Saturday, 30 April 2016

MEMEKKU UNTUK PRIA LAIN



Aku adalah seorang ibu rumah tangga biasa umurku 28 tahun namaku Niya aku mempunyai suami yang namanya Jono dan bekerja sebagai kuli bangunan yang jika ada proyek dia bekerja, kalau tidak ada proyek Jono hanya diam dirumah saja, umurku dan suamiku sama jadi aku tidak mengandalkan pemasukan dari suamiku saja.






Aku sudah menyuruh dia untuk bekerja di pabrik tapi dia tidak mau, sudah 4 tahun ini pernikahan kami belum dikarunia anak, karena suamiku juga tidak mau bekerja jadi hutang kami disana disini banyak. Sampai suatu ketika ada seseorang yang datang dirumahku marah marah karena hutang suamiku belum dilunasinya.

Pada saat itu aku hanya bisa menemani Jono di sisinya menghadapi kata-kata kasar orang yang dihutangi oleh Jono. Aku sendiri melihat gelagat yang aneh dari orang itu. Sambil marah-marah matanya seringkali tertangkap olehku sedang melirik ke arahku.

Aku sendiri memang mempunyai tubuh yang cukup bagus menurutku. Tinggi 170cm (termasuk tinggi untuk perempuan lokal), berat 60kg, kulit sawo matang, dengan ukuran dada 36. Kehidupan seks kami tidaklah bermasalah walaupun tidak bisa dibilang istimewa. Jono selalu dapat memuaskanku walaupun dia adalah seorang yang konservatif yang selalu bermain dengan gaya yang itu-itu saja.

Beberapa hari setelah rumah kami didatangi oleh orang yang menagih hutang, aku melihat orang tersebut di jalan ketika aku mau pergi ke rumah saudaraku. Tadinya aku akan meminjam uang dari saudaraku untuk menutupi hutang Jono pada orang tersebut, tapi ditengah jalan aku mempunyai pikiran lain. Aku ikuti orang tersebut untuk mengetahui dimana rumahnya.

Tadinya niatku hanya untuk mengetahui saja, tapi akhirnya aku mempunyai niat lain. Aku putuskan untuk menggadaikan tubuhku untuk melunasi hutang-hutang suamiku kepada orang itu. Setelah aku mantap dengan niatku, beberapa hari kemudian aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah orang tersebut.

Rumah orang itu memang sangat besar dan sangat mewah. Setelah berhasil mengatasi rasa gugupku akhirnya kuberanikan diri untuk memencet bel. Tak lama kemudian seorang lelaki kurus yang kupikir adalah pesuruh di rumah itu keluar.

“Nyari siapa bu?”

“Hmm. Bapaknya ada?” tanyaku pada lelaki tersebut.

“Ibu siapa? Biar saya sampaikan ke Bapak.”

“Bilang aja dari istrinya pak Jono.” Akhirnya pesuruh itu masuk ke dalam rumah dan tak lama berselang dia keluar lagi untuk membukakan pagar.

“Tunggu aja di ruang tamu bu.” Katanya padaku.

Langsung saja aku menuju ke arah yang ditunjuknya. Sebuah pintu dari kayu jati dengan ukiran yang sangat cNiyak. Belum juga aku sampai ke depan pintu, pintu tersebut sudah dibuka dari dalam. Rupanya yang membukakan pintunya adalah orang yang kucari.

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net

Orang dengan perawakan kurang lebih 180cm dan kuperkirakan beratnya 75kg. Aku perkirakan umurnya sekitar 50 tahun. Berkulit hitam dan terlihat masih segar. Kesan angker yang ditunjukkannya pada saat menagih hutang tidak ada sama sekali pada saat aku datang.

Justru aku menangkap kesan ramah dan sopan dari dia. Dia langsung menjabat tanganku sambil menyebut namanya.

“Totok. Mari masuk bu…”

“Niya” Jawabku langsung ketika melihat dia kebingungan.

“Oh iya. Bu Niya silahkan masuk” Aku langsung masuk menuju ruang tamu. Dan Pak Totok langsung memersilakan aku untuk duduk.

“Mau minum apa bu Niya?”

“Ah gak usah repot-repot pak” jawabku dengan gaya basa-basi bangsa timur.

Akhirnya Pak Totok menyuruh pembantunya untuk membuatkan sirup. Sambil menunggu minuman datang pak Totok memulai pembicaraan, sekaligus untuk mencairkan suasana yang kaku. Seolah-olah dia tahu kalau aku gugup dan grogi bertemu dengannya.

Kuakui dia adalah sosok yang bisa membuat pembicaraan menjadi santai. Ditambah lagi mungkin dengan wawasan yang cukup luas sehingga dia sepertinya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan layaknya penyiar radio yang selalu ngoceh sepanjang jam siaran. Semakin jauh kami berbicara justru aku semakin kehilangan rasa gugupku yang tadi menghinggapi.

Obrolan kami sempat terhenti karena pembantu pak Totok datang membawakan minuman pesananan majikannya.

“Silahkan diminum bu Niya”

“Oh iya pak. Terima kasih.” Tak lama langsung saja kuteguk minuman yang disuguhkan.
“Koq sepi ya pak? Istri bapak lagi keluar?” Tanyaku unuk memulai obrolan kembali.

“Istri saya sudah lama meninggal.”

“Oh maaf pak, saya gak tahu”

“Oh gak apa-apa. Oh iya bu Niya sudah berapa lama menikah dengan pak Jono?”

“Tiga tahun pak. Tapi ya gitu deh pak. Mas Jono gak pernah punya kerjaan tetap. Jadi makin lama makin numpuk aja hutangnya. Ditambah lagi sampai sekarang kami belum juga punya anak” kataku sekalian curhat sedikit ke pak Totok.

Iklan Sponsor :



Setelah disinggung soal hutang, pak Totok akhirnya menanyakan perihal hutang suamiku. Dan dia juga bercerita bahwa sebenarnya suamiku tidak hanya berhutang kepadanya tapi juga ke teman-teman pak Totok.

Jujur saja aku kaget, karena selama ini suamiku tidak pernah berkata jujur perihal hutangnya. Rupanya pak Totok sudah menyimpan rencana sendiri yang kurang lebih mirip dengan rencanaku.

Dan akhirnya rencana itu disampaikan kepadaku, bahwa hutang suamiku bisa lunas dengan catatan aku mau diajak bercinta dengannya.

Pengurangan hutang suamiku satu juta setiap aku melayaninya. Dan itu berlaku juga untuk hutang suamiku dengan teman-temannya yang ternyata ada dua orang lagi. Dan ternyata suamiku berhutang sepuluh juta ke setiap orangnya. Ini berarti aku harus bercinta tiga puluh kali, dengan setiap orangnya aku layani sepuluh kali.

Iklan Sponsor :



Aku sempat berpikir juga melihat keadaan yang seperti itu, tapi demi melunasi hutang suamiku akhirnya aku sanggupi permintaannya. Akhirnya aku disuruh kembali lagi keesokan harinya, karena hari itu Pak Totok sudah mempunyai janji dengan rekan bisnisnya.

Sebelum pulang aku menanyakan apakah teman-temannya berkenan dibayar hutangnya dengan tubuhku? Dan Pak Totok berhasil meyakinkan bahwa teman-temannya pasti akan satu suara dengannya.

Akhirnya keesokan harinya aku datang kembali ke rumah Pak Totok. Hari itu aku untuk pertama kalinya berdandan bukan untuk suamiku, tapi untuk laki-laki lain. Aku datang dengan pakaian tetap casual saja.

Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org

Toh pikirku nantinya pakaian ini juga tidak berguna karena ketika aku menunaikan tugasku baju ini harus dilepas. Yang jelas aku mempersiapkan mentalku untuk hal ini. Karena ini juga untuk pertama kalinya aku akan disetubuhi oleh laki-laki yang bukan suamiku.

Dan yang jelas aku juga mempersiapkan vaginaku. Semua bulu-bulu yang tumbuh disekitar vaginaku kucukur habis, sehingga vaginaku bisa terlihat dengan jelas.

Sesampainya di rumah Pak Totok aku disambut dengan hangat, Pak Totok mencium punggung tanganku dan kedua pipiku. Diriku agak canggung menerima perlakuan yang diberikan kepadaku, karena dia bukan suamiku.

Iklan Sponsor :



Tetapi aku sendiri tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Saat itu aku merasa diperlakukan layaknya seorang perempuan. Dia tidak menunjukkan bahwa dia hawa nafsunya, tapi justru menunjukkan sikap seorang lelaki dewasa yang membuatku sedikit “terbius” oleh perlakuannya.

Setelah sambutan hangatnya aku langsung diajak menuju kamarnya. Kamar yang cukup mewah bagiku. Dan rupanya Pak Totok telah menyulap kamarnya menjadi begitu indah. Wangi bunga telah memenuhi seisi kamarnya.

Ketika aku masih terpesona dengan kamarnya yang mewah tiba-tiba dia memelukku dari belakang. Refleks dan sedikit terkejut membuat diriku agak memberontak. Tetapi dia meyakinkan diriku untuk tenang dan menikmati saja saat-saat tersebut. Dia mulai menciumi leher dan kupingku yang jelas membuatku terangsang. Lalu dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan.

“Boleh kupanggil Niya saja?” tanyanya padaku.

“Hmm.. boleh aja pak”

“Wah. Jangan panggil pak dong. Panggil saja Totok. Supaya lebih mesra.”

“Iya Totok. Boleh aja kalau kamu mau panggil aku Niya.” aku mulai menikmati keadaan.

“Hmm.. Niya. Sebenarnya ada satu lagi kejutan untukmu hari ini.”

“Apa itu?” Belum dia menjawabnya tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Lalu ada dua orang memasuki kamar tersebut. Hal itu jelas saja membuat aku kaget.

“Ini dia kejutannya. Ada dua orang lagi temanku yang dihutangi suamimu yang ingin ikut bermain dengan kita.”

“Tapi Totok…”

“Tenang saja. Kalau kau melayani kami sekaligus maka bayarannya dinaikkan menjadi 1,5 juta untuk sekali main. Tidak lagi satu juta.”

