Thursday, 14 April 2016

THREESOME



Teman SMA ku dulu yang bernama Gilang kini menjadi suamiku kami dikaruniai anak anak yang sudah remaja

sekarang dan kuliar di luar kota , sekarang tinggallah kami berdua di rumah terasa sepi , suamiku yang

bekerja sebagai karyawan PMA sehinga kehidupan kami sudah cukup.





Aku juga hobi dengan pergi ke salon unutk merawat tubuhku walaupun wajahku tidak cantik banget tapi

kata orang bodyku tidak boseni jika dilihat, suamiku selalu sering memuji dengan kata kat gombalnya

“hari ini kamu cantik baget sayangku”


Suamiku senang olah raga tenis dan golf kalau badan tidak terlalu tinggi 165 cm tapi cukup atletis

dengan berat badan 63 kg. Urusan diranjang sebenarnya aku cukup bahagia karena suamiku orangnya

telaten dan sabar dia selalu memberikan kesempatan dulu padaku untuk orgasme seteleh itu baru dia

melakukan penetrasi sampai aku orgasme yang kedua.


Pengalaman ini terjadi karena rasa kesepianku di rumah sendiri akhirnya aku usul untuk menerima kost

toh kamar anakku 2 kamar tidak ada yang nempati.


Akhirnya suamiku sepakat dia yang cari dan kebetulan ada teman kenalannya seorang pengusaha yang biasa

mondar-mandir Jakarta ke kotaku karena ada anak perusahaannya di kotaku.


Pertimbangannya dari pada ke hotel boros karena kadang harus sampai dua minggu. Namanya Rendra

(samaran) keturunan arab dengan cina orangnya tinggi (176 cm 76 kg) besar dengan kulit putih tapi

wajah arab kayak Omar Syarif dengan bulu diseluruh tubuhnya, orangnya sangat santun.


Kami cepat akrab bahkan seperti keluarga sendiri karena makan malam kami selalu bersama bahkan

pada waktu lapor Pak RT kami mengaku sebagai saudara. Oh iya aku panggilnya Dik karena umurnya baru 38

tahun.


Bahkan jika suamiku dan Aku pergi berlibur ke Tawangmangu atau Bandungan dan pas ada di kotaku ia kami

ajak. Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami Dik Rendra juga membantu kalau ada kerepotan

dirumah sehingga lingkungan taunya memang adik saya.


Untuk sehari-hari setelah berjalan 3 bulan kami makin akrab saja bahkan suamiku suatu hari, ketika

kami ngobrol habis makan malam.


“Ajaklah Isterimu jalan-jalan kemari Dik Rendra,” celetuk suamiku, “Biar

dia kenal mbakyumu” lanjutnya, Dik Rendra hanya diam dan menghela napas

panjang.


“Ada apa.. Ada yang salah?” lanjut Mas Gilang melihat gelagat yang kurang

enak.


“E.. Anu Mas Aku sebenarnya duda isteriku meninggal 3 tahun yang lalu

diruamh cuma ada anak-anak dengan pembantu saja” jawabnya dengan mata

berkaca-kaca.


Kami akhirnya tahu statusnya dan kami minta suatu ketika kalau liburan sekolah biar anak-anak diajak

kebetulan anaknya 2 orang masih 7 tahun dan 4 tahun.


Sejak itu keakraban kami tambah dekat bahkan suamiku sering membisiki aku kalau keturunan arab

biasanya barangnya besar dan panjang.


Akupun merasa Dik Rendra makin memperhatikan aku, pernah aku dibawakan hadiah liontin permata yang

cantik. Bahkan sehari-hari kami makin terbuka misalnya ditengah guyonan, kadang kadang Dik Rendra

seolah mau memelukku dan bahkan sembunyi-sembunyi berani menciumi pipiku kalau mau pamit pulang

Jakarta.


