Wednesday, 13 April 2016

TUGAS DINAS



Aku Karina atau biasa di panggi Ririn. Ortuku memang sudah membiasakan-ku untuk mengenakan hijab dari
kecil. Walaupun mengenakan hijab, aku merupakan tipe wanita yang tidak bisa ketinggalan mode. Oleh karena
itu aku selalu memperhatikan penampilan-ku, mulai dari pakaian mode terbaru sampai merawat tubuh.
Sebagai seorang wanita normal, aku merasa senang apabila penampilanku membuat orang lain atau lawan jenis
memperhatikanku dan memujiku. Tetapi aku bukanlah wanita nakal atau murahan, membuat diriku menjadi pusat
perhatian memberikan-ku kepuasan tersendiri dan menjadi lebih percaya diri.



Walaupun kini aku sedang berada di puncak karierku sebagai seketaris direktur perusahaan ternama, Aku
tetap menghormati suamiku. Apalagi usia kami yang tepaut cukup jauh yaitu 9 tahun. Penghasilan suamiku
yang jauh lebih kecil, tidak menjadikan-ku istri yang membangkang. Kehidupan keluarga kami cukup harmonis
dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki.
Sudah hampir 2 tahun belakangan ini, aku diangkat sebagai seketaris dari direktur utama di perusahaan
trempat-ku bekerja. Aku memang termasuk wanita yang rajin dan ulet dalam bekerja, oleh karena itu Pak
Simon mengangkatku sebagai seketaris-nya langsung.

Pekerjaan-ku sebenarnya tidaklah terlalu sulit, hanya membantu mengatur dan mengurus segala keperluan
administrasi dari Pak Simon. Namun profesi ini mewajibkan-ku untuk selalu ikut kemana-pun Pak Simon pergi
mengurusi perusahaan, oleh karena itu profesi ini sungguh menyita waktu-ku.
Tentunya aku terlebih dahulu meminta pendapat suamiku, sebelum menyetujui pengangkatan jabatan tersebut.
Dan untung-nya suamiku sangat pengertian dan memaklumi bila terkadang aku harus pulang malam atau pergi
keluarkota bersama Pak Simon karena meeting atau pertemuan bisnis.

Pak Simon adalah pria paruh baya keturunan, berusia 48 tahun. Dengan kulit yang putih dan mata yang sipit
membuat siapa saja yang melihatnya langsung tahu kalau dia adalah pria keturunan. Walaupun terkenal
dengan pribdi yang tegas, sebenarnya Pak Simon adalah orang yang cukup humoris dan asik untuk diajak
komunikasi. Candaan-nya yang apa adanya serta tawanya yang khas, seringkali menghiburku saat penat
bekerja.

Sebenarnya penampilan Pak Simon tergolong biasa layaknya bos, dengan rambut yang selalu disisir ke
samping dan klimis, perut buncit yang terlihat lucu di tubuh pendeknya. Pakaian mahal dan jam mahal
selalu menempel di tubuhnya.



Pak Simon memang sangat menghormatiku sebagai wanita berhijab, dan tidak pernah melakukan hal yang kurang
ajar kepadaku. Walau kadang becandaan kami sering menyerempet-nyerempet ke arah Fulgar, itu pun masih
dalam batas wajar layaknya obrolan antara orang dewasa.

Hingga saat ini, pagi ini aku langsung sibuk merapihkan pakaian ke dalam koper. Tentu saja setelah
selesai dengan kewajiban pagi-ku untuk melayani suamiku dan anak-ku yang tengah bersiap pergi kerja dan
bersekolah.

“Mah.. jadi pergi ke Bali?” Tanya suami-ku yang kembali masuk kamar setelah mengantar anak-ku untuk naik
jemputan sekolah.

“Jadi Pah.. paling dua sampai tiga hari aja kok sayang” Jawab-ku sambil terus merapihkan isi koper di
atas tempat tidur.

“Jangan diforsir kerjanya yah mah!!” Ujar Suamiku yang kini duduk pinggir tempat tidur.

Melihat suamiku yang sepertinya agak berat untuk melepas aku pergi, aku pun duduk dipangkuannya dan
melingkarkan tangan-ku di lehernya.“Iya Pah.. Papah juga jangan lupa makan yah” Ucapku manja.

Aku saat ini memang belum mengenakan hijab-ku dan hanya mengenakan tangtop putih dan celana kerja panjang
bahan yang senada dengan blazer coklat yang nanti akan aku kenakan untuk menutupi bagian atas tubuh-ku.

“Papah mau..kok liatin nenen mamah gitu?” Tanya-ku manja karena melihat pandangan suamiku yang terus
menatap belahan di atas tangtopku.
“Pakaian kamu kok seperti itu mah?”

“Iya.. kan nanti ditutup blazer dan kerudung pah”

“Udah ah jangan diliatin terus nanti kita telat” Ujar-ku yang langsung bangkit dan mengenakan blazer seta
penutup kepala.

