar bebas. Aku spanning. Tak sedetikpun kulewatkan adegan real bokep di depan mataku.

Tangan kiri Della mulai menjemput pangkal paha Si Bapak dan mulai mengusap-usap kelelakiannya. Kadang diselingi dengan menekan-nekan. Si Bapak mulai melenguh-lenguh juga. Otot-otot wajahnya semakin tegas dan menebal. Lalu menggulati dengan penuh tubuh Della, merengkuh kuat.

Yes, luar biasa. Kaki kiri Della sudah menumpang di atas paha kiri Si Bapak. Mereka mulai berpagutan sambil duduk
di tepian ranjang, bibir hitam tebal berbau rokok lisong melawan bibir mungil mulus merah merekah milik Della. Sensasional sekali.

Adegan ciuman dan saling melumat berlangsung, berpagut beradu lidah. Dua kutub dunia sedang berpadu di kamar hotel ini. Karena berasal dari dua kutub ekstrim maka tarikannya luar biasa kuat. Sedotan-sedotan kuat mengiringi permainan pemanasan. Kuasa birahi mulai menancapkan kukunya pada dua makhluk yang sedang
bercumbu ini.

Della tidak tahan dan sekarang mulai penuh mengangkangi dengan duduk di atas pangkuan Si Bapak. Punggungnya
dijamah dan diusap-usap sampai batas leher belakang dengan tangan-tangan tua namun masih kekar dan berotot
itu. Della merinding sehingga bulu kuduknya meremang. Urat-urat tuanya yang menonjol yang sedang menggarap
punggung Della membangkitkan kesan visual yang luar biasa.

Adegan dilanjutkan dengan saling kulum kembali dan kedua lidah berlawanan jenis itu saling menggenjot dan berpagut. Kecipak-kecipak bunyi ludah menyemangati keduanya. Rasa jijik telah musnah dirontokkan oleh
birahi yang menyeruak paksa. Libido mengambil kendali.

Si Bapak mengamati Della yang telah mulai banyak memejamkan mata dalam penghayatan. Della sudah dalam
kekuasaannya. Si Bapak masih memegang kendali. Belum terlarut, pengalaman dan usia membuatnya menang angin.

Adu mulut disudahi dengan menurunnya serangan Si Bapak menuju tetek-tetek Della. Kepala Della mulai terayun-ayun ke belakang dengan mata yang sayu-sayu mengawang. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terburai dari ikatannya. Kaki-kaki putih langsingnya kokoh mengapit dan sudah nampak tegang.

Dari samping aku dapat melihat bagian depan Della telah ditelanjangi, tetek-teteknya telah dikupas keluar dari Bra-nya sehingga tetek-teteknya malah kelihatan tambah mencuat karena tersangga oleh Bra-nya yang masih menggantung kencang. Tetek-teteknya luar biasa mulus dan kencang, putingnya mengeras merah tua, dan sekarang sedang disedot-sedot rakus oleh Si Bapak.

“Enak Neng?”, pertanyaan yang tidak perlu diajukan.

Della sudah mulai menggelepar pasrah. Semua sarafnya telah bersedia untuk meneruskan penjelajahan.

“Eehhm.. Ehh..”, hanya lenguhan-lenguhan Della yang keluar sebagai tanda penerimaan yang tidak dibuat-buat.

Sensitivitas kewanitaannya telah terangsang sempurna. Pantatnya ditekan-tekankan di atas gundukan kelelakian Si Bapak yang telah menjulang karena vegynya kini telah ikut mulai gatal dan geli karena dipengaruhi hormon syahwatnya.

Pergerakan olah asmara merangkak dengan irama yang mengalir alami. Lalu tiba-tiba tangan kiri Si Bapak menyelinap dari belakang pantat Della, masuk ke dalam CD-nya dan menjangkau liang kewanitaan Della. Si Bapak ahli mengaparkan wanita agar semakin tenggelam dalam kuasa nafsunya sendiri. Semua dirangsangnya maka wanita akan mabuk birahi. Semakin liar Della menggolek-golekkan kepalanya.

“Oohh yess.. Arrgghh.. Fuck me.. Ooh my old man..”, rintihan-rintihan erotis menggema di ruangan.