Demikian pula sebaliknya Mas Gilang seolah membiarkan kami bercengkarama kadang kadang bahkan


ngompori, “Ooo mabkyumu itu biar STW tapi malah tambah punel (maksudnya memeknya) lho Dik Rendra”

kalau sudah begitu aku yang merah padam, tapi untungnya hanya kami bertiga.


Seperti kebiasan kami, pada hari libur Sabtu Minggu kami bertiga week end di kebun kami di

Tawangmangu. Walaupun tidak terlalu luas namun kebun ini cukupanlah untuk hiburan dan cukup nyaman

untuk beristirahat.


Entah apa sebabnya Mas Gilang hari itu dengan manja tiduran berbantal pahaku di depan Dik Rendra

setelah selesai makan malam sambil menonton TV dan ngobrol kesana kemari diruang keluarga.


Kulihat Mas Gilang sangat atraktif mempertontonkan kemesraannya di depan di Rendra. Aku sebenarnya

agak kikuk tapi karena sudah seperti adik sendiri aku bisa mengatasi perasaanku, lagian Dik Rendra

sudah sering melihat kemesraan kami sehari-hari dirumah. Kulihat Dik Rendra acuh saja melihat tingkah

laku Mas Gilang. Malah akhirnya Dik Rendra mengambil inisiatif mengambil kasur dari kamar tidur untuk

dihamparkan ke lantai.


Akhirnya kamipun menonton TV sambil tiduran, aku dan Dik Rendra bersandar didinding berjajar cuma

berjarak setengah meter sedang Mas Gilang tiduran di pahaku. Acara yang ditayangkan kebetulan agak

menyerempet-nyerempet hubungan suami isteri.


Kulihat Dik Rendra tidak bisa konsentrasi, ia lebih sering mencuri pandang ke arah dadaku yang saat

itu hanya terbungkus daster, aku pura-pura nggak tahu tapi aku sempat melihat arah tengah

celananya yang aku yakin sudah setengah ereksi.


Tiba-tiba Mas Gilang memeluk pahaku sambil mengusap usap tonjolan payudara dari luar baju daster yang

kukenakan, aku bingung.


“Mas malu ah masa ada Dik Rendra,” protesku sambil melemparkan tangannya

kasar.


“Ah nggak apa apa, wong Di Rendra juga pernah merasakan koq.” sahut Mas

Gilang sambil senyum penuh arti ke Rendra.


Rendra tersenyum kecut Aku melengos sebel tapi jujur saja rabaan Mas Gilang membuat aku on apalagi

udara dingin Tawangmangu yang menusuk tulang.


Sementara Mas Gilang malah nekat dan kepalanya yang menindih pahaku digeser ke arah selangkanganku,

sehingga tak terhindarkan baju dasterku yang memang pendek makin tersingkap sehingga Rendra makin

leluasa melahap pahaku yang terbuka lebar..


“Mbak.. Aku.. Jadi ingin nih..” Rendra bicara padaku.


Gila batinku aku benar-benar kaya kepiting rebus mendengar kata-kata Rendra hampir saja aku tampar.

Tapi Mas Gilang malah menimpali, “Nggak pa-pa, ya Mam? Kasihan khan Dik Rendra sudah lama lho nggak

merasakan” sahutnya.


“Pap!! apa-apaan sih ini” sahutku nggak kalah seru.


“Papa boleh kok mam, papa iklas please, ..!” pintanya sambil mengedip ke

Dik Rendra.


Rupanya Rendra tanggap langsung saja dia miringkan badannya, karena jarak kami cuma sejengkal maka

langsung direngkuhnya belakang kepalaku dan diciumnya mulutku dengan paksa.


Aku ingin menolak tapi Mas Gilang memegang tanganku dan meraba tengah CDku aku terombang-ambing antara

nafsu dan nilai yang ada dalam diriku tapi aku makin terangsang, tanpa sadar malah

kumiringkan tubuhku menghadap Dik Rendra sehingga aku bisa berhadapan.