Sebenarnya aku agak keberatan juga dengan keadaan itu. Tapi karena suasana yang tercipta sudah kunikmati akhirnya aku menyetujuinya. Kedua temannya memang berbeda sekali dengannya.

Temannya yang satu bernama Melki, keturunan Arab mempunyai dan berkulit putih. Sedangkan yang satunya bernama Hans, keturunan Cina. Tapi yang jelas ketiganya mempunyai postur tubuh yang sama. Tinggi besar dan tegap. Beda sekali dengan suamiku yang tingginya kira-kira sama denganku dan mempunyai tubuh yang tidak sebagus mereka.

Jujur saja diam-diam aku mulai mengagumi mereka bertiga dan mulai membayangkan disetubuhi oleh mereka bertiga. Aku sudah lagi tidak peduli dengan suasana romNiyas di kamar Pak Totok, tapi aku sudah mulai membayangkan suasana liar yang akan terjadi berikutnya.

Kunjungi JUga CeritaSexTerbaru.ORG

Tiba-tiba saja Pak Totok sudah mulai mencium bibirku. Aku yang dari tadi sedang menghayal jelas terkejut, walaupun tidak lama dan langsung membalas ciuman dari Pak Totok.

Tak lama berselang Melki dan Hans langsung bergabung. Melki datang dari belakangku dan langsung menciumi leherku sedangkan Hans langsung ke tujuan dengan meremas kedua dadaku. Hal ini jelas saja membuat nafsuku meledak. Aku tidak tahan untuk tidak bersuara, dan akhirnya akupun mulai mengeluarkan desahan dari mulutku.

Setelah itu bajuku dan celana panjang yang aku pakai mulai dilepas dari tubuhku sehingga terlihat bra dan cd yang aku kenakan. Hal ini jelas saja membuat mereka bertiga tambah liar untuk menjamah tubuhku.

Dan tak lama berselang bra dan cdku pun ikut lepas dari tubuhku sehingga aku benar-benar bugil. Sudah tidak ada lagi perasaan canggung dan malu di diriku. Yang ada hanya nafsu yang sudah berada di ubun-ubun.

Setelah itu mereka bertiga pun melepas pakaiannya masing-masing. Dan aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku ketika mereka bertiga sudah bugil. Karena mereka semua mempunyai ukuran penis yang sangat besar bagiku.

Panjang penisnya sekitar 20 cm dan berdiameter kira-kira 4-5 cm. Aku sendiri tidak dapat membedakan secara pasti punya siapa yang paling besar. Karena ukuran penis mereka yang hampir sama. Tapi yang jelas berbeda sekali dengan punya suamiku yang hanya sekitar 13cm dengan diameter 2 cm.

Aku dihadapkan dengan tiga penis raksasa. Perasaan takut dan penasaran bercampur aduk di diriku. Takut karena belum pernah melihat penis dengan ukuran sebesar itu. Penasaran karena perempuan mana yang tidak mau vaginanya dimasuki penis seperti itu.

Setelah semuanya bugil mereka membimbingku untuk jongkok, dan setelah itu mereka semua mengelilingiku. Mereka minta dioral secara bergNiyaan. Lalu kulakukan permintaan itu dengan senang hati walaupun agak bersusah payah.

Aku sering mengoral suamiku, tetapi yang ini beda. Tiga penis dengan ukuran jauh dari penis suamiku. Ukuran penis mereka membuat aku agak gelagapan dan sedikit sesak nafas awalnya. Tapi lama-lama akhirnya aku bisa menguasai keadaan juga.

Ketika aku mengoral penis pak Totok kedua tanganku mengocok penis Hans dan Melki, begitu seterusnya. Jika satu sedang kuoral maka yang dua lagi kebagian kocokan tanganku.

“Aarrrgghhh nikmat sekali seponganmu Niya” ucapan itu terlontar dari Melki ketika mendapat giliran dioral olehku.

Hans mendapat giliran terakhir untuk kuoral. Dan ketika giliran Hans mereka membimbingku ke arah tempat tidur. Rupanya mereka memintaku untuk mengoral Hans sambil terlentang sementara penis Hans berada di atas mulutku.

Ketika sedang asik-asiknya menikmati penis Hans, tiba-tiba kurasakan rangsangan hebat di kedua payudaraku dan di vaginaku. Rupanya Melki sedang asik menggerayangi kedua payudaraku. Dia sedang asik meremas dan menjilati kedua payudaraku.

Sedangkan Pak Totok berada di selangkanganku, dia terlihat asik menjilati vaginaku. Terang saja aku mengoral Hans sambil mengerang (ingin berteriak tidak bisa karena mulutku disumpal penis Hans) keenakan karena perlakuan kedua orang tadi terhadap dua tempat sensitif di tubuhku.

Tak lama kemudian Hans melepaskan penisnya dari mulutku lalu bergabung dengan Melki untuk menikmati payudaraku. Melki menggarap payudara kiriku sedangkan Hans yang kanan pak Totok tetap menjilati vaginaku. Hal ini membuatku terangsang hebat sehingga tidak tahan lagi untuk berteriak dan meracau.

“Aarrrrgghhh, nikmat banget… teruuussss… aaarrgghhh… aayoo teruusss” Akhirnya aku sampai juga pada orgasmeku yang pertama.

Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu menempel di bibir vaginaku. Setelah kulirik ternyata pak Totok sudah siap memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku. Aku merasakan penis pak Totok semakin lama semakin mendesak vaginaku.

Kunjungi JUga CeritaSexPembantu.com

Aku merasa seperti perawan lagi karena begitu susahnya penis pak Totok memasuki vaginaku. Terang saja susah, penis sebesar itu mencoba masuk ke dalam vaginaku yang biasanya hanya dimasuki penis Jono yang sekarang menjadi biasa bagiku.

Terbantu oleh vaginaku yang sudah basah akhirnya penis pak Totok berhasil masuk juga. Perlahan-lahan pak Totok mulai menggoyangkan penisnya keluar masuk di vaginaku.

“Arrrghhh Totok… terus… cepetin donkk.. ent0tin…” aku sudah meracau tak karuan karena penis pak Totok yang menghadirkan kenikmatan yang luar biasa.

Ditambah lagi Hans dan Melki yang masih sibuk dengan kedua payudaraku. Akhirnya setelah dirasa lancar pak Totokpun mulai mempercepat goyangannya. Baru beberapa goyangan saja aku sudah orgasme lagi padahal kulihat pak Totok masih kuat menggoyang penisnya. Makin lama makin cepat dan cepat sampai akhirnya aku tak tahan dan sampai pada orgasme ku yang kesekekian kali.

Setelah agak lama terasa goyangan pak Totok semakin cepat dan cepat kemudian sampai pada goyangan dia yang terakhir, tubuhnya mengejang keras sekali, suaranya melenguh setengah berteriak. Dan aku bisa merasakan kalau dia orgasme.

Semburan spermanya di dalam vaginaku terasa sekali. Tak lama berselang pak Totok mencabut penisnya dan aku didatangi oleh Hans dan Melki yag tampak sudah tidak sabar. Aku lihat Hans membawa baby oil.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Sudahlah nikmati saja” begitu kata Hans.

Karena memang gairahku masih diatas akhirnya aku tidak pedulikan lagi.

Tak lama mereka memintaku untuk berposisi doggy style, dan aku iyakan saja toh aku juga terbiasa dengan gaya itu. Tapi betapa kagetnya ketika kurasakan Hans menumpahkan baby oil di lubang pantatku dan di penisnya lalu kemudian berusaha memasukkan penisnya itu ke pantatku.

Tadinya aku ingin berontak, tetapi Melki memegangi tubuhku dengan erat supaya tidak berontak. Terasa sedikit sakit ketika penis Hans mencoba untuk memasuki lubang pantatku tetapi kemudian setelah masuk terasa nikmat yang luar biasa juga. Tidak kalah dengan nikmatnya ketika masuk ke vagina.

Lalu Hans kemudian mulai untuk menggoyang penisnya di dalam pantatku. Ketika sudah lancar dan baru beberapa saat Hans meminta merubah posisi tanpa melepaskan penisnya dari pantatnya. Kami berdua terlentang dan bertindihan dengan aku diatasnya.

Sehingga makin kurasa Penis itu bergerilya di lubang pantatku. Tak lama kemudian Melki menghampiri kami dan sudah siap dengan penisnya yang sudah berdiri tegak dan diarahkan ke vaginaku yang terbuka menantang. Akhirnya Melki memasukkan penisnya ke dalam vaginaku berbarengan dengan Hans dia menggoyangkan penisnya keluar masuk vaginaku.Cerpen Sex

Sebuah pengalaman luar biasa yang belum aku alami sebelumnya. Aku disetubuhi dua laki-laki secara bersamaan. Benar-benar terasa nikmat sekali, ditambah lagi keduanya ditambah pak Totok merupakan sosok lelaki gagah, tampan dan enak dipandang.

Pergumulan kami bertiga tak terasa membuatku orgasme berkali-kali, karena rasa nikmat yang luar biasa. Dan akhirnya Melki dan Hans secara bersamaan mencapai orgasmenya. Hans mengerluarkan spermanya di dalam pantatku sedang Melki di dalam vaginaku.

Setelah itu kami berempat mebersihkan diri, dan rupanya di meja makan sudah disiapkan makanan untuk kami berempat. Setelah kami makan akhirnya aku izin untuk pulang dan tidak lupa membuat janji untuk pertemuan berikutnya dengan mereka.

Setelah kejadian itu aku merasakan tidak nafsu lagi dengan Jono ketika dia mengajakku untuk bersetubuh. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku saja. Tetapi jujur saja aku tidak merasa puas. Karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih diluar sana.

Dan setelah semua hutang-hutang Jono lunas aku sering kali mendatangi mereka atau salah satu dari mereka untuk minta disetubuhi. Aku sudah sampai pada taraf ketagihan yang luar biasa. Pada akhirnya akupun jujur kepada Jono tentang hal yang selama ini terjadi.