Kami pun berangkat ke tujuan masin-masing. Singkat cerita setelah janjian bertemu di Air port, Aku dan
Pak Simon pun langsung terbang ke Bali. ceritasexterbaru.org Sebenarnya aku cukup senang jika harus berkerja menemani Pak
Simon ke luarkota, karena bisa jalan-jalan geratis dan menjadikan pekerjaan tidak membosankan.

Seperti biasa setelah kami check in di salah satu hotel bintang lima, kami langsung berangkat untuk
meeting di salah satu cabang perusaan disana. Dan baru kembali ke hotel setelah acara makan malam bersama
karyawan dan jajaran direksi di sana.

Tentu saja kami menginap di kamar hotel yang berbeda namun bersebelahan. Setelah mandi dan merapihkan
beberapa dokumen. Aku menyempatkan diri untuk mengubungi anak dan suamiku. Tak beberapa lama kemudian Pak
Simon menelefon untuk membahas jadwal besok.

Setelah kembali mengenakan pakaian yang sedikit santai, aku pun turun menyusul Pak Simon yang telah siap
menunggu di lobi hotel. Dan akupun ikut duduk dan mulai menjelaskan beberapa rincian pekerjaan yang akan
dikerjakan selama di Bali.
“Hmm.. sepertinya akan sibuk kita Rin” Ujar Pak Simon yang hendak menyeruput secangkir expresso. Pak
Simon memang terbiasa memanggilku Ririn, mungkin agar lebih akrab dan tentu saja aku tidak
mempermasalahkan hal tersebut. Toh umur kami memang tepaut cukup jauh.

“Iya pak.. Walau cabang kecil tapi transaksi disini cukup ramai” Jawab-ku

“Bisa gak sempat saya jalan-jalan sambil liat-liat cewek disini..Hahaha” Ucap-nya santai sambil diikuti
tawanya yang khas.

“Kan bisa liat saya pak..” Jawab-ku mengikuti candaan-nya.

“Bosen ah..Hahahahha”

Tawa kami pun meledak seketika, memang tidak aneh bagiku dan Pak Simon untuk bercanda seperti ini.
Obrolan kami pun berlanjut dengan bahasan yang lebih santai dan banyak diselingi candaan dan tawa.

Setelah selesai berdikusi dan melepas penat, kami pun kembali ke kamar masing-masing. Setibanya di kamar
akupun langsung membersihkan diri dan berganti baju tidur. Tak berapa lama memejamkan mata, tiba-tiba aku
terbangun karena mendengar televise yang tiba-tiba menyala.

Aku pun kaget karena melihat remote yang masih tergeletak di atas meja kecil disampingku. Awalnya aku
hanya menganggap ini adalah kebetulan dan kembali mematikan televise tersebut dan kembali memejamkan
mataku. Namun kembali aku terbangun akibat suara televise yang kembali menyala.

Aku yang memang penakut sejak kecil, mulai merasa takut. Ku pandangi seluaruh isi hotel yang tiba-tiba
terlihat seram. Mungkin karena aku yang penakut, aku mulai merasakan bulu kuduku merinding. Dengan cepat
aku raih handphone di samping tempat tidurku dan menelefon suamiku. Namun setelah beberapa kali
panggilan, tidak ada juga jawaban dari suamiku.
Semakin lama rasa takut-ku semakin menjadi-jadi, dan aku tidak bisa tidur. Ku lihat jam di meja sudah
menunjukan jam 00.30, namun aku juga belum bisa tidur karena masih dilanda rasa takut. Tidak biasanya aku
mengalami hal ini, kali ini memang sungguh lain.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Pak Simon yang berada disebelah-ku. Aku sadar betul kalau
itu akan mengganggu waktu istirahatnya, namun aku sudah tidak punya jalan lain.
“Halo.. Ada apa Rin?, tengah malam begini…” Tanya suara yang berasal dari handphone-ku

“Eh..anu Pak.. Bapak sudah tidur? Maaf nih saya jadi ganggu.. Begini pak..” Aku pun mulai menjelaskan
kejadian yang baru saja aku alamai dan alasan-ku meneleponnya tengah malam begini.

“Kamu kebanyakan nonton film horror saja Rin.. “ Ujar Pak Simon menenangkan-ku dengan nada sudara
mengantuk.

“Tapi pak.. saya tidak berani sendirian dikamar..”

“Lalu..?

“Eh..anu pak.. kalau boleh saya numpang tidur di kamar bapak malam ini saja.. “ Pinta-ku memohon.

“Yasudah.. kalau kamu mau-nya begitu”

“Eh.. boleh pak?”

“Sudah.. cepat kalau mau kesini.. saya mengantuk sekali”

“Ba…baik pak”
Setelah menutup telepon aku pun langsung memakai kembali pakaian dalam yang sempat-ku lepas sebelum
tidur. Karena tanpa Bh, putting payudaraku akan terlihat menonjol di balik dasater tipis yang kini aku
kenakan. Tidak lupa aku kembali mengenakan penutup kepala dan sweater untuk menutupi lengan-ku yang tidak
tertutupi daster tanpa lengan.