Si Bapak mengangkat Della dengan entengnya (biasanya mengangkat beras sekwintal, Della paling 55 Kg). Lalu
direbahkannya telentang di ranjang. CD Della dilolosi. Rok dan bajunya masih dibiarkan belum dilepas. Roknya
disingkap. Nampak di depan matanya sebuah keindahan dunia. Selangkangan yang bersih mulus dilengkapi dengan
rambut-rambut kemaluan yang dipotong rapi. Di tengah-tengahnya bersemayam lubang kenikmatan berwarna
merah dadu. Si Bapak terpana.

“Memek kayak Neng ini bagus benget ya, indah sekali dan wangi. Bapak ingin melahapnya Neng. Boleh ya Neng?”.

Tanpa persetujuan Della lalu dengan rakusnya mulut Si Bapak mulai mencomot vegy Della.

“Bapak akan menjilati memek Neng sampai luber yaah..”, Della mengangguk dan memohon.

Si Bapak menguakkan paha-paha putih Della lebar-lebar lalu menenggelamkan kepalanya di antara keduanya. Bau wangi vegy yang terawat Della menyergap hidungnya.

“Wangi sekali memek Neng, oohh sedapnya.”
“Ooggh yess.. Fuckkerrh.. Ssucck mmee..”, pantatnya
terangkat-angkat ketika mulut Si Bapak mengulum bibir vegy Della.

Lidahnya mulai dimainkan keluar-masuk di liang kenikmatan Della. Kadang melesak dalam-dalam dalam rangka memburu dan mencari itil, bila ketemu terus disodok-sodokkan sampai membikin gila Della. Tangan Della terbang kian kemari, mencengkeram kepala Si Bapak agar menekan lebih kuat, menjambaki rambut sendiri, lalu lurus mencengkeram sprei kuat-kuat. Begitu berulang-ulang dan bergantian. Kaki-kaki langsing putihnya telah enumpang di atas pundak Si Bapak berkelojot-kelojot.

“Giillaa.. Ennaakkh.. Baanngeet.. Teruss.. Paakk.. Ayyoohh..”, hentakan-hentakan pantatnya naik turun menandakan nafsunya sedang memuncak luar biasa. Dan yang lebih luar biasa permainan pemanasan telah berlangsung setengah jam lebih. Aku menelan ludah dan melotot. Kukeluarkan kontolku dan kukocok.

Lalu si Bapak menghentikan permainan lidahnya. Bajunya dilepas, celananya, CD-nya, dan jreenng, kontol hitamnya
telah mencuat tegak berkilau-kilau, luar biasa besar dan panjang. Made in nature. Alam yang menciptakannya. Aku
iri hati.

Lalu si Bapak menaiki ranjang, disorongkannya kontol supernya ke mulut Della, Della menyongsong nafsu. Tersedak. Lalu mulai menjilatinya. Meludah. Mulai menjilati kembali. Ketika batang sudah mengkilat lalu
bless, dimasukkan ke mulutnya. Monyong mulutnya menampung lingga segede itu. Tegar dan kokoh. Tangan kiri Bapak menjangkau ke belakang, mencari vegy Della. Lalu dicolokkannya. Dengan jari tengahnya lalu vegy Della yang telah agak kuyup dikocok-kocok. Della menjerit-jerit.

“Buussyeett.. Arrghh.. Aadduhh.. Aaghh.. Aahh “, Della mulai menggila kembali. Kedua lubang Della disenggamai
bersamaan. Mulut dan vegy-nya. “Ayyoo neengg.. Teruss.. Aahh.. Ahh..”, Si Bapak rupanya sudah mulai fly juga. Dimajumundurkan kontolnya sehingga mulut Della termonyong-monyong. “Seddott.. Seddott.. Neng..”.

Fantasi dikulum bidadari menerbangkan jiwanya menuju kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan oleh saraf-saraf alat senggamanya. Kekuasaan virtual bahwa telah mampu menindih dan akan menyetubuhi seorang bidadari dari negeri awang-awang telah menghantar birahinya melampaui batas kesadaran. Ekstase. Osilasi pantatnya semakin akseleratif, kepala Della terpental-pental maju mundur. Dan crroott.. Crroott luar biasa pejuh yang
diproduksinya.

“Oohh neenngg.. Tellan.. Teellaan.. Pejuhh.. Baappaak.. Yaagghh”, sambil terhentak-hentak kelojotan Si Bapak mengangkat kepala Della dan menekan kontolnya agar tidak lepas dari mulut Della.