Dia terkejut, tapi tak biasa marah karena aku melakukan itu untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah kutanyai apakah dia ingin menuntut cerai diriku, dia tidak mau menceraikanku dengan alasan dia masih sayang. Aku memberikan syarat kepada Jono yaitu, aku bebas bersetubuh dengan ketiga orang itu kapanpun dan dimanapun aku mau tanpa harus dicemburui. Akhirnya Jono menyetujuinya, karena masih menyayangiku.

Pernah suatu saat ketika Jono pulang ke rumah dia mendapati diriku sedang bersetubuh dengan ketiga pria tersebut. Ketika dia akan pergi justru dia dipaksa untuk duduk dan menyaksikan kami oleh pak Totok, Hans dan Melki.

Bahkan dia juga ditelanjangi oleh mereka didepanku. Mereka sengaja melakukan itu hanya untuk membandingkan ukuran penis mereka dan Jono dan memang penis Jono menjadi terlihat kecil sekali. Sebenarnya aku kasihan melihatnya diperlakukan seperti itu.

Tetapi karena hawa nafsu yang sudah menguasai diriku, maka tak kuacuhkan dia dan aku hanya melayani penis-penis raksasa yang dapat memuaskan vaginaku.

Friday, 29 April 2016

WANITA BUNTING DIPERKOSA





Aku akan sedikit cerita tentang pengalamanku tentang sex perkenalkan namaku Ratna umurku 19 tahun,
kata orang aku mempunyai wajah cantik dan mempunyai payudara yang montok, aku sudah menikah setahun
yang lalu dengan suamiku yang bernama Yeyen, dia berprfesi sebagai buruh tani dan pekerjaan tidak
tetap.Meski demikian, aku sangat menyayangi Yeyen apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,
aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah.

Aku tidak sampai hati memaksa Yeyen untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga
dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah.

Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Tapi apa mau
dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Yeyen pun
semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan
kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Yeyen bekerja tepat waktu karena aku tidak mau
upahnya dipotong hanya karena terlambat.

Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit. Seperti biasa, pagi-pagi aku
berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang
gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku
masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.

“Wah, rAdin sekali istriku.” Yeyen menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku.
Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.

“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku.

“Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen. Mungkin
nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai
terlambat.” Jawab suamiku.

“Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.
“Tapi nanti hati-hati Ratna, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.”

”Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami.

Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku
memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan. Setelah sedikit berbenah, akhirnya
semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku.Cerita Sex Dewasa

Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku
siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut.

Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara
dua payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang
membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku.

Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu
depan dan belakang rumah warisan ayah Yeyen. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu
mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku
bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.

“Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.

“Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.” Teriak seorang wanita.

“Mau jamu apa mbak?” tanyaku.

“Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya.

Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku
berkeliling menjajakan jamu kembali.

Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini
cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli. Aku melangkah
menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning.

Iklan Sponsor :



Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari
anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.

Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang
beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka
sudah memanggil.

”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.

“Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.”
Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.

”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu
dari mereka sepertinya masih smp.

Iklan Sponsor :



Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku
berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.

“Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Adi yang memiliki tubuh kekar dan hitam.

“Kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.

“Wah sama dengan Bowo, dia juga rAdin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran
Adi, sedangkan Bowo adalah yang paling muda diantara mereka.

“Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi.

“Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya Bowo.

“Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.”

“Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab Bowo lagi.

Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Adi dan Abdul mereka berumur sekitar 20
-an tahun, sedangkan Bowo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.

“Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Adi.

“Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum.

“Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
“Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran.

“Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab Adi sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku
kemudian duduk di sampingku.

Posisiku kini ada diantara Adi dan Abdul, sedangkan Bowo ada dibelakangku. Rupanya Bowo diam-diam
memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah
oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk. Tapi
aku tidak tahu akan hal ini.

“Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak
melihat, dalam hati aku berpikir,

Iklan Sponsor :



”Dasar orang kampung tidak tahu malu.”

Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir,
tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum
sempat untuk beristirahat.

Adi pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Bowo juga sama seperti Abdul, tiduran di
lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai.
Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku
takut terjadi sesuatu dengan janinku.

”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata
Abdul mengagetkanku.

”A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.

”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata Bowo dari
belakangku.

“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku
sambil mengamati langit yang sangat terik.

“Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Adi.

Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang
sangat nyaman.

Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan
disampingku. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh
pantatku.

“aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya
tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengan kasar.

“Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah
itu.” Kata Adi sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan.Cerita Sex Dewasa

Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi
tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.

”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka
dapat berubah pikiran.

”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup
telingaku.

Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,

”bagaimana dengan Yeyen, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai
pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.

“Jangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka.

Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
“Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal.

“iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku
memohon pada mereka.

“Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Adi.

Namun Bowo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-
remas pantatku.

“Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Adi pada Bowo.

Bowo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah
menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana
dalam putihku terlihat. Bowo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan
hal ini, dibukanya rokku semakin keatas,

“Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Bowo.

Sontak ucapan Bowo mendapat perhatian dari Adi dan Abdul.

“Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak.

Kemudian Adi mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.

“Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.

“Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan.
“Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya
mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.

Adi melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.

“Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Bowo menantangku,
dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat.

Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis Bowo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas
celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada
seseorang yang mendengar. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera
menikmati tubuhku.

“Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Adi senang sekali
melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap.

“Mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku
berteriak minta tolong.

“Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja!
Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku.

Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke
arah Bowo.

“Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul.

“haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata Bowo cengar-cengir.

Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku.

“Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku
merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku
di pegang abdul dan diangkatnya keatas.

Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan
dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku.

“Aaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat
birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas.

Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah
tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku
menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku.

Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi
pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah
menjadi satu.

Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan
Payudaraku yang sudah sedikit terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Adi
juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul.

Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Bowo yang sudah siap dari tadi
telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku.

“mmpff… mmpff.” Bowo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.
Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar.

Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit
nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang
masih tertutup celana dalam yang sudah usang.

Tidak berapa lama Adi sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku
diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada
pahaku yang mulus. Tangan Adi mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku.

“nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku.

“ngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui
meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai
basah oleh lendir kewanitaanku.

“Heh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul.

“Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya.

Adi dan Bowo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya
yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.

“Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku.

“Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku.

Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.

“nggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur.Cerita Sex Dewasa

Bowo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk
mengocok-ocoknya. Adi pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti
apa yang kulakukan pada Bowo.

Wajah Bowo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah
kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam
sambil tangannya memainkan putingku.

Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih
terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang.

Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut
kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku
dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku.

“nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul
lebih leluasa memainkan vaginaku.

Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku
sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah
menyatu dengan jiwa mereka.

“mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin
bernafsu. Lidah Abdul Semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan
Bowo dan Adi.

“ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme.
Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan
kekiri.

Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti
dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku.

Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang
kemaluan mereka. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,

”oohh.” Adi melenguh keenakan.

Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya. Abdul yang sudah sangat
terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu.

“mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.

Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul
mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Adi dan Bowo menjilat-jilat dan menghisap
payudaraku.

Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku
memegangi kepala Adi dan Bowo sambil terus melenguh keenakan.

“Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka
terhadapku.

Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Adi dan Bowo menciumi bibirku. Abdul
belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging.
Aku hanya menuruti perkataannya.

“Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Bowo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini
posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Bowo.

Penis Bowo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Adi dan Abdul. Mungkin ini pertama kali
baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke
dalam vaginaku.

“Uoogghh, uenakk tenann” Kata Bowo.

Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Bowo cepat beradaptasi, Meski
penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan.

Adi berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju
mundurkannya beriringan dengan genjotan Bowo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan
putingku yang lumayan besar.

Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Bowo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,

”Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr. ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan
Bowo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia
langsung lemas.

“Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Adi.

”Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya.

“Maaf mas Adi, aku kelepasan.” Ucap Bowo.

tampaknya Bowo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur.

“Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul.

Abdul kemudian menggantikan posisi Adi dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Adi kini
berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.

“Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku.

Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba
masuk melalui anusku.

“Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Adi yang besar mencoba
menerobos anusku.

“Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya.

Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Adi masuk ke dalam anusku,

”Nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku
di jejali penis.

“Hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap Adi keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku.

Adi sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan
penisnya.

“Akkkkhh, uuahhhh.” Adi mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh
seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju
mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama,Cerita Sex Dewasa

“ouughhh teleennnn, sseeemuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku
telan.

Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Yeyen, Mereka
bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Yeyen mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku
tidak mampu lagi untuk berdiri.

Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih
terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk
ongkos jamu dan tubuh kamu.

”Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak.

“Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.

“Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus.

Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat
keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan
mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.

“Mas Yeyen pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Yeyen sudah menungguku pulang. Aku ceritakan semua kejadian
ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang
kumiliki.

Baca Juga Cerita Sex Aku Hamil

Reaksi Mas Yeyen sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku
memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.

Aku terharu dengan Mas Yeyen. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran
pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga
saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.

Aku bangga dengan Mas Yeyen, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya
aku tetap mencintainya.

Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas
Yeyen, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi
kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.

Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau
sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar
sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya-

Thursday, 28 April 2016

BELAJAR NGENTOT

Aku anak tunggal namaku Dani umruku saat ini 17 tahun aku duduk di bangku SMU swasta di kotaku, sering aku tinggal di rumah sendirian diman Bapakku adalah pengusaha sukses yang cukup sibuk dalam mengelola bisnisnya skadang ibuku juga ikut bersama bapak.
Cerpen Sex Belajar Ngentot

Aku akan berbgai pengalaman pertama hubungan seks dengan wanita dan ini untuk pertama kalinya, aku tinggal di komplek kelas menengah di sampingku rumah di diami oleh kepala RT orangnya cukup berpengaruh di komplek tersebut.