Dan aku pun membunyikan bell kamar Pak Simon, dengan wajah mengantuk Pak simon yang saat itu mengenakan
kaus putih polos dan celana pendek, terlihat sedikit terbengong melihatku saat membuka pintu. Mungkin
karena wajah-ku yang tanpa make-up fikirku.

Setelah mempersilahkan aku masuk Pak Simon langsung mengunci kembali pintu kamarnya.“ Kamu nih tumben
ketakutan, tidak seperti biasanya” Ujar Pak Simon

“Maaf Pak.. saya juga heran.. sepertinya ada yang aneh dengan kamar itu”

“Sudah-sudah.. sekarang lebih baik kamu tidur, karena besok jadwal kita masih sibuk”

“Eh..iya pak” Jawab-ku yang menjadi meraasa tidak enak sendiri, dan masih berdiri terpaku di kamar Pak
Simon.
Setelah rasa takut-ku perlahan mulai menghilang, tiba-tiba aku tersadar kalau kini aku harus tidur
seranjang dengan Bos-ku. Tapi biarlah ini lebih baik dari pada tidak bisa tidur semalaman, lagian Pak
Simon tidak pernah bersikap kurang ajar dan selalu menghormatiku sebagai seketaris-nya.

Dengan mencoba berfikir positif aku mulai merebahkan diriku disamping Pak Simon yang sudah terlebih
dahulu tidur membelakangiku. Baru kali ini aku merasakan tidur seranjang dengan pria yang bukan suamiku.
Walaupun keberadaan Pak Simon membantu menghilangkan rasa takut-ku, namun perasaan adanya pria lain
disamping-ku sunggu tidak bisa ku hilangkan begitu saja.
“Rin.. Kamu sudah tidur?” Tanya Pak Simon yang tidur membelakangiku.

“Be..belum..” Jawab-ku.

Mendengar jawaban dariku, tiba-tiba Pak Simon membalikan badannya kearah-ku. “Kamu masih takut?” Tanya-
nya dengan lembut.

“Ti..tidak Pak.. Saya hanya menjadi tidak enak mengganggu bapak malam-malam begini” Jawab-ku sambil
menoleh kearahnya. Tentu saja aku berbohong karena bukan itu alasan utama aku belum juga bisa memejamkan
mata-ku.

“Kenapa harus tidak enak..saya malah senang bisa ditemani kamu” Jawab Pak simon

“Maksud Bapak?” Tanya-ku tidak mengerti.

“Yah.. ini seperti mimpi jadi kenyataan” Ujar Pak Simon dengan tatapan penuh arti.

“Maaf pak.. saya tidak mengerti maksud Bapak”

“Rin.. kalau boleh saya jujur, Saya sangat senang dengan cara kerja kamu yang rajin dan ulet. Tapi…”

“Tapi pa pak?”

“Hmm.. “ Pak Simon pun menghela nafas panjang.. “Begini loh rin.. sudah hampir dua tahun belakangan ini
waktu banyak menghabiskan waktu bersama kamu.. Entah mengapa saya semakin lama semakin mengagumi mu” Ujar
Pak Simon dengan lembut.

“Maaf Pak.. saya masih tidak mengerti maksud perkataan Bapak.”Perkataan Pak Simon membuatku sunggu tidak
dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menanggapi kata-katanya.
“Kamu cantik Rin, pintar, rajin, jujur dan senang tiasa menemani saya… Jujur saja sebagai pria normal
saya mulai menaruh perasaan kepadamu.”
Mendengar pujian dan pengakuan Pak Simon yang terlihat tulus, membuatku merasa kaget. Walau sebenarnya
diriku juga mengagumi sosok Pak Simon yang tegas dan berwibawa, namun itu hanya sebatas sebagai atasan
dan panutan. Sehingga pengakuan Pak Simon tentang perasaannya kepadaku sunggu membuatku terkejut dan
tidak tahu harus bagaimana.

Sebenarnya bisa saja aku menamparnya dan menolak perasaanya, karena setatus kami yang bukan lagi single.
Namun aku benar-benar bingung harus merespon seperti apa. Bukan karena setatusnya sebagai atasan-ku,
sehingga aku takut akan dipecat bila menolah dan memakinya saat ini. Namun Pak Simon terlalu baik dan
bayak berjasa untukku, dan aku sama sekali tidak ingin menyakitinya.
“Pak.. Saya mengerti.. mungkin ini karena kita yang sudah sering bersama, saya rasa itu hal yang wajar
karena saya juga mengagumi bapak, namun Bapak kan tahu kalau saya sudah memiliki suami dan anak,
begitupun dengan bapak” Jelas-ku dengan sangat hati-hati.

“Iya.. Rin saya juga berfikir demikian, terima kasih kamu sudah tidak marah dan mau mengerti.. Maafkan
kelancangan saya” Balas Pak Simon

“Tidak perlu minta maaf pak.. Mungkin saya yang sebaiknya lebih menyadari posisi saya dan mulai menjaga
jarak dengan Bapak” Ujar-ku merasa bersalah melihat ekspesi wajah Pak Simon.

“jangan-jangan,.. Menjaga jarak hanya akan membuat saya merasa bersalah dan lebih menyesal..”