Melihat reaksiku tanpa segan Dik Rendra menyelusupkan tangannya dibalik dasterku untuk meremas remas

buah dadaku, sementara Mas Gilang tangannya sudah masuk CD untuk mengelus elus klitorisku yang menjadi

titik kelemahanku.


Mendapat seranngan dua orang sekaligus sensasiku melambung tinggi ada kenikmatan yang tiada tara.

Kucoba memberanikan diri meraba perut Rendra dan turun kebawah pusar, ada rasa penasaran ingin tahu

ukuran barangnya.


WAU.. luar biasa rupannya sudah berdiri keras dan tidak pakai CD lagi tanganku tak bisa memegang

semuanya genggamanku penuh itupun baru separonya.


Ketika itu Mas Gilang melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti dasterku, Rendra melepaskan

pakainnya juga dan menggeser posisinya merapat ke arahku dari sebelah kiri kami berhadapan, sedangkan

Mas Gilang memiringkan tubuhnya yang bugil sebelah kanan (belakangku).


Sehingga dengan sendirinya kontol Mas Gilang yang sudah kencang menempel bokongku dan kontol Rendra

yang luar biasa panjang dan besar menempel pahaku karena Rendra tak mau melepaskan pelukannya padaku

jadi Mas Gilang hanya merogoh memekku dari belakang.


Rendra menciumi diriku sambil mengelus payudara penuh nafsu, kulihat Rendra yang penuh dengan gairah,

aku ikut terhanyut. Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku telah mendominasi pikiranku,

kunikmati apa yang dilakukan Rendra padaku tanpa menghiraukan Mas Gilang yang meremas-remas bokongku,

dan mengelus vaginaku yang sudah basah.


Aku mendesis desis tak karuan karena keenakan dengan tangan kanannya Rendra mendekap punggungku erat

erat, sedangkan tangan kirinya mulai menyibak vaginaku rupanya dia

sudah nggak tahan ingin memasukkan kontolnya ke memekku.


Dituntunnya penisnya ke arah lubang vaginaku, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang kelangit ke

tujuh menikmati kontol Dik Rendra yang panjang besar ada meskipun rasa perih dan penuh menyesak di

vaginaku namun kenikmatan yang kurasakan mampu membuatku melupakan rasa perih memekku.


Otomatis jepitan lobang kemaluanku makin jadi dan denyutan-denyutan memekku yang selama ini dipuja

oleh Mas Gilang dirasakan oleh Rendra.


“Oh Mbak memekmu luar biasa, benar-benar punel Mbak” bisik Rendra sambil

mulai memompa batang kemaluannya secara ritmis.


Sementara aku mengimbangi mengocoknya perlahan lahan, Rendra mendesis desis keenakan, kini wajah

Rendra menghadap ke arahku dengan matanya yang terpejam sungguh tampan sekali apalagi desisanya

membuatku benar-benar melayang.


Gesekan bulu dada di ujung putingku membuatku seperti kesetrum listrik ribuan watt. Setelah hampir

sepuluh menit Rendra memompa memekkuaku mulai kesetanan mau meledak tapi dia mulai mengendurkan

pelukannya.


“Ganti posisi yuk Mbak, nggak adil kan masa yang punya (Mas Gilang

maksudnya) nggak kebagian” bisik Rendra padaku.


Rendra melepaskan kontolnya dari memekku pelan-pelan terasa ada yang hilang dari selanggkanganku,

Rendra berdiri sambil membimbingku Mas Gilang masih ikut dibelangku sambil meremasi pantatku.


Aku menoleh memandang suamiku penasaran ingin tahu reaksinya, tapi ternyata kulihat Mas Gilang

begitu bahagia bahkan dia tersenyum.


“Kita main bersamaan ya Mas?” ajak Rendra pada suamiku.


