Friday, 1 April 2016

MERTUA PEMARAH



Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun

dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah

pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih

mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya,

maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur

selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya

yang cukup luas.




Ibu mertuaku bernama Bu Mar (nama samaran) walaupun sudah berusia sekitar 45

tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak

gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik

tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku

seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan

telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama

Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan

kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun

lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya.


Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta

diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta

memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya

mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.


Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur (namaku).., Ibu kangen sekali

denganmu, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak

mengecewakannya kubisiki juga, Buuu, Saya juga kangen sekali dengan Ibu, dan aku

menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku

membisikiku dengan kata-kata, Suuur, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut

Ibu, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling

melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.Cerita Sex Dewasa


Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan

dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu

saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan,

sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku

ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang

menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk

seperti sedang merenung atau melamun.


Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang

tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu

mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan

kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk

menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek

keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang

sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak

sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.


Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku,

pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri,

yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.


Lho, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?, tanya ibunya.

Laah.., nggak usahlah Buuu, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama

saja kok, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa

maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-

hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.


Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku,

untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil

menambahkan kata-katanya, Nak Suuur, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul

bapak saja ke sana. ceritasexdewasa.org Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku

yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu

waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan

untuk membaca koran lokal di ruang tamu.


Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah

kubaca semua tak kutemukan ada cerita dewasa disana, tak pula kutemukan list

video bokep ( ya iyalahhhh …) dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu

yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek

aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, Buuu, ada apa buuu?.


Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, Nak

Suuur, tolooong Ibuuu, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di

lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian

sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat

ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil

kutanya, Bagian mana yang sakit Buuu, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah

meringis seperti menahan rasa sakit, Di sini.., sambil mengurut pangkal paha

kanannya dari luar rok yang dipakainya.


Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya,

Buuu, apa ada bagian lain yang sakit..?

Nggak ada kok Suuur, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..,

jawabnya.


Ooh, iya nak Suuur, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu

terasa panas dan hilang sakitnya.

Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika

aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah

menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus.


Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan

mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke

arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, Ayooo..lah nak Suuur, nggak

usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua

sendiri saja kok pake sungkan sungkan, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah

pakai minyak kayu putih itu, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.


Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat

ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku

yang dinaikinya seraya kutanya, Bagaimana Buuu, apa bagian ini yang sakit..?


Betul Nak Suuur, yaa yang ituuu, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas

ke bawah, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah

beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil

memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, Nak Suuur, tolong agak ke atas

sedikit ngurutnya, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana

dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku

menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu

terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang

keluar dari samping CD-nya.


Ayoo,doong, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti, kata ibu mertuaku sehingga

membuatku tersadar.

Iii, yaa, Buuu maaf, tapi, Buuu, jawabku agak terbata-bata dan tanpa

menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.

aah kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya

memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.

Buuu, Saa, yaa, saayaa, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus

kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian

CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.


Nak Suuur.., katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan

tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta

digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat

di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-

pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku,

ssshh, ssshh.


Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak

sadar aku berguman agak keras.


Buuu, Saayaa, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu

mertuaku terdengar, Nak Suuur, koook seperti anak kecil saja.., siiih?.

Buu, Saa, yaa, takuuut kalau nanti bapak datang, sahutku gemetar karena memang

saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu

mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin

menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan,

Nak Suuur, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti, tolong

Ibuuu, naak,terdengar seperti mengiba.

Entot ibu nak suurrrrr … ibu sudah tak tahan pengen telanjang bugil dan

dientotin …….


Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak

munafik dan pasti para pembaca pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam

situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan

ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.


Ayooolah Nak Suuur, tolongin Ibuuu, Naak, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali

sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.

Buuu, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?, pintaku karena aku was-was kalau

nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab,

Nggak usah naak, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu, serta

terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk

bernafas.


Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku,

tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil

melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar

berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-

lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.


Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu

dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.


Buuu, boleh saya bukaa, rok Ibu..? tanyaku minta izin.

Suuur, bol, eh, boleh, Nak, Nak Suur, boleh lakukan apa saja.., katanya dengan

suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat

dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku.


Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan

tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke

bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua

tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan,


Buuu, boleh saya pegang dan ciumi tetek, Ibuu..?

Bool, eh, boleh, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama

sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu, ayoo.., sayaang, sahut ibu

mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan

kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung

kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku

sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar,

ssshh, aahh.., sayaang, ooohh, teruuus, yaang, tolong puasiiin Ibuu, Naak, dan

suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang

dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu

dari istriku.