“Baiklah Pak.. Saya mohon maaf karena tidak bisa membalas kebaikan perasaan Bapak”

“Tidak apa-apa Rin. Itu salah saya yang tidak bisa menahan diri terhadap wanita sebaik dan secantik
kamu..”Cerita Sex Terbaru
Jujur saja pujian yang terus Pak Simon ucapkan, entah mengapa begitu mengena dihatiku. Dan hati kecilku
malah merasa bersalah karena menolak perasaan Pak Simon.
“Rin.. Boleh saya meminta sesuatu yang sepertinya agak berlebihan?” Tanya Pak Simon dengan tatapan yang
dalam.

“Meminta apa pak.. ?kalau saya bisa pasti akan saya akan saya lakukan”

“Boleh saya melihat-mu tanpa mengenakan penutup kepala?” Mohon Pak Simon memelas.

Entah mengapa walau tahu betul itu adalah sebuah permintaan yang tidak layak diucapkan kepada wanita
berhijab sepertiku. Aku sunggu tidak bisa membuat Pak Simon lebih kecewa dan menetapkan diri untuk
memenuhi permintaannya.
“I..ya..bo..boleh..” Jawab-ku dengan sedikit gemetar

Aku pun bangkit terduduk dihadapan Pak Simon yang terus menatapku. Dengan jantung berdebar, pelahan
akupun meraih ujung penutup kepalaku dan menariknya melewati leher jenjangku yang mulus dan putih.

Setelah penutup kepalaku terlepas, aku melihat wajah Pak Simon yang terlihat terpesona menatapku.
Seketika aku merasa pipiku panas menahan malu, karena belum ada pria lain selain ayah dan suamiku yang
melihatku tanpa penutup kepala. Kini Pak Simon pasti sudah dapat melihat rambut hitam-ku yang selalu
dipotong sebatas punduk.

“Kamu cantik Rin.. sungguh benar-benar cantik” Puji Pak Simon

“Jangan dilihatin terus pak, saya malu..”

“Maafkan Bapak Rin, tapi kamu benar-benar cantik… Boleh Saya menecup kening-mu sebagai tanda sayang?”
Aku yang mulai terbuai dengan pujiannya, hanya mampu mengangguk lemah dan tidak mampu menolak
permintaanya. Dengan perlahan Pak Simon bangkit dan menatap wajah-ku dalam-dalam.

Dengan amat perlahan Pak Simon mengarahkan wajahnya mendekati wajah-ku. Sementara aku hanya mampu
terpejam pasrah. “CUP” Aku pun merasakan sebuah kecupan yang penuh dengan kasih sayang di keningku. Bibir
Pak Simon terasa begitu basah di dahiku.
“Terima kasih Rin.. Saya senang sekali saat ini.. “

Sasat membuka mataku, aku dapat melihat raut bahagia Pak Simon, yang terpampang di hadapan-ku.
“Kita tidur saja Rin.. besok kita harus bangun pagi..”
Aku pun kembali merebahkan tubuhku yang masih terasa gemetar. Dengan sengaja aku tidak mengenakan kembali
penutup kepalaku. Aku berfikir mungkin itu bisa membalas sedikit rasa bersalahku karena telah menolak
perasaan Pak Simon, yang selalu baik terhadap-ku.
Kami pun tidur dengan saling berhadapan, aku dapat melihat jelas kalau mata Pak Simon terus memandangi
wajah-ku. Sampai entah kenapa ide itu muncul.

“Pak.. Kalau bapak mau.. bapak boleh kok pegang tangan saya”

“Benar boleh RIn?” Tanyanya memastikan apa yang aku ucapkan.

Aku pun mengangguk sambil tersenyum.“Iya boleh…”
Dengan amat lembut aku merasakan, jemari gemuk tangan Pak Simon mulai menggenggam tangan-ku. Entah kenapa
aku langsung merasakan kenyamanan ketika tangan Pak Simon menggenggam tangan-ku, dan akupun tanpa sadar
tertidur lelap.

Esok paginya aku terbangun lebih dulu, walaupun sempat kaget saat melihat pria lain yang tidur
disampingku. Dengan perlahan aku melepaskan tangan-ku yang masih berada di genggaman tangn Pak Simon.

“Kamu sudah bangun Rin?” Tanya Pak Simon yang ikut terbangun.

“Su..sudah pagi pak.. saya mau kembali ke kamar untuk bersiap-siap”

“Yasudah.. nanti saya tunggu di bawah..” Balas Pak simon.
Dengan segera aku bangkit dan kembali kekamar-ku untuk mandi dan bersiap-siap. Tidak lupa aku
memberikabar kepada suami-ku. Aku sungguh bersyukur karena tadi malam tidak terjadi apa-apa, walau kata-
kata Pak Simon masih terngiang di fikiranku.