Della gelagapan tetapi menikmati menyeruput pejuh yang banjir di mulutnya. Menjilat-jilat lalu menelannya. Aku belum keluar, pegel sedari tegang terus belum ada hasil. Aku masih menginginkan adegan senggama kelamin Vs. Kelamin.

Lalu robohlah sosok tua Si Bapak menggelosor di samping Della setelah nyaris 1 jam permainan berlangsung. Menelentang menatap langit-langit kamar, nafas ngos-ngosan dengan dada kembang kempis. Della belum klimaks. Della melap mulutnya lalu menuju toilet. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan bertelanjang.
Menghampiri Si Bapak, mengangkanginya, lalu mulai mengocok batang kontol Si Bapak. Memanasi Si Bapak, dia
ingin ikut dituntaskan. Penyelesaian atas dirinya adalah keharusan.

Si Bapak semakin terpana, tubuh yang begitu indah menginginkan dirinya. Putih bak salju, lembut dan mulus. Badan ramping, tinggi, tetek besar, perut rata, pinggang kecil, pantat padat montok, usia masih belia. Tiada
cacat atas dirinya. Alangkah merasa beruntungnya Si Bapak. Sudah menikmati tubuh bidadari seindah ini masih
dibayar pula. Seumur-umur tidak pernah terbayangkan sama sekali bakal dianugerahi keajaiban seperti ini.

Kontol Si Bapak diusap-usapkan ke bibir vegynya. Dia ingin disetubuhi dengan sempurna, vegynya ingin dimasuki.

Mereka berdua telanjang kini. Si Bapak di bawah, Della mengangkang dan sedang mengocok. Tangan Si Bapak merengkuh tetek-teteknya, meremas-remas, memilin-milin putingnya, lalu mengenyot-ngenyotnya. Della masih panas, tetapi dia masih belum diklimakskan. Vegynya meneteskan cairan-cairan, nampak lebih kuyup dari sebelumnya.

Dibangkit-bangkitkan kembali gairah lelaki tua di bawahnya. Dan tanpa menunggu lama kontol Si Bapak mulai dialiri darah kembali sehingga mulai meregang. Della senang. Semakin ditekuninya kocok-kocokannya. Dijilatinya tetek-tetek Si Bapak. Tangannya kadang mengelus pangkal kontol, area penuh saraf, Si Bapak mulai mendengus.

Direngkuhnya agar Della mendekat, dikulum puting-puting teteknya, lalu mereka berpagutan kembali. Tangan-tangan berotot Si Bapak bergeser meremas-remas pantat montok Della. Diusap-usapnya bibir vegy Della, lalu diselipkan jari tengah kedua tangannya melesak ke lubang vegy Della. Della menjerit.

Ketegangan kontol Si Bapak telah sempurna kembali, Della menuntunnya menuju lubang miliknya. Diusap-usapkan terlebih dahulu memutari sekeliling bibir vegynya. Della terpekik-pekik dan meregang-regang. Lalu dijebloskannya kontol itu pelan dan pasti.

“Ehhg.. Egghh..”, pantatnya naik turun, maju mundur, mengebor seluruh titik-titik kenikmatannya.

Matanya terpejam dengan bibir yang menganga dan mendesah-desah histeris. Pantatnya diputar-putar, mencari persinggungan kontol dengan saraf di dalam lubangnya yang paling sensitif. Bila ketemu lalu dia terpekik dan dipercepat kocokannya. Si Bapak terbawa gairah kembali sehingga pantatnya pun ikut diputar dan digoyang-goyangkan. Membikin Della semakin gila.

Berhubung Si Bapak telah sempat orgasme maka permainan ini akan memakan waktu lama. Hal ini bakal enyenangkan dan memuaskan Della sampai titik darah penghabisan. Della terus mengocok-ngocokkan vegynya. Kepalanya bergoyang dan tergolek-golek liar ke kanan-kiri. Desahannya semakin keras.

“Auh.. Auh.. Emmfh..”, keringat di punggungnya mengalir deras. Mukanya berleleran peluh. Della masih butuh waktu.

