Thursday, 5 May 2016

TANTE RAYA




Tante Raya adalah tateku yang memberikanku kepuasan dan kenikmatan dalam Sex. Karena sejak
aku tinggal dirumahnya aku selalu menjadi pelampiasan nafsu Sex tante Raya yang besar.


Pertama kali aku berhubungan Sex dengan tante Raya adalah ketika aku memepergoki tante Raya sedang masturbasi, namun bukannya tante Raya malu kepadaku malah tante Raya
menggeretku masuk dalam kamarnya dan menyuruhku untuk memuaskan nafsu Sex nya itu.
sementara aku sudah tidak bisa menolak karena tante Raya langung memegang penisku dan
langung membuka celana dan celana dalamku dan langsung mengulumnya. Aku pun tak menyia-
nyiakan kesempatan itu dengan memuaskan tante Raya.
Setelah kejadian itu, tante sering memintaku memuaskan nafsunya kapan saja ketika tante
Raya sedang sange. Dan aku pun menurutinya karena semua kehidupanku tante Raya yang
memenuhinya. Hingga sampai sekarang aku masih menjadi pemuas nafsu tanteku Raya. Sampai
suatu ketika siang hari setelah aku memuaskan nafsu tante Raya, tiba-tiba ada seseorang
datang mengetok pintu. Setelah aku membuka pintu, nampaklah seorang wanita setengah baya
dengan umur yang gak jauh beda dengan tante Raya sangat seksi sekali. Dengan pakaian yang
sangat indah sekali tubuh tante itu terlihat sangat seksi sekali dan wajahnya juga
terlihat sangat cantik sekali. Buah dadanya lumayan besar sekitar 36B dan pantat yang
bulat padat menghiasi tubuh tante itu.
Sapaan tante itu membuyarkan pandanganku, dan kemudian tante itu mencari tante Raya. Aku
memepersilahkan masuk tante itu dn langsung memanggilkan tante Raya dan tak lama tante
Raya pun keluar dan mereka tampak karab sekali. Ternyata setelah aku mendengar
percakapanya ternyata tante cantik tante eksi itu namanya adalah tante Dira dan dia adalah
adik perempuan tante Raya. Gilaaak bener, kakak adik dengan wajah cantik dan tubuh yang
sangat bahenol sekali untuk dinikmati.
Dirumah, tante Raya sudah beberapa kali berpesan padaku jangan sampe aku perlakukan Tante
Dira sama sepertinya, rupanya Tante Raya cemburu karena ngeliat kemungkinan itu ada.
Sampai suatu ketika tante sedang pergi dengan om ke Surabaya selama dua hari. Sehari
sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama tanteku di sebuah motel deket
rumah, biar aman. Disana sekali lagi tante Raya berpesan Aku mengiyakan, aku bersusaha
meyakinkan.



Setelah tante dan om berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Dira
dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Beberapa kali aku menggoda Tante
Dira dengan cerita-cerita menjurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan
nafsu ingin menyetubuhi Tante Dira, malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang
kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.
Hari mulai malam ketika Tante Dira masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai
melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Dira
menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante
Dira tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam-idamkan kini
terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Dira membasuh wajahnya. Sejenak
dia diam dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama.
Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku
gemetaran melihat adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Dira menjelajah setiap
jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Dira bergetar dan
dengan mata menutup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas. Dia
orgasme. Begitu cepatkah? Karena penisku juga sudah menggeliat-geliat, aku menuntaskan
nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga
mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.
Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata,
wajah cantik Tante Dira sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku
bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Dira memanggilku lirih.
“Bayu, nggak baik mengintip,” kata tante Dira.
“Aduh mati aku ketahuan deh,” gumamku dalam hati.
“Maaf, tante ga sengaja,” kataku pelan
“Nggak apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Dira lagi sambil tangannya
melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.




Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung
loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejap aku sudah stand by di depan pintu
kamar mandi. mataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan
pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Dira melilitkan handuk
ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan
sangat menggairahkan.
“Kamu pake ngitip aku segala,” ujar Tante Dira.
“Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku kena tampar, hehehe,”
balasku.



Tante Dira memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia
mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya.
Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Dira tuh orang desa. Ternyata keahlian bercinta
itu tak memandang desa atau kota yah.



Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari
jangkauan kini bener-bener dekat, bahkan menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri
kemudian Tante Dira membungkuk dan melahap Penisku yang sudah tegak kembali. Lama aku
dihisapnya, nikmat sekali rasanya. Tante Dira lebih rakus dari tante Raya. Atau mungkin
disinilah letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Beberapa menit kemudian setelah puas
menghisap, tante Dira mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau
maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora
menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Dira menggelepar. Erangan demi
erangan keluar dari mulut Tante Dira.




“Bayu kamu hebat, pantesan si Raya puas selalu,” cerocos Tante Dira.
“Emangnya Tante Dira tau?” jawabku disela aktifitas menjilat.
“Ya tantemu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia berpesan jangan menggodaku, dia
cemburu tuh,” balas Tante Dira.


Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap
jengkal kulit putih mulus Tante Dira.

“Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi
pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, hehehe kamu
tertipu ya, tapi yo, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar,” kata
Tante Dira lagi.
Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.