Rendra mengambil posisi duduk bersandar di sofa dengan paha mengangkang, tampak kontolnya yang besar

panjang dan kokoh dengan topi baja yang mengkilat karena cairan memekku berdiri seperti prajurit siap

serbu, kemudian ia menyuruhku mengangkang diatasnya dengan menumpangkan pahaku pada pahanya sambil

membelakanginya


Perlahan-lahan aku turunkan bokongku dan Rendra membibing kontolnya untuk memasuki memekku, bles,

ahh.. Rasanya tambah nikmat dan sudah nggak perih lagi.


Dengan posisi begitu maka dari depan mencuatlah klitorisku yang sudah keras dan kencang, perlahan-

lahan aku mulai memompa dengan menaik turunkan bokongku, melihat pemandangan seperti itu Mas Gilang

langsung duduk jongkok di depanku oh.. Ia menjilati klitorisku yang terbiar menantang.


Oh.. Luar biasa sensasi yang timbul seluruh tubuhku bergetar kurasakan memekku makin berdenyut keras,

kuraih kepala Mas Gilang kurapatkan ke selangkanganku sementara Rendra terus menyodokku dari bawah.

Ahh.. Aku mau meledak.. Mas.. Aku mau meladak..!!


Rendra menggeram karena kontolnya kucengkeram dengan denyutan memekku yang makin kuat,. Dan dengan

sambil meremas-remas payudarku kurasakan kontol Rendra dalam memekku berdenyut keras.. Ahh Mbak aku

mau keluar..


Ditariknya putingku sambil menyodokku dari bawah kuat-kuat sementara Mas Gilang melumat klitorisku aku

benar-benar tidak bisa menggambarkan kenikmatan yang kudapat ketika kontol Rendra menyemburkan

spermanya ke dalam memekku bersamaan orgasmeku dan hisapan-hisapan pada klitorisku.


Belum selesai sensasiku Mas Gilang menarikku dan memintaku nungging ini kebiasaan Mas Gilang dia mau

memompaku kalau aku sudah orgasme katanya enak sekali keRendran-keRendran memekku kalau orgasme.


Aku mengambil posisi nungging dengan bertumpu pada kedua paha Rendra pas kontolnya yang

berlendir-lendir di mukaku langsung saja aku bersihkan sementara Mas Gilang mulai memasukkan kontolnya

yang meskipun tidak panjang tapi kepalanya sangat leber sehingga seperti klep pompa.


Kurasakan sensasi yang lebih hebat lagi ketika Mas Gilang mulai memompaku dari belakang.

Hampir saja kugigit kontol Rendra kalau saja Rendra tidak berteriak, mengaduh. Entah aku merasa tidak

kuat lagi menahan ledakankanku yang berikutnya dan segara saat kontol Mas Gilang mulai berkedut-kedut

akan menyemburkan spermanya akupun juga merasakan diriku akan meledak lagi.


Dan aahh dengan teriakan panjang Mas Gilang menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. Aku segera

berbalik untuk membersihkan kontol Mas Gilang, rasa sperma dua orang laki-laki yang bercampur membuat

lidah merasa aneh dan asing.


Kami terkulai lemas tapi aku merasa lapar dengan tetap bugil aku kedapur untuk masak kulihat dua orang

laki-laki itu berpelukan saling

menepuk punggung.


“Gimana dik?” lamat lamat kudengan suara Mas Gilang menanyakan kesannya

pada Rendra.


“Wah luar biasa Mas, aku nggak nyangka kalau Mbak Rin.. Begitu hebat,

pantas Mas Gilang tidak pernah jajan,” timpal Rendra.


“Begini aja dik, Dik Rendra nggak usah sungkan lagi sekarang ini mbakyumu ya isterimu, tapi janji Dik

Rendra nggak boleh jajan, aku jijik kalau mbayangkan Dik Rendra jajan,” sambung Mas Gilang.


“Sumpah Mas aku nggak pernah jajan sepeninggal isteriku, pernah pembantuku aku pakai itupun cuma

sekali selebihnya aku pake alat,” lanjut Rendra.