Gesekan-gesekan vegynya dinikmati detik demi detik. Bibir-bibirnya digigitnya sendiri. Dia ingin berlama-lama memanjakan vegynya mendapatkan desakan-desakan kontol perkasa. Dia tidak ingin cepat berlalu, dia menahan diri. Vegynya berkedut, dia pelankan genjotannya. Bila sudah agak rileks dimulakannya lagi gesekan vegy-nya. Dia ingin menikmati semalaman vegy-nya dijajah kontol langka milik Pak Tua ini. Dia tidak ingin kehilangan esempatan. Sudah setengah jam dia memanjakan vegy-nya.

Lalu tiba-tiba Della menghentikan kocokannya dan meregang, kepalanya melengkung dengan tangan mencengkeram dada Si Bapak kuat-kuat, badannya menggigil lalu menyentak-nyentak. Orgasmenya telah tiba.

“Ehh.. Ugghh.. Ehhmm.. Ohh.. Oohh.. Oogghh”, lolongnya dan..

Crott.. Croott cairan menyemprot dari lubang vegynya. Seperti air kencing mengalir deras keluar. Jari-jari Si Bapak segera menyapu cairan itu dan menjilatinya. Dia ingin menikmati cairan kewanitaan Della. Seperti apa rasa cairan seorang bidadari.

“Enak nih pejuh Neng.”

Si Bapak belum orgasme, lalu dengan cepat bangkit dan ditunggingkan Della. Dengan amat nafsu disodoknya vegy
Della dari belakang.

“Ohh.. Neng.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Neengg”, Si Bapak meracau histeris sambil memacu kontolnya menembusi vegy
dengan cepat dan bertenaga.

Berkecipak-kecipak suara vegy Della dihajar kontol Si Bapak yang masih kokoh dan tegang itu. Tangan kekarnya
kadang menepuk pantat bahenol dan padat Della sampai merah kulitnya, Della meringis-ringis antara nikmat dan
perih. Penderitaan kadang diserap wanita sebagai bagian dari kenikmatan. Terlebih secara bersamaan dirinya sedang tenggelam dalam birahi. Adonan yang menimbulkan kenikmatan ekstra.

“Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Della mulai bergairah kembali. Vegynya berdenyut-denyut menyekap kontol Si
Bapak sehingga dari mulut Si Bapak mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Neengghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. eeehghh..”, semakin liar sodokan Si Bapak, sampai pantat Della merah-merah karena hantaman-hantaman paha Si Bapak.

Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Aku mulai mendaki dan kupercepat kocokan tanganku, aku masih duduk dengan resleting terbuka.

Lalu kulihat dengan kasar Della ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke
atas. Didekatkan kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Della, Si Bapak memajukan dan menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali.

Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai sprei basah
kuyup. Tetek-tetek Della tergoncang-goncang hebat. Si Bapak rupanya telah gemas dan geram dalam luapan birahi
yang lebih mendera dari permainan pertama. Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak. Della entah telah berada di mana saat ini, mungkin dia sudah lenyap tenggelam di dasar samudera kenikmatan purba. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang. Kenikmatan paling puncak
telah tinggal sejengkal. Dan..

“Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Neenngghh.”

Della tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah melampaui batas kesadaran, kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. Kata-kata sudah lenyap tak bermakna. Lalu keduanya bersamaan nyaring berteriak..

“Aahh!!”.

Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, Si Bapak mencoba menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Della, Della ingin mencakup seluruh milih Si Bapak. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

Orgasme sempurna telah dilampaui. Mereka menggelepar. Diam membisu masih meringkuk dan berpadu. Aku juga
keluar sudah, sambil duduk di kursi. Pengalaman luar biasa yang pernah kualami. Kontras membuat kekuatan tak
terkira.

Kami lalu tertidur. Kira-kira jam 5 pagi aku terbangun karena terganggu suara berisik, rupanya kedua makhluk didepanku sedang memacu birahi kembali. Kulihat Della sedang mengangkangi kembali Si Bapak, dengan posisi
membelakangi. Della telah menemukan sang pemuas nafsunya. Dia seolah ingin menghabiskan hidupnya disenggamai Si Bapak tua sang kuli pelabuhan yang kekar dan kokoh itu. Aku yakin mereka pasti akan sering bertemu setelah malam ini. Aku senang karena Si Bapak bakal tidak kesepian di ibukota ini bila sedang dilanda birahi.

Sejak menikmati adegan Si Bapak dengan Eks Model itu membuatku keranjingan untuk mencoba mengadakan kembali acara-acara begini namun dengan aktor dan aktris yang berbeda.
E N D

No comments:

Post a Comment