Umurnya sekitar 60 tahun. tapi masih kelihatan gagah. Pak RT mempunyai dua orang istri. Yang pertama namanya Tante Is, wanita keturunan arab, kulitnya hitam manis, bodinya langsing. Meskipun usianya sudah 40-an, Tante Is masih kelihatan cantik, dia sangat pintar merawat diri.

Dengan Tante Is, Pak RT mempunyai dua orang putri yang cantik-cantik, yang sulung namanya Erni sedangkan adiknya namanya Ana, umur keduanya hampir sebaya denganku. Istri keduanya namanya Tante Rena, orang Bandung, kulitnya putih bersih.

Wajahnya mirip bintang sinetron Titi Kamal. Bodynya aduhai, montok, padat berisi. Mungkin karena dia sering fitness, apalagi Tante Rena senang berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya. Membuat laki-laki yang memandangnya terangsang dan ngeres.

Tante Rena orangnya supel dan pintar bergaul, sering dia ngobrol-ngobrol dengan anak muda seusiaku, termasuk aku.

Kejadian ini bermula ketika orang tuaku pergi seminggu keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Aku ditinggal sendirian dirumah. Sedangkan pembantuku dipecat ibuku tiga hari sebelumnya karena ketahuan mencuri uang ibuku. aku yang sendirian merasa kesepian.

Aku duduk diruang tamu sambil berkhayal. Untuk menghilangkan kesepianku, kuputar VCD porno yang baru aku pinjam dari temanku. Filmnya tentang seorang cewek bule yang sedang disetubuhi dua orang negro.

Satu orang negro sedang dikulum kontolnya, sedangkan yang satunya lagi sedang ngentot cewek bule itu dari belakang dengan posisi nungging. Sekitar 20 menit mereka berganti posisi, satu orang negro sedang rebahan diranjang sambil memasukkan kontolnya kelubang anus cewek bule itu, yang telentang diatasnya.

Sedangkan negro yang satunya lagi sedang menggenjot vagina cewek itu. Desahan dan erangan mereka membuatku terangsang. Kuraba-raba celana pendekku (aku sudah tidak pakai celana dalam), kontolku mengeras.

Semakin lama kuraba semakin keras. Kukocok-kocok naik turun. Birahiku memuncak ingin disalurkan, tapi aku tidak tahu harus kemana menyalurkannya.

“Lagi ngapain Dan?” suara seorang wanita mengejutkanku.

Ternyata Tante Rena sudah berdiri disamping pintu. Dia berpakaian sangat sexy, dengan kaos ketat dan rok super mini. Dia memandang karah celanaku. Saking terkejutnya aku lupa menaikkan celanaku, sehingga dia dengan bebas bisa melihat kontolku yang sedang tegang penuh, mengacung-acung.

“Maaf.. maaf.. Tante” sahutku terbata-bata.

“Akh, nggak apa-apa kok, kamu khan udah gede”.

“Wah, kontolmu gede banget, udah pernah dimasukkin kevaginanya cewek belum?” tanyanya cuek.

“Be.. belum pernah Tante” sahutku.

“Mau nggak dimasukin ke punya Tante?, Tante pingin nih ngerasain kontolmu” katanya meminta.
Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan mendekat kearahku. Duduk disampingku.


“Tapi saya belum pernah Tante” jawabku.

“Tante ajarin, mau khan?” katanya sedikit memaksa.

Tanpa menunggu jawabanku, dia menaikkan kedua kakinya kepangkuanku. Tangannya meraba-raba kontolku, aku gemetar. Baru kali ini kontolku dipegang seorang wanita. Dia mendekatkan wajahnya kewajahku, diciumnya bibirku.

Lidahku diisapnya. Aku membalas isapannya. Lidahku dan lidahnya tumpang, tindih saling isap. sesekali isapannya diarahkan keleherku. ditariknya tanganku, diletakannya dikedua buah dadanya yang sudah mengeras.

Kuremas-remas buah dadanya, dia menggelinjang keenakan. Kutarik kaos ketatnya, aku terperangah, dia tidak memakai BH, buah dadanya padat dan kenyal. Kulepaskan isapan lidahnya, kuisap buah dadanya, dia melenguh, sambil tangannya terus mengocok-ngocok kontolku.

Beberapa menit berlalu, dia berdiri, lalu melepaskan rok mininya. Maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Aku bisa melihat dengan jelas vaginanya yang merah merekah, sangat indah. dicukur rapi dan bersih.

Kemudian dia berlutut dilantai, dihadapanku. Wajahnya didekatkan keselangkanganku. Ditariknya celana pendekku. Bibirnya mendekati kepala kontolku, dan mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya.

“Akkh.. aow.. oohh.. nikmat Tante, enakk.. sekali” aku mengerang ketika dia mulai mengulum kontolku.

Hampir seluruh batang kontolku masuk kemulutnya yang sexy. Kontolku keluar masuk dimulutnya. Nikmat sekali. Tak ketinggalan, buah pelirkupun diseruputnya. Puas mengulum kontolku, kemudian Tante Rena berdiri dihadapanku.

Vaginanya berada pas diwajahku. Dia menarik kepalaku, mendekatkannya pada vaginanya. Aku mengerti maksudnya, minta dijilati vaginanya. Kujulurkan lidahku. Aku mulai dengan menjilati pangkal pahanya, terus mendekati bibir vaginanya.

“Aow.. oohh.. nikmat.. sayang, teruss.. terus” dia mendesah-desah ketika aku memasukkan lidahku ke lubang vaginanya.

Kusedot-sedot, kugigit-gigit kelentitnya. Dijepitnya kepalaku. Hampir seluruh isi vaginanya kujilati, vaginanya basah.

“Akkhh.. akuu.. nggak kuatt.. sayang, kita mulai aja” ajaknya. cerita hot tante

Dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan kepangkuanku. Dipegangnya kontolku, diarahkannya tepat kelubang vaginanya. Dia mulai memasukkan kontolku sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin dalam.

Sudah setengah batang kontolku masuk. Sampai disini dia berhenti sejenak mengatur posisi. Kakinya berlutut disofa. Aku tak mau ketinggal, kuambil kesempatan. Kusodokkan kontolku.

Dia menjerit ketika kontolku amblas dilubang vaginanya. Dia mulai menaikturunkan pantatnya dipangkuanku. Kontolku serasa dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.

“Gimana sayang enak khan?” tanyanya.

“Enakk sekali Tante, vagina Tante sempit sekali” jawabku.

“Sudah lama sekali Tante tidak merasakannya sayang”.

“Pak RT tak pernah memberiku kepuasan” dia menggerutu.



“Emangnya Pak RT impoten Tante?” tanyaku.

“Iya, iya sayang” jawabnya singkat.

Kupeluk pinggangnya erat-erat. Bibirku menghisap-hisap buah dadanya. Kubantu gerakkannya dengan menyodok-nyodokan pantatku keatas. Dia mengerang-erang merasakan nikmat. Matanya merem melek.

Semakin lama semakin cepat dia menggerak-gerakkan pantatnya, sesekali pantatnya diputar-putar. Aku merasakan nikmat yang tiada tara. Kontolku serasa dipelintir vaginanya. Sudah sekitar 30 menit kami berpacu dalam kenikmatan. Nafasnya dan nafasku saling memburu. Peluh kami bercucuran.

“Akh.. oohh.. aku tidak kuat sayang, akuu.. mauu.. keluarr” dia menjerit-jerit.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

“Akuu.. juga Tante” sahutku ngos-ngosan.

“Keluarin didalem aja sayang, aku ingin punya anak darimu” pintanya memelas.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang vaginanya.

“Kamu puas khan sayang?” tanyanya.

“Puas sekali Tante” sahutku pendek.

Kami beristirahat sejenak. Kemudian kekamar mandi untuk membersihkan badan. Siraman air membuat badanku segar kembali.


“Aku pingin lagi sayang, kamu mau khan?” tanyanya meminta..

Aku tidak menjawabnya. Kubopong tubuhnya, kubawa kekamarku dan kurebahkan diranjangku. aku merangkak diatas tubuhnya dengan posisi ssungsang. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan wajahku tepat diatas vaginanya.

Aku mulai menjilati dinding vaginanya. Dia menggerinjal-gerinjal dan menjepit kepalaku. Seluruh dinding vaginanya kujilati. Kucari-cari tititnya. Kusedot-sedot dengan lidahku. Sesekali kugigit. Dia meringis.

Dengan jari-jariku kutusuk-tusuk lubang anusnya. Sesekali kujilati lubang anusnya. Tante Rena tak mau ketinggalan. Dia menjilati kontolku, dari kepala sampai pangkal kontolku tak luput dari jilatannya.

Sstt! Aku mendesah ketika dia mengulum kontolku. Dia sangat lihai memainkan lidahnya. Kontolku yang tadi mengecil, sedikit demi sedikit mengeras didalam mulutnya. luar biasa kenikmatan yang kudapatkan. Tante Rena memang benar-benar profesional. Seluruh batang kontolku dijilatinya.

“Oohh.. aku tidak tahan sayang, kita mulai aja” pintanya.

Kuturunkan tubuhku dari tubuhnya. Aku berdiri dipinggir ranjang. Kutarik tubuhnya kepinggir, hingga kedua kakinya menjuntai. Aku mendekatkan kontolku kelubang vaginanya. Sedikit demi sedikit kontolku masuk kelubang vaginanya.


Sstt! Dia mendesis. Sudah seluruh batang kontolku amblas ditelan lubang vaginanya yang basah dan memerah. Kugoyang-goyangkan pantatku. Tante Rena membantuku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. aku merasakan sensasi yang luar biasa. 10 menit berlalu, kuganti posisi. Kutarik kontolku. Kakinya kunaikkan keduanya. Aku memasukkannya lagi. Dan mulai menggenjotnya.

“Akhh.. akuu.. mauu.. keluarr.. sayang” dia mengerang.

Vaginanya berkedut-kedut. Vaginanya menjepit kontolku.