Naak Suuur, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di

kepalaku serta menciuminya,

Ibuu, ingin melihat punyamu, Naak, seraya tangannya berusaha memegang penisku

yang masih tertutup celana pendekku.

Iyaa, Buu, saya buka celana dulu Buuu, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada

payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku.


Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar

celana dan berkomentar,


Nak Suur, besar betuuul, dan keras lagi, ayooo, dong cepaat.., dibuka celananya,

agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan

tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang

kukenakan.


Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung

saja ibu mertuaku berteriak kecil,


Aduuuh, Suuur, besaar sekali, padahal menurut anggapanku ukuran penisku

sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih

besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta

mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil,

ssshh, aahh, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

Aduuuh, Buuu, sakiiit, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik

penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku

melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya

yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku.


Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan

lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas

pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas

rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku

kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.


Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu

mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku

cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja

kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang

penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-

pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang

penisku masuk ke dalam mulutnya.


Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala

penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali

dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Rupanya dia jago ngisep kontol.

Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi

mendesis, ssshh, aacccrrr, ooohh, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu.

Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah

nikmat bagiku.


Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari

mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali

menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu

langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu

berkata dengan agak berbisik,


Naak Suuur, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati, dan sambil kunaiki tubuh ibu

mertuaku lalu kutanyakan,

Buuu, apa boleh, saya lakukan?, dan segera saja ibu menjawabnya,

Nak Suuur, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu, naak, ibu sudah lama kepingin

di gituin.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-

lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu

mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, ceritasexdewasa.org setelah beberapa saat kuciumi

payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu

mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku

agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil

salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya.


Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat

vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang

vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya,

kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini

kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat

vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin

menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku,


Nak Suuur, tolooong, cepaat, saa.., yaang, ayooo, Suuur.


Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku

di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat

belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir

kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah

sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu

menggelinjang agak keras sambil berkata,


Cepaat, Suuur, ibu sudah nggak tahaan.


Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan

kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta

bersuara,


ssshh, aahh, Suuur, teruuus, adduuuhh, enaak, Suuur, Lalu kukecup clitorisnya

berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat,

Aahh, ooohh, Suuur, betuuul, yang itu, Suuur, enaak, aduuuh, Suuur, teruskaan,

aahh, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih

dalam masuk ke vaginanya.


Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu

mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang,


aahh, oooh, duuuh, Suuur, ibuu, mau.., mauuu, sampaiii, Naak, oooh, disertai

dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.


Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi

terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas

rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan

sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu,

tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya

berkata,


Naak Suuur, ke siniii, saayaang, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan

ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja

memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih

memburu,

Suuur, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur, lakukan tadi, terima kasiih, Naak.


Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan

menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya,


Buuu, saya sayang Ibuuu, saya ingin ibu menjadi, puu..aas.


Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh

wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata,


Naak Suuur, Ibu masih belum puas sekali, Suuur, tolooong puasin ibu sampai

benar-benar puaas, Naak, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya.


Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku

terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi

tersadar ketika ibu bersuara kembali,


Sayaang, ayooo, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang

besar itu ke punya ibu.

Buuu, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini, apalagi kepada Ibuu,sahutku di

dekat telinganya.

Suuur, nggak apa-apa, Naak, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak, lakukan sampai

Ibu benar-benar puas Suuur, katanya dengan suara setengah mengiba.


aahh, biarlah, kenapa kutolak, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu

mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan

bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu

lalu kubisikkan,


Buuu, maaf yaa., saya mau masukkan sekarang, boleh?.

Suur, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak, sahutnya seperti tidak

sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku

ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu

katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau

berteriak kecil,

Aduuuh, Suuur, pelan-pelan saayaang, ibu agak sakit niiih, katanya dengan wajah

yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan.


Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, Maaf Buu, saya sudah menyakiti Ibu,


maaf ya Bu. Ibu mertuaku kembali menciumku,

Tidak apa-apa Suuur, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur.., sambil

merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

Buuu, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa, kalau ibu merasa

sakit, sahutku. T


anpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang

kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang

vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan,


Buuu, sakit.., yaa?. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab,

Suuur, masukkan saja sayaang, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan

punggungku.


Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala

penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu

meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan

penisku dan, Bleess, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti

dengan teriakan kecil,


Aduuuh, Suuur, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja

gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit

bagi ibu.

Buuu, sakit yaa..? maaf ya Buuu. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.

Enggak kok sayaang, ibu hanya kaget sedikit saja, lalu mencium wajahku sambil

berucap kembali, Suuur, besar betul punyamu itu.


Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam

vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-

pelan sambil berdesah, ssshh, oooh, aahh, sayaang, nikmat, teruuuskan, Naak,

katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan

enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya,


Buuu, aahh, punyaa Ibu juga nikmat, buuu, sambil kuciumi pipinya.


Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah,


Aah, Suuurr, ooh, teruus, Suur. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku

keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya.


Aku tersentak kaget,


Buuu, kenapa? apa ibu capeeek?, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil

mencium leherku ibu berucap, Suuur, coba hentikan gerakanmu itu sebentar.

Ada apa Buuu, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.

Suuur, kamu diam saja dan coba rasakan ini, kata ibu tanpa menjelaskan apa

maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap

di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, Buuu, aduuuh,

enaak, Buu, teruus Bu, oooh, nikmat Buu, dan tanpa sadar, aku kembali

menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali

menggoyangkan pantatnya.

oooh, aah, Suuur, enaak Suuur, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan

tidak terkontrol lagi.


Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku

tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan

gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu

mertuaku protes,


Kenapa, Suuur, kok berhenti?, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera

melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.


Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya

kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti

saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan

kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu

tanpa kesulitan.


Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja

kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil,


Suuur, aduuuh, punyamu masuk dalam sekali, naak, aduuuh, teruuus sayaang, aah,

dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat.


Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus

saja berdesah,


Ooohh, aahh, Suuur, enaak, terus, tekan yang kuaat sayaang.


Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku

dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa

protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu,


Buuu, coba ibu tengkurap dan nungging, kataku sambil kubantu membalikkan badan

dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging,

Aduuh, Suuur, kamu kok macem-macem sih, komentar Ibu mertuaku.


Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan

langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang

pinggangnya sehingga ibu berteriak,


Aduuuh Suuur, oooh, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok

penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu

tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu

berteriak,

oooh, oooh, Suuur, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi,

Suuur, Ibu capek Naak, sudaah Suuur, Ibuu capeeek, dan tanpa kuduga ibu lalu

menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah,

sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.


Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh

tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu

kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya

mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke

dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan

kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-

guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat,


Suuur, jangaan, kuat-kuat Naak, badan ibu sakit semua, sambil memegang kedua

tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.


Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang

ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan

gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari

bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan,


Maaf, Buu, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan, segera

saja ibu berucap,

Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja,

ayoo, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas.

Iyaa, Buuu, saya akan coba lagi, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku

sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-

hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai

menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya,

sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang

vaginanya.


Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras

itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar

desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu,


ooohh, aahh, Suuur, teruuus, oooh, seraya meremas-remas rambutku lebih keras.


Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.


Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa

mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua

tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-

bata,


Nak Suuur, aduuuh, Ibuuu, sudaah, oooh, mauuu kelluaar. Aku sulit bernafas karena

punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku

menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras

dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya.


Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati

orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, Bagaimana,


Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.


Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku,

yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding

sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung

pertanyaanku tadi di dekat telinganya,


Buu, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja..,

yaa?, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina

ibu yang sudah sangat basah itu.


Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat

mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya,

memandang ke wajahku,


Jangaan, Suuur, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan

lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan

dicabut dulu, yaa, sayaang, terus kembali menutup matanya.


Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina

ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya

sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan,


Tidaak, Buuu, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti

ini, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku.


Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak

tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu

mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh,


Aduuuh, oooh, Buuu.

Kenapa, sayaang, enaak yaa?, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan

sambil kucium hidungnya kukatakan, Buuu, enaak sekaliii, dan seperti tadi,

sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya,

secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya

dan ibu mertuakupun kembali mendesah,

oooh, aah, Suuur, teruuus, naak, aduuuh, enaak sekali.Cerita Sex Dewasa


Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya

semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat

kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak

kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar,


Buuu, sebentar lagi, sayaa, sudaah, mau keluaar, sambil kupercepat penisku keluar

masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu

mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman

tangannya di punggungku seraya berkata,

Suuur, teruuuss, Naak, Ibuuu, jugaa, sudah dekat, ooohh, ayooo Suuur, semprooot

Ibuu dengan airmuu, sekaraang.

Iyaa, Buuu, tahaan, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan

itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke

vagina ibu mertuaku.


Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus

terdiam dengan nafas terengah-engah.


Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina

ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di

dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun

begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.





Buuu, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?, tanyaku.

Mungkin saja Suuur, kenapa Suuur?, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.

Buuu, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia,

ibu hanya diam dan seperti berfikir.


Setelah diam sebentar lalu kukatakan,


Buuu, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar

mandi.


Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan

alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu

mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel,

sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya

saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.

No comments:

Post a Comment