Setelah mandi dan siap-siap aku pun segera turun ke lobi untuk menyusul Pak Simon. Dan seperti biasa dia
sudah siap menunggu di lobi.
“CUP” … “kamu cantik sekali pagi ini Rin..” Ucap Pak Simon yang tiba-tiba mengecup pipi-ku.
Walau sedikit terkejut menerima perlakuan yang sedikit berani dari Pak Simon. Aku merasa tidak keberatan
dan membalasnya dengan sebuah seneyuman manis.
“Bapak…Bikin kaget saja.. gak enak nanti diliat orang ..” Ucap-ku

“Hahahha… Sudah-sudah.. mari kita berangkat”
Kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami disana. Namun setelah malam itu, perlakuan Pak Simon kepadaku
sedikit berubah. Aku merasakan kalau Pak Simon menjadi lebih perhatian ketimbang biasanya. Dan selalu
melemparkan senyum ketika kami saling pandang. Walaupun sedikit merasa aneh, aku tidak ingin terlalu
mengambil pusing, dan berusaha bersikap wajar seperti bisa. Bahkan sesekali Pak Simon berani merangkul
pinggangku yang langsing, tentu saja aku menepisnya sehalus mungkin.Cerita Sex Terbaru

Setelah selesai dengan segala urusan pekerjaan, Kami pun kembali ke hotel. Sore itu Aku, aku langsung
meminta untuk pindah kamar, namun sayang semua kamar sudah penuh karena wisatawan di bali sedang ramai
saat ini. Jadi mau tidak mau aku harus kembali bermalam di kamar-ku semalam.

Dengan sedikit rasa takut, aku memberanikan diri untuk sekedar membersihkan diri dengan mandi dan
berganti pakaian. Seperti biasa aku dan Pak Simon makan bersama di restoran hotel. Dam setelah itu kami
pun kembali ke kamar masing-masing.

“Rin.. Kalau kamu takut.. kamu boleh menginap dikamar saya lagi..”

“Oh.. yang benar Pak..?.. Jujur saja saya juga masih takut tidur di kamar ini..” Jawab-ku yang sedari
tadi mengharapkan kalimat itu terucap dari Pak Simon.
Setelah menghubungi anak dan suamiku, aku bersiap untuk pindah ke kamar Pak Simon.Dan entah mengapa aku
ingin berpenampilan baik di depan Pak Simon, oleh karena itu aku menyempatkan diri untuk sekedar
bercermin melihat penampilanku. Ku lihat wajah-ku yang terap cantik tanpa makeup. Dan aku pun mengenakan
pakaian yang sedikit memamerkan bnentuk tubuhku. Entah mengapa aku begitu senang ketika Pak Simon memuji
penampilanku.

Dengan tetap mengenakan penutup kepala model santai. Aku kini mengenakan sebuah legging panjang hitam dan
kaus putih berlengan panjang. Tidak lupa aku mengenakan parfum.

Setelah sampai didepan pintu kamar Pak Simon akupun langsung menekan bell, yang langsung disambut dengan
membukakan pintu kamarnya.

“Mau nginap sama Bapak lagi Rin..” Ledeknya.

“Maaf yah pak.. ngerepotin terus” Ujar-ku memasang wajah bersalah

“Sudah-sudah.. silahkan masuk”

Aku pun masuk ke dalam kamar Pak Simon. Sebenarnya aku sadar betul kalau tidak pantas bagi seorang wanita
dewasa bersuami sepertiku harus berduaan dengan atasannya. Namun dengan mengatas namakan rasa takut tidur
sendiri aku mencoba membenarkan apa yang aku lakukan ini.
“Kalau bapak merasa terganggu saya tidak apa-apa kok tidur di sofa..” Ujar-ku yang merasa tidak enak.

“Gak apa-apa kok… nih kamu mau susu cokelat panas?“ Ucap Pak Simon sambil menyodorkan segelas cokelat
panas ke padaku.

“Te..terima kasih pak” Aku pun meraih cokelat panas tersebut dan mulai meminumnya.
Denga ditemani segelas susu panas kami pun mulai berbincang-bincang sambil duduk diatas tempat tidur. Dan
beberapa kali aku mendapati mata Pak Simon yang terus mencuri-curi pandang ke arah dadaku yang sedikit
tertutup penutup kepala. Entah mengapa aku malah merasa senang saat Pak Simon memperhatikan tubuh-ku.Dan
entah setan dari mana tiba-tiba aku pun mulai gelap mata.
“Pak.. Bapak mau liat ini?” Tanya-ku sambil menunjuk payudaraku.

“Ehh.. saya ti..tidak bermaksud..” Jawab Pak Simon gelagapan

“Maaf.. Pak.. dari tadi saya lihat mata bapak ngelirik ke dada saya terus.. Kalau bapak mau liat bilang
saja.. asal tidak perlu melepas pakaian, saya tidak keberatan kok”

“Ka..kamu serius Rin..?”

“He..em” Jawab-ku menganggukan kepala

“Boleh saya?”

“Tapi liat dari luar aja loh pak” Ujar-ku sambil mengangkat penutup kepala yang menutupi bagian dadaku.

Pak Simon pun mulai menatap langsung ke arah payudaraku yang hanya bebalut kaus tipis dan Bh didalam-nya.
Dengan melihat ekspresi wajah Pak Simon, Aku-pun mulai merasakan sensasi rasa malu bercampur rasa aneh
yang terus mendorongku

“Rin walaupun hanya melihat dari luar.. sudah dari lama saya mencuri-curi pandang untuk melihat
payudaramu… ini seperti mimpi saja” Ucap-nya senang.