“Akhh.. aku keluarr.. sayang” dia melenguh.Cerpen Sex

kurasakan vaginanya basah oleh cairan. Tante Rena telah mencapai orgasme sedangkan aku belum apa-apa. Kubalikkan tubuhnya. Kuminta dia menungging. dia menuruti aja perintahku. Kudekatkan kontolku yang masih tegang ke lubang anusnya.

“Kamu mau apain anusku sayang” tanyanya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.

“Jangan, jangan di lubang itu sayang, sakit” teriaknya.

Aku tidak mempedulikannya. Kumasukkan kepala kontolku kelubang anusnya. Mulanya agak susah tapi akhirnya masuk juga. Kutekan pelan-pelan hingga seluruh batang kontolku amblas. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kutuk-tusuk lubang anusnya.

“Oohh.. enakk.. sayang, kamu pintar” pujinya ketika dia sudah mulai merasakan nikmatnya disodomi.

Sekitar 30 menit kontolku keluar masuk dilubang anusnya. Kurasakan kontolku berkedut-kedut.
“Akkhh.. aku mau keluarr.. Tante” aku berteriak histeris.



Crott! Crott! Crott! Kutumpahkan spermaku lubang anusnya. Kudiamkan beberapa saat. Lalu kutarik kontolku. Kuarahkan ke wajahnya. Kuminta dia menjilati spermaku. Dengan lahapnya Tante Rena menjilati sisa-sisa spermaku, sampai bersih dijilatinya. Tanpa rasa jijik sedikitpun.

“Kamu hebat sayang, aku puas sekali” pujinya.

“Kamu mau khan memberiku kepuasan seperti ini lagi?” pintanya.

Aku mengangguk aja. Menyetujui permintaannya.

“Kalo kamu pengin lagi, datang aja ke kamarku”.

“Masuknya lewat jendela ya! Kalo lampu kamarku mati, berarti Pak RT nggak di rumah”.

“Ketok kaca jendela tiga kali, akan kubukakan untukmu, OK” dia menerangkannya untukku.

Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kami tertidur setelah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Malam itu Tante Rena menginap dikamarku. Sampai pagi kami merengkuh kenikmatan.

Wednesday, 20 April 2016

PUAN ADZIMAH

Saya rapat dengan Pn. Adzimah. Dia seorang yang baik hati dan peramah. Setiap hari Sabtu, saya menghadiri aktiviti persatuan. Pn. Adzimahlah guru persatuan tersebut. Saya selalu menghadiri aktiviti persatuan tersebut kerana Pn. Adzimah ini cantik dan seksi.


Suatu hari, aktiviti persatuan telah dibatalkan, tetapi saya tetap pergi kerana rindu akan Pn. Adzimah. Kebetulan, dia ada di dalam bilik persatuan. Saya pun masuk tanpa dijemput. Masa itu dia tengah mengemaskan bilik persatuan. Dia minta saya membantunya. Dia panjat atas kerusi untuk mencapai sesuatu yang terletak tinggi di atas almari. Sambil itu dia menyuruh saya memegang kerusi itu. Kebetulan hari itu dia memakai baju kurung. Dia mangangkat baju kurungnya sampai ke paras lutut. ketika itu aku nampak dengan jelas seluar dalamnya.


Warna merah jambu. Dia menanggalkan kasut tumit tingginya dan panjat atas kerusi itu. Batang aku mulai tegang apabila melihat kakinya yang putih itu. Sambil memgang kerusi itu, aku mendekatkan hidungku pada kasut serta kakinya. Wah, begitu wangi, macam bau perfume. Tiba-tiba Pn Adzimah terjatuh. Nasib baik saya berjaya mendakapnya.


Kami saling bertentang mata. Mukanya merah padam dan dia tersipu sipu. Aku mendekatkan bibirku pada mukanya, tetapi dia menolak. “Tak baik begitu. Saya dah bersuami.” katanya. Akan tetapi, saya tidak peduli dan terus mencium bibirnya. Kali ini dia tidak menolak, sebaliknya dengan ghairah kami bercumbuan.


Tangannya mendakap badanku dengan rapat dan kadang-kala merayap ke anggota badanku yang lain. Sambil itu, dia merengek -rengek kepuasan. Saya menanggalkan pakaiannya termasuk pakaian dalamnya. Dia juga membuka pakaianku sehinnga kami berdua sama-sama bogel. Teteknya agak kecil tetapi agak comel. Aku terus meramas dan menjilat teteknya dengan nafas yang tercungap-cungap. Adzimah menjerit jerit dan menangis kerana tidak tahan kesakitan. Aku juga menjilat cipapnya. Lepas itu kami besetubuh.

Sunday, 17 April 2016

HELPING OUT

I was in the pub the other night, drinking with my best mate, and I happened to notice that he seemed a bit down at the mouth, so I asked him if anything was wrong? As he had had a fair bit to drink, he eventually opened up to me. It seems that his very attractive wife; "Jane" was not getting enough sex from him. She was a lot younger than him, and it appears that he had been leaving her wanting. So I very tactfully suggested that maybe the best course of action might be that she take on a lover, but someone they both knew and liked and trusted. I pointed out that it would at least be better knowing who she had been with, rather than someone he didn't. He thanked me for my advice and said he would think about it. The following week I met up with my mate again at the pub as usual, only this time he was much more sober. He said that he had very carefully considered what I said to him the last time we met, and seriously talked it over with his wife who it turned out was in full agreement with the idea after much consideration and deliberation. Then he proceeded to drop his bombshell. We have both decided on the person that we would like to do the business so to speak. "Oh great," I said, "anyone I know?" "How would you feel about helping us out?" he asked, in a low whisper. WOW! I didn't see that coming! But I have to admit, I had always fancied her; a twenty three year old long legged busty blonde... well who wouldn't for goodness sake! Not wanting to appear to keen, I said if it helped his marriage, then I was only too glad to help, as long as they were both very sure about it. (I said that, whilst sporting by now massive hard-on.) "We're desperate to get the ball rolling," he said, "can you manage tomorrow night by any chance?" I thought long and hard (I was very hard in fact) about it, for all of one second, "All right then, I'll be there," I said, as nonchalantly as possible. That evening couldn't come soon enough for me; I duly turned up at eight pm as arranged. We started off with a drink and some small talk to hide our slight awkwardness about it all. But after a few more drinks, our inhibitions disappeared, and we started to be very openly about the purpose of me being there. I tactfully suggested that Jane and I could go up to the bedroom, and he could follow on after a short while, but he was having none of it, saying that he wanted to be there from the beginning. I said that I might not be able to get an erection if he was there to start with, as I would be feeling guilty of fucking his wife in front of him. He said in that case he would do her first. That's fair enough I thought, after all, it is his wife. Upstairs in the bedroom, we stripped off. Jane lay on the bed on her back with legs apart, showing off her glistening pussy. He proceeded to mount her, his cock slipped straight in up to the hilt, as they were both very turned on by the whole ensuing scenario. He didn't last long though, I could see why she had been left unsatisfied in the past. When it was my turn to do the biz, they said that they wanted to do an extra something special to me for helping them out. (as if making love to his beautiful wife was not a big enough reward in itself) but then who am I to refuse! They told me to sit on the edge of the bed, where upon she started to French kiss me, and to my utter astonishment, he went down on me, taking in the full length of it down his throat. As I have always been a little bit bi, I was not put off by this at all, just surprised he would do that to me, as I never would have thought it possible of him. She then stopped snogging me and said, "OK, let's have it deep in me then." Not that I needed anymore encouragement, I slammed my trembling trident right into her slurpy silo, making her shudder and gasp, "That's more like it!" she cried. After a while fucking her, she held me very tightly, spreading my ass cheeks wide apart. That's when I felt something very cold covering my ass hole, which I can only assume something like a finger was inserted inside me. He then proceeded to climb on top of us and slowly but surely insert his cock inside my bum, which made me see stars to start with, until I got used to it. After only a few minutes of humping my butt, I felt him squirt his load inside me We had been going at it for some time, Jane and I, when I happened to noticed that he was taking photographs, and filming all the action. Normally I might have had strong objections to this, but in the heat of the moment, and feeling like I was in heaven, couldn't have given a toss! I eventually shot my load into her, she loved that, and what with our bodies soaked in sweat, I slid off her body, and lay down along side to get my breath back and recover. "Same time next week?" he laughed. "Oh yes please," I replied. She then said, "You'd better turn up at the same time, same day next week and every time for the foreseeable future, otherwise we'll post the footage of you screwing me online." I couldn't risk my wife seeing it, that's for sure. It then dawned on me why they had worn highwayman type masks throughout... and I hadn't... duh!