“Jadi janji betulan lho dik, dan kita nggak boleh cemburu, satu sama lain..”


“Eh.. Enak aja ngomongin nasib orang nggak ngajak yang diomongin” aku langsung protes nglendot di

pangkuan Mas Gilang.


“Tapi Mama setujukann..” lanjut suamiku.


“Mmm.. Gimana.. Ya.. Mmm” sengaja kubuat-buat jawabanku aku ingin melihat reaksi Rendra.


“Maaf Mbak, kalau Mbak nggak setuju aku nggak pa-pa kok Mbak” Rendra memelas.


“Habis.. Habis..” jawabku nggak kulanjutkan.


“Habis apa Mbak?” Rendra panasaran.


“Habis.. E n a a k hi.. Hi.. Hi” jawabku sambil cekikikan.


Rendra langsung menubrukku yang masih dipangkuan Mas Gilang, tanpa sungka lagi diciumnya ibirku

diremasnya dadaku kulihat kontolnya sudah ngacung. “Eh.. Makan duluu.. Ah aku lapar nih.. Nasi goreng

sudah masak tuh di meja” pintaku.


Rendra menghentikan cumbuannya terus membopongku kekursi makan sambil memangkuku dia menghadapi meja

makan sementara Mas Gilang mengikuti dari belakang dan mereka duduk berimpitan kursi.


Aku membagi bokongku diatas kedua paha mereka yang berhimpitan satu berbulu yang satu agak licin.

Mereka dengan sabar bergantian menyuapi aku. Aku benar-benar bahagia mereka berdua sekarang suamiku,

yang siap memuaskanku.


Selesai makan kusiapkan sikat gigi dan odol buat mereka, aku mendahului membersihkan diriku di kamar

mandi sperma yang kering berleleran di pahaku terasa lengket. Setelah itu aku kekamar utama menyisir

rambut ku di depan cermin.


Tak lama kemudian kulihat mereka berdua mengendap-endap beriringan masuk kamar aku seolah tak melihat.

Kurasakan elusan lembut sebuah tangan dengan bulu-bulu halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian

mengarah keselangkangan dan mengelus memekku.


Aku sudah bisa menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Rendra lah yang

sedang mengelus belahan memekku, dan Mas Gilang mengelus batang penisnya, sambil mulutnya menciumi

dadaku.Cerpen Sex


Sambil berubah posisi dengan setengah duduk di depanku Mas Gilang siap dengan selangkanganku yang

terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya

menggosokan gosokkan kemaluanya, sementara Rendra tidak tinggal diam buah dadaku yang menggantung

diremas remas dan diciumi dari belakang.


Rendra merubah posisinya dengan duduk di meja rias dengan kontol siap dimuka mulutku. Sekarang aku

baru bisa mengukur panjangnya kontol Rendra yang ternyata ada dua kepalan tanganku dengan kepala agak

meruncing dan diameter kepala bajanya lebih kecil dari punya Mas Gilang.


Langsung kugenggam dan ku jilati dan kukocok-kocok. Begitu kulakukan sampai hampir setengah jam dan

dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan Rendra tak terkendali, bahkan ia membalas menekan kepala

Mas Gilang yang sedang mengenyot klitorisku dibawah meja pada saat itulah Rendra menghentak hentakkan

pinggul dan menyorong-nyorongkan kontolnya dimulutku dan..

Croot.. Croot.. Croot..


Sperma Rendra memenuhi kerongkonganku. Dia telah orgasme. Ini terlalu cepat, padahal aku merasa masih

belum apa-apa. Rendra terus turun membopongku ke ranjang dan Mas Gilang sekarang menindihku semetara

Rendra mempermainkan ku dari bawah ah rupanya mereka telah kompak untuk kerja sama memuaskan diriku.


Mas Gilang sudah terlengkup ditubuhku, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batangnya yang sudah

melesak ditelan liang kenikmatanku. Sekali kali tangannya meremas bokongku.