Akupun melihat Pak Simon mulai mengarahkan tangannya ke depan payudarahku. “boleh saya…?”

aku pun hanya bisa mengangguk kecil, Degan perlahan tangan tersebut semakin mendekati payudara-ku. Aku
yang tidak kuat menahan rasa malu, hanya mampu terpejam menunggu sentuhan tangan Pak Simon.

Dan akhirnya akupun dapat merasakan tangan Pak Simon menyentuh payudaraku. Dengan lembut tangan tersebut
mulai bergerilya mengusap-usap payudara-ku. Rasa geli bercampur risih mulai menyelimutiku yang tidak
sanggu melihat apa yang terjadi dengan payudara-ku.

Lama-kelamaan, usapan tersebut mulai berubah menjadi remasan lembut yang terasa begitu nikmat. Dengan
perlahan Pak Simon mulai merebahkan tubuhku yang mendadak lemah ke atas kasur.

Dan aku pun terkejut, ketika merasakan lumatan di bibir-ku. Dengan segera aku membuka mataku, dan benar
saja wajah Pak Simon berada tepat dihadapan-ku sambil melumat bibir-ku dengan ganas.

Melihat ekspesiku yang terkejut, Pak Simon pun tersentak menarik tubuhnya menjauhiku.”Maafkan saya Rin,
saya tidak bermaksud seperti ini” Ucapnya dengan wajah bersalah.

“Bukan Pak.. Ini bukan salah siapa-siapa. Semenjak bapak mengatakan perasaan bapak kepada saya, saya
sungguh merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk bapak. Padahal saya sadar kalau
bapak telah banyak membantu hidup saya.”Cerita Sex Terbaru

“Maksud kamu..?”

“Iya Pak, Saya sangat mengagumi sosok bapak sebagai atasan saya, saya sungguh tidak ingin membuat Bapak
kecewa. Bahkan bila harus memberikan tubuh saya”

“Karina..” Panggil Pak Simon dengan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucap-kan.

Dengan senyum dan air mata yang mulai menetes di pipiku, aku memberanikan diri meraih telapak tangan Pak
Simon dan menaruhnya di payudaraku.”Maaf Pak, biarkan seketaris mu ini untuk terus melayani anda, dan
membalas segala kebaikan Bapak” Ucap-ku dengan lirih dan air mata.

“Terima kasih Rin..” Ucap Pak Simon yang langsung mendekatkan dirinya kepadaku.

Dengan perlahan dia langsung merangkul pundak-ku dan melumat bibir-ku. Tangannya pun mulai meremas
payudara-ku. Cumbuan Pak Simon mulai membuat-ku terhanyut, dan merespon dengan membuka bibir-ku,
membiarkan lidah-nya yang basah bermain di dalam mulut-ku.

Sampai tiba-tiba aku merasakan tangan gemuk Pak Simon terus turun dan meraih bagian bawah tubuh-ku. Aku
pun terkejut dan langsung melepaskan ciuman-nya serta menahan pergelangan tangan Pak Simon, “Pak saya
mohon, jagan lebih dari ini..” pinta-ku.

“Maaf Rin.. tapi saya sangat ingin melihat keindahan dibalik tubuh-mu yang selalu tertutup”

Ucapan Pak Simon membuatku yang sudah mulai dilanda biarahi , menjadi bimbang. Walaupun telah memberikan
kesempatan kepada Pak simon untuk menjamah-ku. Tapi maksudku tidak lebih dari ini. Aku sangat hawatir
kalau ini akan semakin membuatku terbawa.

“Pak saya mohon jangan, saya tidak ingin menghianati suami saya lebih dari ini” Jelas-ku mencoba
mengelak.

“Baik Rin, tapi saya sudah sangat bernafsu saat ini.. “ Ujar Pak Simon memelas.
Fikiran-ku pun kembali berkecambuk, sebenarnya cumbuan Pak Simon. Aku pun mulai terdiam membisu karena
tidak tahu harus berbuat apa. Namun Pak Simon terus saja merayuku dengan segala cara,di mengatakan kalau
hany ingin menggesekan penisnya di vaginaku dan hanya sebatas itu.
“Tapi saya ingin melepas Bh saya” Paling tidak payudara-ku masih bisa ku jaga fikir-ku.

“Baik RIn.. silahkan buka penutup kepala dan pakaian-mu.” Perintah-nya tidak sabar.
Aku pun bangkit dari tempat tidur, dan mulai melepaskan penutup kepala dan pakaian-ku. Hingga
terpampanglah tubuh mulus putih-ku yang selama ini terus ku tutupi dibalik pakaian-ku yang tertutup.

Sambil berusaha menutupi kedua payudara dan pangkal pahaku yang tentu saja percuma. Aku pun merebahkan
tubuhku ke atas tempat tidur. Dengan gemetar aku menunggu Pak Simon yang saat ini terlihat sedang begitu
menikmat memandangi setiap inci tubuh-ku.
“Kamu memang sangat cantik Rin.. Sudah saya duga tubuh-mu begitu bersih dan mulus” Ucapnya tanpa
berkedip.