Friday, 15 April 2016

PRISCILLAS HOT SUMMER

I have always wanted my wife Priscilla to do a threesome with one of our friends, but whereas it came close a few times, it never happened. She always broke it off at the last moment, "Oh Bobbie," she'd say, "how can I face him tomorrow?" So it never happened! That is... it never happened until that fateful summer. We were young, married about a year; the apartment was small, our bedroom, a small guestroom and a living- dining-kitchen combo. Tom moved into the guestroom in June and that started an unbelievably sensuous summer. Lovemaking was an immediate problem... the walls were paper-thin! Our secondhand bed creaked and Priss strangled her orgasms with her face pressed into the pillow. "My God, Bobbie... he'll hear me... I know he will..." she'd pant. "Honey, the whole world knows we make love at night." "But the bed creaks so... oh God..." But somehow, the idea of him hearing my wife cum was exciting and I'd urge her into a grunting climax. She'd bite the pillow and toss her hips frantically and the bed would squeak as the brain numbing feeling washed through her quivering belly. The next morning she would look at Tom with an embarrassed face, but gradually she got over it. Occasionally she would forget he was there and walk into the kitchen with her blouse off. "Oh my," she'd blush and cover her bra covered breasts as she hustled back to the bedroom. But I would say, "Priss... what's the big deal?" And little by little she relaxed. It was like pulling on the loose thread of a sweater. Her inhibitions gradually started to unravel. Being caught a few times in just her bra and panties set in motion the unraveling of her puritanical mind set. At first she used to blush if Tom caught her in just her bra on top, but fast-forward about two months, and here she is on our bed with his throbbing stiff penis slipping into her squirming belly. She's looking over her shoulder at me, her face flushes and she squeals as his penis splits her warm slippery cunt. I watch, stupefied, as they start to fuck. Priscilla lifts her knees, her curvy legs draw back toward her bottom and I see her soft pubic hair and the long pink split of her cunt stretched in a juicy clutch around his penis. I close my eyes and listen to her breathe and the steady creak... creak of our bed as they begin. But I'm ahead of the story... It started very slowly, she got used to knowing Tom could hear us making love and if occasionally he caught a glimpse of her undies... well, she would still be embarrassed, but it stopped being such a big deal. But to me it became almost an obsession, a craving to share her sexually with Tom. I think the trigger for me was when I was confronted by her initial blushing embarrassment, yet her conflicting compulsion to be sexy and flirtatious. She would look at him and her nervous throaty giggles were like liquid sex... like warm water pouring over the head of my penis. I began to experience a heady combination of jealousy and fascination that made my knees get weak and my stomach churn. My penis would swell when I watched her flirt or walk past him with her blouse open. Why did I feel jealousy and still an urge to yield sexual access to my pretty wife? ... I didn't know, but it was a nagging impulsive thought that was always lurking in my mind. They would brush past each other in the tiny kitchen and I would imagine them touching. At night we whispered about it in bed. "I'd like to see you with Tom," I'd whisper. "Oh you're silly... I-I... couldn't..." I began to have a fantasy that they made love while I was at work. I knew it wasn't so, but I got those weak- in-the-knees feelings... that anguish of betrayal and humiliation. But it was all mixed in with a sense of wild excitement. I fantasized about what she might be doing. The sensations were addictive. It's imagining the woman you love being intimate. It was an incredibly naughty act to think of Pricilla fucking someone else, especially a friend. The effect to my senses was a shock, like a hard drug. It's a sensual addiction that is hard to match; the thought of my wife's vagina entered by the penis of another man. The thought of her slipping off her panties, opening herself and submitting to an adulterous act of intercourse was enthralling. It all came head one morning when Tom was sitting with me at the kitchen table. We finished our coffee and he was just about to leave. Priss thought he was already gone and she walked into the kitchen wearing an old pajama bottom and her skimpy white bra. "Oh sorry... thought you'd left," she murmured and started back to the bedroom. I caught her hand and said, "sit down, Tom's leaving in a minute. She blushed with embarrassment, but she walked around the kitchen getting herself a coffee and then sat between us. Tom's eyes were on the swell of her breasts and the feelings rushed through me. The cleavage swelled over her bra cup and a light luminescence of pink hinted at the location of her nipples. Priscilla had no panties on under the pajama bottom and the curvy crease of her ass buns was clearly evident as she sat. Tom finished his coffee and left the apartment, probably with half a hard-on! Something about exposing her to him lit a fire in me. I took her back in the bedroom and tugged off her pajama bottoms. Looking down at her warm soft cunt I could imagine his penis touching her there. We make noisy love. Right in the middle of it I blurted it out, "Prissy, would you like to make love with Tom?" She was gasping and straining her hips and she moaned, "uh-huh, if you still want me to..." "Someday, when you're alone with him... just let it happen." "Mmmm, maybe... we'll see..." I found myself living for the adrenal rush of my utter acceptance, my sudden realization, that she was eventually going to do it. My stomach churned from the deep-seated arousal of what was certain to occur. Nothing happened for two weeks and then one day I came home and the guilt was written on her face. Tom was in the guestroom with the door closed. Priscilla wouldn't meet my eyes and she was blushing. She was pretending busyness at the sink and looked a little disheveled... hair slightly mussed... blouse only partly tucked into her skirt. I came up behind her and slipped my hands around her waist. She was warm and I could feel a little tremble in her body. I felt myself getting a hard-on. I whispered in her ear, "Sweetheart, are you sick? You feel so warm." "I-I'm fine," she said in a squeaky voice. I turned her around to face me and she buried her face in my neck, "Priss, did something happen," I whispered. "Mmmm." "You and Tom?" "Mmm." "You did it?" "Uh-huh," she murmured. "Are you OK? You feel so warm..." "We... we just finished..." "Oh God," I murmured. "Where did you...?" "On the sofa... Oh I'm sorry. Are you angry with me?" That night we talked about it for hours. The details were excruciatingly exciting. It had started with a friendly kiss, then a deeper kiss as the fascination overcame them... his hand finding its way under her skirt... her stopping it just short of her panty crotch. Then a few more kisses... feeling her breasts... easing her down on her back... fingers in her panties. She cried as she told me about it. How she came to her senses and tried to stop it... but he was between her knees... opening his belt... his penis stiff and probing. "He dropped down onto me and... and it was too late..." she sobbed. I squeezed her hand as we talked. Under the blankets my penis was stiff as a rail spike. "You didn't stop..." "Uh-huh, one of my knees was pinned up against the back of the sofa and... he... pulled the crotch of my panties aside and then... then he... did it." "He got it into you, and you fucked?" "Mmm Humm," she sobbed. "Prissy... baby, it's all right... I... told you to let it happen." Three nights later we invited him into our bed and I watched them make love. It was a lovely sight and at the same time the most un-nerving thing I ever experienced... the kissing and feeling... the few shy blushing looks over his shoulder at me. As their excitement grew, I watched them prepare to join... Priss slipping her panties down... him lifting her night gown over the ridge of her pubic hair and getting between her knees. I watched the blankets move as they adjusted their hips, moving their loins into that unmistakable position. And then her soft cry as he found her moist opening. I moved to the side a little giving Priss room to spread her legs. Her knees tented the blankets, she moved her hand into mine and I heard her long breathy gasp. I felt the telltale squeeze of her fingers on mine as his penis pressed into her. It was only their second time. The excitement was intense, it was quick, hardly two or three dozen thrusts and he grunted and tightened his arms under her back. Later alone in our bed, we made long slow passionate love, a few tears, a lot of warm kisses. When I came over her she was open and wet; the soft mouth of her vagina juicy and easy to find. My penis slid smoothly into the treasure that once was all mine... a little looser, but still snug with a warm slipperiness. I cupped a hand under my darling's butt and felt a little trickle down across her anus, and on the back of my hand, a wet spot soiling the sheet under her buttocks. It happened on and off that summer. Maybe a couple dozen times, possibly a few more. Sometimes when I came home, I could tell they had done it... She would have that quiet, almost guilty look in her eyes. Maybe a little whisker burn on her neck or the zipper of her jeans not quite zipped. Sometimes she would be warm, her face still flushed, skirt and blouse wrinkled and I would know they just finished a quick furtive fuck with her clothes on. And she would hug me, being very attentive, almost a way to ask forgiveness. A few times, late at night, I let her go from my bed to his. She would stop at the door, hesitant, a guilty look on her face, "Oh dear, are you sure you don't mind? It seems so..." But she would go and soon after I would hear it through the wall... squeaky crying sounds and bed noises that would go on for a long time. I got some kind of a strange perverted thrill out of it. I would masturbate to the sound of Prissy being fucked and imagine what she looked like at that very moment. Once I peeked and saw my wife sitting nakedly on his penis, sliding herself up and down. Her nighty covered their hips but I knew her ass was bare because her panties were on the floor. So it was a long hot summer and I worried a lot about her getting pregnant, but we got through it with a lot of exciting memories. The End

Thursday, 14 April 2016

MABUK



Kali ini aku ada bisnis yang harus diselesaikan secepatnya sekarng giliran kota Surabaya yang aku datangi sangat menyenangkan karena disana aku bisa bertemu dengan teman lama yang tak lama jumpa, tapi sayangnya suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan kantornya.




Ya udah aku suruh orang untuk menemaniku dia bernama Andi dia adalah kepercayaan suamiku kami berdua berangkat sore hari agar bisa beristirahat mengingat besok ada meeting dengan client membahas soal kontrak dan negosisai bersama calon klienku bernama pak Reza pukul 9 pagi.

Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam tubuhku di bathtub dengan air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok.

Cukup lama aku di kamar mandi hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku. Setelah puas merendam diri, kukeringkan tubuhku dengan handuk menuju ke kamar.

Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk tubuhku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di usiaku yang 32 tahun pasti orang akan mengira aku masih berumur sekitar 27 tahun.

Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tidak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Andi yang nginap tepat di sebelah, idem ditto. Aku teringat miss call di HP-ku, ternyata si Rio, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.

“hallo sayang, tadi telepon ya” sapaku

“mbak Eva, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” suara dari ujung merajuk

“pesta apaan?”

“pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Rio, pasti beres, aku jamin mbak” bujuknya

“emang berapa orang” tanyaku penasaran

“rencanaku sih aku dengan dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Rio deh mbak”

“asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti”

“wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih”

“simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti”

“baiklah mbak, jangan lupa ya”

“aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?” tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Rio.

Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di suaranya

“gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja”

“ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?”

“kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa”

“garansi deh mbak”

Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam.
Cukup banyak tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aku melihat Pak Reza sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.

“malam Bapak, apa kabar?” sapaku sambil menyalami dia

“eh Mbak Eva, kapan datang, kenalin ini Pak Edwin buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Reza, aku menyalami Pak Edwin dengan hangat.


“silahkan duduk, gabung saja dengan kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Edwin dengan ramah.

“terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk bergabung dengan mereka.

Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Edwin dan Pak Reza ternyata sobat lama yang selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Reza lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Edwin, seorang chinesse, mungkin usianya tidak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yang aku tidak terlalu perhatikan.

“Bagaimana dengan besok, everything is oke?” Tanya Pak Reza

“Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Edwin, si cina ganteng itu.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tidak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku.

Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Edwin, Pak Reza sudah duluan pergi ketika Pak Edwin memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tidak, ketika Pak Edwin mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.

Dengan hati hati Pak Edwin merebahkan tubuhku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi tubuhku, aku sudah tak ingat selanjutnya.

Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataku dengan berat dan ternyata Pak Edwin sedang menindih tubuhku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, tubuhku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Edwin yang hanya memakai celana dalam.

Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Edwin yang masih bermain di kedua buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah tubuhku tapi kurasakan vaginaku sudah basah, aku Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.

“sshh.. eehh.. eegghh” desahku membuat Pak Edwin makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dengan penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku.

Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata penisnya yang tegang tidak sedasyat yang aku bayangkan, meski diameternya besar tapi tidak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.

Dia kembali menindih tubuhku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yang tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir vaginaku sambil jari tangannya mulai mengocok vaginaku.

“sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Edwin. Pak Edwin kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan penisnya, biasanya aku tak mau mengulum penis pada kesempatan pertama, cerpensex.com tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aku terlalu terangsang, maka kuterima saja penisnya di mulutku.
Kupermainkan ujung kepalanya dengan lidah lalu turun ke batang penis, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan penis itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum penisnya karena batang itu memang besar.

Dia mengocok mulutku dengan penisnya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tidak berlangsung lama. Pak Edwin kembali berada diantara kakiku, disapukannya penisnya ke bibir vaginaku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah penis itu ke vaginaku semua, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam vaginaku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang penis Pak Edwin.

“ehh.. sshh.. eeghghgh” aku mulai mendesah ketika Pak Edwin mulai mengocokkan penisnya, dengan cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada penis yang tidak disunat itu, gesekan pada dinding vaginaku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas tubuhku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.

Pak Edwin menaikkan tubuhnya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dengan posisi seperti ini aku bisa melihat expresi wajahnya yang kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yang putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan.

Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi tubuhnya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di vaginaku, kepala penisnya kurasakan membesar dan menekan dinding vaginaku, denyutnya sampai terasa di bibir vaginaku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.

Agak kecewa juga aku dibuatnya karena aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.

“sorry aku duluan” bisiknya di telingaku sambil tubuhnya ditengkurapkan di atas tubuhku.

“nggak apa kok, ntar lagi” kataku menghibur diri sendiri, kudorong tubuhnya dan dia rebah disampingku, dipeluknya tubuhku, dengan tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.

Aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dengan keras untuk menutup kekesalan diriku.

“I need another kontol” pikirku kalut

Kulihat di HP ada SMS dari Rio dengan pesan “namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Rio”
Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tidak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Edwin, kulihat Pak Edwin sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dengan postur tubuh yang cukup atletis dan wajah yang ganteng sungguh sayang dia tidak bisa bertahan lama, pikirku.
Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yang masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yang tak tuntas, lalu kucuci vaginaku dari sperma Edwin, kalau tidak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andi menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaku dengannya.

Kulayangkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tidak ada Pak Edwin mungkin sudah kuhubungi Rio untuk segera mengirim Rino kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia.

Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok laki laki tegap dengan wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.

“mbak Eva? saya Rino temannya Rio” sapanya

Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.

“Sebentar ya” kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya.

“kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Edwin dari ranjang

“eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata

“jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua”

“iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataku

“ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan.

Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

“di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu” kataku pada Rino tegas.

“Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Eva, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk.

Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.

“wah ngganggu nih” celetuk Rino

“ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat

“baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily” teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.

“Rio udah cerita sama aku mengenai mbak” bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.
Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua.

Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.
Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.

Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku,

kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin.

Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari penisnya.

Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.
Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku.
Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya.

Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya

tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.

“eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Edwin.

Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya.
Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.

Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.

Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

“eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya.

“eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya.

Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.

Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu.
Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu penisnya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu.

Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.

Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin.

Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.

Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti. Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku.
Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku.

“OUUGGHH.. yess.. yess.. yess” teriakku

Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum.

Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.

“oouuhh..yess..I love it” teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.

Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.

Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

“mbak Eva sungguh hebat” bisiknya pelan di telingaku.

Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.

Akhirnya kami dikagetkan bunyi “beep” satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.

“Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?” pintaku

“Dengan senang hati” jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.
Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku
Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu.

Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku.

Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.

Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.

Kami terbangun sekitar pukul delapan ketika telepon berbunyi, kuangkat dan ternyata dari Andi.

“pagi bu, udah bangun?” tanyanya dari seberang

“pagi juga Andi, untung kamu bangunin kalau tidak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus” jawabku memberi perintah

“beres bu” jawabnya

“Edwin, aku ada meeting dengan Pak Reza jam 10, kamu bagaimana?” tanyaku

“lho meetingnya kan juga sama sama aku” jawab Edwin

“oh ya? dia tidak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya”

“oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting dengan pakaian yang sama dengan kemarin”

“Ayo mandi lalu kita cari pakaian di bawah” kataku

“Rino, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti memerlukanmu setelah meeting” kataku sambil menuju ke kamar mandi menyusul Edwin yang mandi duluan.

Kami berdua mandi dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih penisnya dan kukocok, tubuh kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, ternyata membuatku lebih erotis dan terangsang.

Tanpa menunggu lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan mengarahkan penisnya ke vaginaku, dengan ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk ke dalam, Edwin langsung menancapkan sedalam dia bisa.
Pancuran air panas membasahi tubuh kami berdua lebih romantis rasanya, tapi itu tak berlangsung lama ketika Edwin menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku, tidak banyak dan tidak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini dengan dengan penuh gairah.

Setelah mandi aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin karena terpengaruh perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup dengan blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu dengan rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya.

Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Rino.

“Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest” bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku.

Pukul 9:15 kami keluar kamar, bersamaan dengan Andi keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar bersama Edwin dan Rino memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tidak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.

“Morning Andi” sapaku

“eh morning Bu, ruang meeting sudah aku atur dan semua dokumen sudah saya siapkan, copy file-nya ada di laptop ibu” jawabnya memberi laporan ketika kami menuju lift.

“Thanks Ndi” jawabku singkat.

Kami bertiga terdiam di lift, aku yang biasanya banyak bicara mencairkan suasana jadi kaku dan salah tingkah, masih memikirkan apa yang ada di pikiran Andi bahwa aku keluar dari kamar dengan seorang laki laki dan ada laki laki lainnya di kamarku, ah persetan pikirku, saking kikuknya sampai aku lupa mengenalkan Edwin pada Andi.

Dalam kebekuan kuamati Andi dari bayangan di cermin lift, baru kusadari kalau sebenarnya Andi mempunyai wajah tampan dan berwibawa, meski umurnya baru 27 tahun tapi ketegasan tampak di kerut wajahnya.

Sedikit lebih tinggi dariku tapi karena aku pakai sepatu hak tinggi, maka kini aku lebih tinggi darinya, posturnya tubuhnya cukup proporsional karena dia sering cerita kalau fitness secara teratur 3 kali seminggu, aku baru sadar bahwa selama ini aku nggak pernah melihat Andi sebagai seorang laki laki, tapi lebih kepada pandangan seorang Bos ke anak buahnya.

Diluar dugaan, Andi ternyata memergokiku saat mengamatinya, pandangan mata kami bertemu di pantulan cermin.

“Ting”, untunglah lift terbuka, aku segera keluar menghindar dari pandangan Andi, kami langsung breakfast setelah terlebih dulu mencarikan Edwin pakaian dan dasi pengganti, meski Shopping Arcade masih belum buka karena terlalu pagi, tapi dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga melayani kami.

“Eh Bu Eva, saya kok belum dikenalin dengan Mas ini” Tanya Edwin bersikap resmi, mengingatkanku akan kekonyolanku pagi ini.

“Oh iya, Andi, ini Pak Edwin, clien dari Pak Reza yang akan menjual produk kita ke Cina yang berarti Clien kita juga, dan nanti Pak Edwin akan gabung dengan kita di meeting” kataku yang disambut uluran tangan Edwin ke Andi.

“Pak Edwin, Andi ini salah satu orang kepercayaan saya, dialah yang in charge nanti, meski baru dua tahun ikut saya tapi naluri bisnisnya boleh di uji” lanjutku memuji Andi, itu biasa kulakukan untuk memperbesar rasa percaya diri anak buah sekaligus supaya

clien lebih confident.

Ini adalah breakfast terlama yang pernah aku alami, serba salah tingkah dan yang pasti aku tak berani memandang Andi, entah mengapa. Untunglah Edwin bisa mencairkan suasana bengan berbagai joke-nya.

Bertiga kami masuk ke ruang meeting yang sudah di booking Andi, ternyata cukup nyaman suasananya, tidak seperti ruang meeting biasa yang kaku dan menjemukan, tapi lebih terkesan bernuansa santai tapi serius, Meeting table bulat dengan dikelilingi 6 kursi putar, sementara dipojokan ada sofa dan meja kecil, di ujung yang lain terdapat tea set lengkap dengan electric kettle.
Aku dan Andi duduk bersebelahan menyiapkan dokumen di meja, kuletakkan laptop di depanku, Pak Edwin duduk di sebelah kiriku.

“Ndi tolong nyalakan laptop, aku ke toilet sebentar” kataku sambil meninggalkan mereka berdua. Kuhabiskan sebatang Marlboro di toilet untuk menghilangkan keteganganku dan kurapikan baju dan make up ku.

Pak Reza sudah berada di ruangan ditemani dengan wanita yang muda dan cantik ketika aku kembali ke ruangan meeting.

“Pagi Pak Reza, pagi Bu” sapaku sambil menyalami mereka berdua

“Pagi juga Mbak Eva, anda kelihatan cantik pagi ini” kata Pak Reza

“emang selama ini nggak cantik” jawabku

“Eva” sapaku pada wanita di samping Pak Reza sambil mengulurkan tangan

“Lisa” jawabnya sambil tersenyum manis

“bukan begitu, tapi pagi ini lebih cantik dan cerah”

“Oh Mbak Meli, selama ini kita hanya bertemu lewat telepon dan faximile” kataku lagi

“dan sekarang inilah dia orangnya” lanjut Pak Reza.

Ternyata Andi belum menyalakan laptopku, agak marah juga aku melihat dia tidak melaksanakan perintahku, maka dengan mata melotot ke arahnya kuambil kembali laptopku dari hadapannya lalu kunyalakan.