Aku mulai on lagi dan otot-otot vaginaku mulai berdenyut-denyut tapi tiba-tiba Mas Gilang menghentikan

kocokannya, dan mencabut penisnya, aku masih tanggung tetapi aku memang juga tidak ingin selesai

sekarang, aku masih berharap Rendra bangkit lagi setelah istirahat.


Aku ingin Rendra memompaku dulu baru Mas Gilang yang mengakhiri puncaknya. Tapi Mas Gilang minta aku

dan Rendra melakukan 69 dengan posisi Rendra dibawah begitu aku posisi enam sembilan Mas Gilang

menusukku dari belakang dan Rendra ganti yang ngenyot klitorisku.


Sungguh luar biasa rasanya ber 69 sambil memekku dipompa aku tak dapat menahan kenikmatan yang

menyerbu lubang memekku. Denyutan-denyutan mencengkeram makin keras dan ini yang paling disukai Mas

Gilang, kemudian kurasakan Mas Gilang mulai mencengkeram bokongku dan melenguh seperti sapi di

sembelih sambil mempercepat goyangannya, semetara mulut Rendra tak henti menciumi klitorisku dan

lidahnya menerobos kadang masuk ke memekku disela kontol Mas Gilang.

Nafasku tersengal, aku mulai masuk kemasa orgasme.


Tanpa menunggu waktu lagi Mas Gilang mempercepat kocokannya, dan kemaluankupun sudah berdenyut denyut

kencang, akan segera akan keluar. Mas Gilang merengkuh bokonku, makin kencang, sambil dari mulutnya

keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia semprotkan

spermanya..


Crot.. Crot.. Crot tapi aku belum orgasme.


Dan segera berlelehanlah air maninya menyemprot didalam vaginaku Pada saat yang sama, aku tak tahan

menahan orgasmeku, kugenggam kontol Rendra kuat-kuat dan kuhisap sampai batangnya sambil mengejan

menikmati orgasmeku bersama Mas Gilang mendapat perlakuan begitu Rendra juga orgasme kembali dan

menyemburkan maninya ke mulutku untuk yang kedua kali.


Kenikmatan yang luar biasa. Walaupun permainan sudah berakhir tetapi Mas Gilang tidak mau mencopot

kemaluanku dari memekku, aku paham betul dia paling suka menikmati denyutan memekku.


“Pah.. Aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. Eghh.. Eegghh capek nih kasian Rendra kita tindih”





Malam ini adalah malam pertama aku merasakan penis orang lain selain punya Mas Gilang apalagi penisnya

lebih panjang, sebuah pengalaman yang sangat memuaskanku.


Pembaca terhormat masih banyak pengalaman nikmat yang kualami bersama ke dua suamiku namun sementara

sampai disini dulu, bila ada kesempatan akan aku ceritakan lainnya.

Sejak kejadian itu Rendra minta jatahnya padaku setiap ada dikotaku bahkan anak-anaknya sering diajak

untuk bersama tinggal dikotaku saat libur agar tidak bolak-balik.


Saat Rendra ada hampir tiap hari sekali aku mendapat giliran dari Mas Gilang

dan Rendra kadang kami lakukan treesome kadang hanya berdua saja dengan salah sat dari mereka, dan

kami sepakat hanya dilakukan bertiga saja.


Pembaca yang terhormat kalau anda wanita disayangi 2 orang pria percayalah mereka bisa akur sabar

tidak ada rasa cemburu dan yang hebat anda akan dimanja seperti diriku.


Nggak percaya cobalah. Pengalaman ini benar-benar nyata kami telah 5 tahun bersama tapi kasih sayang

mereka sangat tulus padaku. Aku jadi rajin jamu dan senam untuk kepuasanku dan kepuasan mereka bagi

yang ingin tanya silahkan kirim email pasti dijawab. Mau coba aku punya caranya.

No comments:

Post a Comment