“Cepat Pak selesaikan…” Pinta-ku yang sekuat tenaga menahan rasa malu dan jantungku yang terus berdebar
kencang.

Pak Simon pun mendekatkan tubuhnya di sampingku, dan mengecup bibirku. Setelah memberikan kecupan singkat
dibibirku. Pak simon langsung membenamkan kepalanya di sela payudaraku yang masih terutup BH putih.
Membuatu merasa kan sensasi geli, ketika bulu kasar di wajah pak Simon menusuk-nusuk kulit payudara-ku.

Sementara aku memutuskan untuk menutup kedua mataku, karena tidak kuasa menilhat tubuh-ku dicumbu oleh
pria lain selain suamiku. Sambil meremas erat seprei tempat tidur, aku berusaha mengontrol diri ku,
Karena kini aku mulai merasakan kecupan Pak Simon yang terus turun dari Payudara hingga kini di perut-ku.

Aku yang tak kuasa menahan geli mulai menggeliat-kan tubuhku sambil tetap memejamkan mata. Dan jantung-ku
pun semakin berdebar kencang saat merasakan ciuman Pak Simon kini mulai mengarah dan terus turun ke
pangkal paha-ku.

Setelah sampai tepat di vagina-ku. AKu pun dapat mendengar suara endusan Pak Simon yang menghirup nafas
dalam-dalam menikmati aroma vagina-ku yang sepertinya mulai basah.
“Punya kamu wangi sekali Rin.. “ Ujar Pak Simon sambil sesekali memberikan kecupan tepat di atas vagina-
ku yang masih tertutup calana dalam tipis.
Sampai tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang basah mullai menggelitik tepat di vagina-ku yang tertutup
celana dalam tipis, Dan bisa aku tebak itu adalah lidah Pak Simon. Menerima rasa geli tersebut aku pun
refleks menjepit kepala Pak Simon dengan kedua pahaku, agar menghentikan gerakan lidahnya yang semakin
terasa geli bercampur nikmat.

Dengan perlahan aku dapat merasakan kedua tangan gemuk Pak simon meraih pinggiran celana dalam-ku.
Mengerti apa yang akan dia lakukan aku pun mulai meringis sambil terpejam, dengan kedua tanganku semakin
kuat meremas seprai.

Perlahan-lahan aku pun mulai merasakan celana dalam-ku terus turun melewati kakiku. Rasa dingin udara AC
kamar pun mulai terasa membelai vagina-ku yang basah. Dan setelah berhasi meloloskan celana dalam-ku. Pak
Simon langsung menekuk kakiku dan membuatnya mengangkang.

Walaupun dengan mata terpejam, aku tahu persis kalau kini vagina-ku yang ditumbuhi bulu lebat telah
terpampang jelas di hadapan Pak Simon. Dengan segenap hati aku pun mempersiapkan diri-ku untuk menerima
apa yang akan Pak Simon lakukan dengan vagina-ku.

Sampai cukup lama aku merasakan dinginnya Ac di vagina-ku, namun belum ada pergerakan dari Pak Simon.
Karena merasa heran aku pun mencoba perlahan-lahan membuka mata-ku untuk melihat posisi Pak Simon.Cerita Sex Terbaru

Alangkah terkejutnya aku, ketika melihat Pak Simon yang ternyata baru saja melepaskan celana dalam, yang
menjadi satu-satunya pakaian terakhir ditubuhnya. Kini Aku pun Dapat melihat tubuh Gemuk Pak Simon telah
telanjang bulat. Di antara lipatan perut dan pahanya, aku dapat melihat penis Pak Simon yang terlihat
ereksi maksimal namun masih jauh lebih kecil dibandingkan kepunyaan suamiku.

Dengan perlahan aku melihat Pak Simon mengarahkan penisnya ke depan bibir vagina-ku yang kini terpampang
jelas karena posisiku yang mengangkan.
“Pak.. Saya mohon, Hanya digesek saja.. tidak lebih” Pinta-ku yang panik ketika melihat penis kecil Pak
Simon semakin mendekati vagina-ku.
Pak Simon pun hanya membalas dengan anggukan kepala dan tatapan tajam kea rah-ku. Aku pun kembali
memejamkan mata-ku menunggu sentuhan penis Pak Simon di vagina-ku. Sampai tiba-tiba aku merasakan
sentuhan di vagina-ku yang tentu saja itu adalah penis Pak Simon. Dengan lihai ia mulai menggesek seluruh
celah vagina-ku, bahkan tanpa sadar desahan mulai keluar dari mulutku.

Aku yang mulai menikmati gesekan penis Pak Simon, sudah tidak memperdulikan lagi saat merasakan kepala
penis Pak Simon sesekali hampir masuk kedalam lubang vagina-ku. Bahkan tubuhku mulai merespon dengan
menggeliat-geliat merasakan sentuhan penis Pak Simon di vaginaku.