Lalu aku bilang padanya “Sebentar lagi tante belom juga apa-apa masa mau langsung sih”.
“Creeep…” secara tiba-tiba ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah vaginanya itu.
“Aaahh… kamu nakaal,” jeritnya cukup keras. Terus terang vaginanya adalah terindah yang
pernah kucicipi, bibir vaginanya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu
membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir vagina itu
dengan mulutku. “Ooohh lidahmu.. oooh nikmatnya Bayu…” lirih Tante Dira.

“Aahh.. sayang… Tante suka yang itu yaahh.. sedooot lagi dong sayang oooggghh,” ia mulai
banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu
mesra untuk tahap awal ini.
Lima menit kemudian… “Sayang.. Aku ingin cicipin punya kamu juga,” katanya seperti
memintaku menghentikan tarian lidah di vaginanya.
“Ahh… baiklah Tante, sekarang giliran Tante lagi yah..,” lanjutku kemudian berdiri
mengangkang tepat di depan wajahnya . Tangannya langsung meraih Penisku dan sekejap
terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata.


“Okh Bayu… indah sekali punyamu ini..” katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah
kepala Penisku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.

“Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm… ngggmm,” belum lagi kata-kata
isengnya keluar aku sudah menghunjamkan kearah mulutnya dan, “Crooop..” langsung memenuhi
rongganya yang mungil itu.

Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian
yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.

“Aduuuh enaak… ooohh enaknya Tante ooohh..” sementara ia terus menyedot dan mengocok
Penisku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak.

Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari
tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu.
Sesekali ia menggigit kecil kepala Penisku dalam mulutnya, “Mm… hmmm…” hanya itu yang
keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.
“Crop…” ia mengeluarkan Penisku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan
lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani
yang sepertinya sudah membanjir di bibir vaginanya.Cerpen Sex

“Aoouuuhh… Tante nggak tahan lagi sayang ampuuun… Bayuooo… hh masukin sekarang juga,
ayooo..” pintanya sambil memegang pantatku. Segera kuarahkan Penisku ke selangkangannya
yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang vaginanya yang terbuka lebar,
pelan sekali kutempelkan di bibir vaginanya dan mendorongnya perlahan.

“Nggg… aa.. aa.. aa.. iii.. ooohh masuuuk… aduuuh besar sekali sayang, ooohh…” ia
merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris.
“Ooohh.. aa… aahh… aahh… mmhh geliii ooohh enaknya, Baaayyyy… oooh,” desah Tante Dira.
“Yaahh enaak juga Tante.. ooohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante,
nikmat sekali seperti ini, ooohh enaakk… ooohh Tante ooohh..” kata-kataku yang polos itu
keluar begitu saja tanpa kendali.

Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol
itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan vaginanya yang tertusuk Penisku, secara
otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula vaginanya
menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.

Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Dira terasa menegang, aku mengerti
kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, “Bayuoo… aahh aku nngaak…
nggak kuaat aahh.. aahh.. ooohh…”

“Taahaan Tante… tunggu saya dulu nggg.. oooh enaknya Tante.. tahan dulu … jangan keluarin
dulu..” Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Dira menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di
pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa
memberikan remasan pada buah dadanya.

Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk
memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. “Ooo… nggg… aahh… sayang sayang.. sayang..
oooh enaak..

Tante kelauaar.. ooohh.. ooohh…” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku
merasakan jepitan vaginanya disekeliling Penisku mengeras dan terasa mencengkeram erat
sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang vaginanya
sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

Kemudian aku genjot lagi tanpa memberikan waktu untuk istirahat untuk Tante Dira. Selang
tak berapa lama Tante Dira mengerang nikmat dan merem melek setiap kali kugenjot dengan
batang kejantananku yang sudah besar dan memerah.

Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam.
Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya
berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet.

Agak sedikit menyamping kuarahkan Penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget
gigitan vaginanya ketika kugenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara
Penisku masih tetep aktif keluar masuk.

Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk,
tante Dira menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh
terasa nikmatnya karena batang Penisku seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk
tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Dira mendesis-desis seperti kepedesan. Lama
kami mengeksplorasi gaya ini.

Dalam beberapa menit kemudian Tante Dira memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi.
Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener tiduran karena
punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran.

Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan
tangan kanannya memegang Penisku, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah
membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Dira
sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.Cerpen Sex

Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah
dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.

“Bayu, aku mau nyampe lagi nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.

Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi
lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari
vaginanya. Dan perlahan mulai kugenjot lagi. Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi
susulan. Uh tante Dira memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi.
Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama
seperti itu, kini giliranku mau sampai.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.

“Sama-sama ya Bayu, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.

Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah
berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak,
emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat
tubuh Tante Dira dan kamipun mandi bersama.

Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau.
Kubiarkan Tante Dira yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun
bukannya kami kekamar masing-masing,

Tante Dira langsung menyusul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih
telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak
berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara.


Kuhitung ada sekitar 10 kali kami keluar bersama. Aku sendiri sudah terbiasa dengan
orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi,
tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.

Selama 2 hari Tante Raya di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante
Dira. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Dira tinggal dirumah Tante Raya. Selama
itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta.

Aku harus melayani Tante Raya dan juga bermain cinta dengan Tante Dira. Semua pengalaman
itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang dua-duanya
punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.

No comments:

Post a Comment