“Rin…?” Panggil Pak Simon sambil tetap menggesek penisnya di permukaan vagina-ku.

“AHh.. iya Pak.. bapak sudah mau keluar?” Jawab-ku lirih karena menikmati gesekan tersebut.

“Belum Rin.. saya ingin merasakan jepitan milikmu…” Ujar Pak Simon diselingi nafas yang memburu.

“Ri..ririn juga mau pak, tapi Saya tidak ingin menghianati kepercayaan yang di berikan suami
saya..”jawab-ku yang sudah dilanda birahi

“Sudah terlambat Rin.. kita sudah sampai sejauh ini.. Dan lagi saya jamin, ini sama sekali tidak akakn
merusak rumah tanggamu..” Rayu Pak Simon sambil mulai menusuk-nusukan penisnya di lubang vagina-ku.

Sementara aku diam dan mencoba berfikir, Aku dapat merasakan penis Pak Simon terus bergerak masuk kedalam
vaginaku. Memberikan berjuta rasa nikmat di setiap permukaan dinding vaginaku.

“Rin.. bagainama…boleh saya?” Tanya Pak Simon lagi

“Bagaimana apanya pak.. punya bapak sudah masuk.. mau bagaimana lagi..”Jawab-ku yang hanya bisa pasrah.
Mendengar jawaban ku, Pak Simon hanya tersenyum dan mulai menggerakan penisnya di dalam vagina-ku. Aku
yang sudah terjebak sampai sejauh ini pun mulai mencoba menikmati bersetubuhan terlarang ini. Dengan
tanpa ragu-ragu lagi desahan dan jeritan mulai keluar dari mulutku, mengiringi hentakan penis Pak Simon
yang semakin bernafsu.

Tangan gemuk Pak Simon pun mulai menggapai tali Bh-ku..” Boleh saya lihat tubuh indahmu sutuhnya Rin”
Dengan cepat aku pun mengerti kalai dia ingin aku melepas BH yang kini menjadi satu-satunya penutup
tubuhku.

Setelah memberi respon dengan anggukan, aku pun mulai meraih pengait Bh di pundaku. Dengan perlahan aku
pun mulai melepaskan Bh-ku. Membuat Pak Simon terlihat begitu terpesona menatap ke arah payudaraku yang
kini terpampang bebas di hadapannya. Sementara rasa malu karena bertelanjang bulat di depan atasan-ku,
malah membuat vagina-ku semakin basah.

“Payudara kamu indah sekali Rin” Racu Pak Simon menatap kagum kea rah tubuh telanjang-ku yang selalu
tertutup.

Dengan ganas Pak Simon langsung menghisap putting kecoklatan-ku yang menyembul diantara payudara-ku.
Lidah kasar dan basah Pak Simon mulai menggelitik kulit putingku yang terasa semakin sensitif.

“awhhh… pak…yang satunya juga” Ujarku sambil menyodorkan payudaraku yang satunya.

Tentu saja Pak Simon langsung merespon dengan berpindah menghisap putting-ku yang satunya. Membuatku
tidak kuasa menahan rasa geli bercampurnikmat, hingga tanpa sadar kedua tangan-ku menjambak rambut Pak
Simon agar dia lebih lama bermain dengan putingku.

Aku pun tak kuasa lagi menahan orgasmeku, “AAAHHHKKKhhh…PAK..aku..aku..aahhhkkkkhh” Jeritku merasakan
gelombang orgasme yang begitu nikmat.

Sementara Pak Simon pun malah mempercepat kocokan penisnya di vaginaku yang terasa sensitif setelah
orgasme. Dan “Croootttt….crooottt…crooottt…” Aku pun merasakan beberapa semburan hangat di dinding
vagina-ku.

Setelah mengalami orgasme, tiba-tiba tubuh Pak simon yang penuh dengan keringat ambruk ke atas ubuh-ku.
Dengan perlahan penisnya yang semakin mengecil, terlepas dari jepitan vagina-ku. Diikuti lelehan seperma
yang mengalir keluar dari dalam lubang vaginaku.



Setelah kembali mengatur nafas kami, Aku pun merangkul lengan gemuk Pak Simon dan mendekapnya diantara
sela payudaraku yang basah oleh keringat. Dengan sayu aku pandangi wajah penuh kepuasan dari atasanku
itu.

Dengan lembut Pak Simon mulai mengusap rambutku yang selalu tertutup hijab, “terima kasih Rin..Sudah mau
mengerti..” Ucap Pak Simon diikuti kecupan di dahiku.

Entah mengapa aku mulai meraih penis Pak Simon yang kini hanya sebesar Ibu jari. “Pak.. Ririn sayan sama
Bapak… “ Ucap-ku sambil membelai penis kecil Pak Simon.

“Saya juga sayang sama kamu Rin..”

Lengan Pak Simon sungguh terasa empuk dan hangat di pelukan-ku, membuatku merasa nyaman dan mulai
tertidur . Biarlah apa yang akan terjadi nantinya, aku hanya ingin menikmati kenyamanan yang aku rasakan
saat ini.

No comments:

Post a Comment