Betapa terkejutnya aku ketika laptop itu menyala, tampak di monitor laptopku seorang wanita sedang telentang menerima kocokan di vaginanya sementara mulutnya mengulum penis kedua dan tangan satunya memegang penis ketiga, aku baru tersadar kalau sebelum berangkat dari kantor kemarin sempat membuka koleksi pic yang ada laptop-ku dan karena buru buru mungkin saat mematikan laptop bukan “shut down” yang aku pilih tapi “stand by”.

Mukaku merah dibuatnya, untung tak ada yang memperhatikan, langsung aku “re-booting”, kulirik Andi tapi dia menyiapkan document dan tidak memperhatikanku, pantesan dia langsung mematikannya, pikirku. Aku jadi lebih salah tingkah lagi terhadap Andi, tapi segera aku kembali konsentrasi untuk meeting ini.
Meeting dimulai dengan presentasi Andi dan dilakukan tanya jawab, justru yang banyak bertanya adalah Meli dan itu dilayani dengan cekatan oleh Andi, sementara aku Cuma kadang kadang saja menguatkan pendapat Andi atau membantunya membuat keputusan untuk menerima atau klarifikasi.

Hal ini kulakukan untuk lebih meyakinkan Meli maupun Pak Reza disamping untuk memperbesar rasa percaya diri pada Andi. Cukup alot juga pembicaraan antara mereka berdua, tapi aku tak mau mencampuri sebelum dia benar benar kepepet. Aku kagum sama Meli yang cantik tapi piawai dalam negosiasi.

Setelah masalah teknis dan kontrak selesai sampailah pada masalah harga dan itu adalah tugasku dengan Pak Reza, dengan beberapa alternatif harga yang aku tawarkan akhirnya dicapailah kesepakatan.

“Ndi, kamu revisi dan di print di Business Center supaya bisa ditandatangani sekarang juga, jangan lupa materei-nya” perintahku

“baik bu”jawabnya lalu dia keluar sambil membawa laptopku dokumen dokumen yang diperlukan.
Kupesan champagne merayakan kerja sama ini ketika Andi sudah meninggalkan ruangan.

“Selamat Mbak Eva semoga sukses dengan kerja sama kita ini” Pak Edwin menyalamiku sambil mencium kedua pipiku.

Aku menyalami lalu memeluk Meli dan menempelkan pipiku padanya.

“Anda begitu hebat dalam negosiasi” kataku

Tanpa kuduga dia menjawab berbisik di telingaku.

“terima kasih, Pak Reza tahu lho apa yang terjadi tadi malam di tempat Ibu”

“oh ya? apa itu”jawabku kaget

“Pak Edwin menginap di tempat mbak” katanya pelan mengagetkanku

“dan satu orang cowok lagi” lanjutnya

Kulepas pelukannya dan kupandangi Meli yang masih kelihatan polos itu, lalu pandanganku beralih ke Edwin sebagai protes, tapi dia hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahu saja sambil senyum.

Tak sempat terbengong lebih lama, Pak Reza menyalamiku

“Selamat atas kerja sama kita” katanya sambil menyalamiku dan tak kusangka sangka dia menarik tubuhku ke pelukannya

“I know what you did last night” katanya sambil mempererat pelukannya dan mengelus elus punggungku.

Aku masih tertegun tak merespon ucapan maupun tindakan Pak Reza, tapi kurasakan buah dadaku tergencet di dadanya saat dia memelukku erat. “Pak Reza banyak orang, malu ah” jawabku pelan

“banyak orang? ini kan kita kita juga” jawabnya tanpa melepas pelukannya tapi malah meremas pantatku

Kulirik Pak Edwin, dia hanya bediri di pojok melihat kami, sementara Meli malah mendekat ke Pak Edwin.

“Mari kita rayakan kerja sama ini dengan penuh persahabatan” bisiknya sambil mencium pipi dan bibirku bersamaan dengan tangannya menyingkap rok miniku hingga ke pinggang, aku yakin Meli maupun Edwin bisa melihat celana dalam model “Thong” yang hanya terdapat penutup segitiga kecil di depan, hingga pasti mereka sudah melihat pantatku.

Ciuman Pak Reza sudah sampai di leherku, dilepasnya blazer yang menutupi bagian luarku hingga tampak tank top pink yang kukenakan dibaliknya. Dengan hanya mengenakan tank top, maka tampaklah putingku yang menonjol di baliknya.
Sebenarnya aku bisa saja menolak cumbuan Pak Reza kalau mau, tapi melihat pandangan Pak Reza yang penuh wibawa dan wajahnya yang galak tegas membuat aku takluk dalam pelukan dan ciumannya.

Bukan ketakutan masalah bisnis, aku yakin sebagai seorang professional dia bisa membedakan antara bisnis dan pribadi, tapi memang pada dasarnya aku juga mau dicumbunya.

Kulihat Pak Edwin sudah berciuman dengan Meli sementara tangannya meremas remas buah dada Meli yang montok itu.

Pak Reza lalu menelentangkan tubuhku di atas meja meeting, disingkapkan rokku dan dari celah celana dalam mini dia mulai menciumi dan menjilati vaginaku dengan gairahnya.

Tiba tiba kami dikagetkan ketukan di pintu, segera aku berdiri dan membetulkan rok miniku dan kuambil blazerku, tapi Pak Reza memberi tanda supaya nggak usah dipakai.

Meli membuka pintu, ternyata room boy yang mengantar champagne pesananku, Meli menerima dan menyelesaikan pembayarannya ke kamarku dan dia minta supaya di depan pintu diberi tanda “DO NOT DISTURB”.

Setelah mengunci pintu Meli membuka dan menuangkan untuk kami.

Pak Reza tak mau kehilangan waktu, begitu pintu ditutup, dia kembali memelukku lalu menurunkan tali tank top ku hingga ke tangan, setelah meremas remas sambil mencium leherku, ditariknya tank topku hingga ke perut, maka terpampanglah buah dadaku di depan semua orang.

“wow, very nice breast, begitu kencang, I love it” komentar Pak Reza lalu kepalanya dibenamkan di antara kedua bukit itu sambil tangannya meremas remasnya. Ciumannya dengan cepat berpindah ke puncak bukit dan secara bergantian dia mengulum dari satu puncak ke puncak lainnya.

Dengan cepat ciuman Pak Reza turun ke perut dan selangkanganku setelah terlebih dahulu melemparkan tank top ke Edwin dan kembali merebahkan aku di meja meeting, dijilatinya vaginaku dari balik celana dalamku.

Edwin mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Reza makin menggila di vaginaku, tapi aku tak berani mendesah.

Meli sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang dibalik kaos you can see ketatnya, dia hanya duduk memperhatikan kami, tak seorangpun menyentuh champagne yang sudah kupesan, ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Disaat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dengan ketukan.

“Andi” teriakku panik aku tak ingin Andi melihatku dalam keadaan seperti ini, akan mengurangi wibawaku dimatanya.

Kudorong kepala Pak Reza dengan halus, aku mencari tank top atau blazerku tapi terlambat, Meli sudah membuka dengan hati hati pintu itu dan masuklan Andi dengan membawa laptop dan dokumen dokumennya sebelum aku sempat menutupi tubuh atasku.

Kulihat wajah Andi melongo terkaget kaget melihat aku duduk di meja meeting dalam keadaan topless dan kaki di atas kursi, sementara Pak Reza masih jongkok di bawahku dan Edwin ada dibelakangku dengan bertelanjang dada.

“eh ma..ma..maaf mengganggu” katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Meli segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.

“Udah duduk saja di sini” jawab Meli sambil menghalangi pintu itu dengan tubuhnya.

“tapi..tapi ..tapi ini harus ditandatangani” jawabnya belum sadar dengan apa yang terjadi.

“nggak ada tapi, tanda tangan mah gampang, sini aku Bantu” kata Meli sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Andi dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne.

taruh di sini saja, kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk” kata Meli sambil menarik Andi duduk disebelahnya di sofa.

Kulihat wajah Andi masih melongo kaget melihat bagaimana tingkah lakuku.

“Sudah terlambat, persetan, apa yang terjadi terjadilah” pikirku dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Reza, dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.

Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Andi tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadiran Andi di ruangan itu ketika lidah Pak Reza dengan cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Edwin membimbing tanganku dan dipegangkan ke penisnya yang sudah tegang, ternyata dia sudah mengeluarkan penisnya dari lubang resliting, tanpa menunggu lebih lama kukocok penis itu.

Pak Reza melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Meli dan Andi, ternyata Meli sudah duduk di pangkuan Andi dan mereka sedang berciuman. Pak Reza menarikku duduk di tepi meja, ternyata dia masih berpakaian lengkap.

Kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya, kupelorotkan celananya, ternyata dia tidak memakai celana dalam, dan wow penisnya yang menegang membuatku terpesona, besar dengan guratan otot di batangnya menonjol dengan jelas.

Segera kujilati kepala penisnya dan memasukkan kepala penisnya ke mulutku, kupermainkan dengan lidahku di dalam, tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Reza menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala penis itu ke bibir vaginaku, pelan pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak, maka melesaklah penis kedua di hari untuk vaginaku.

Dia memandangku dengan penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnnya maju mundur mengocok vaginaku, tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku dan jarinya dimasukkan ke mulutku, kukulum dan kupermainkan jarinya dengan lidahku.

Pak Edwin mendekat lalu meremas remas buah dadaku, kuraih penisnya yang masih tegang nongol dari lubang resliting dan kukocok seirama kocokan Pak Reza.

Kudengar desahan dari tempat lain, ternyata Meli sudah semi telanjang di pangkuan Andi sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya, buah dada Meli yang montok itu hampir menutup wajah Andi yang sedang terbenam di celah celahnya.

Melihat hal itu, Pak Edwin meninggalkan kami menuju ke Meli dan Andi, segera dia mengulum puting Meli yang merah menantang berbagi dengan Andi, mendapat kuluman dari dua orang, Meli sepertinya ingin teriak tapi ditahannya dengan menggigit jarinya.

Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas remas buah dadaku, Pak Reza memintaku berbalik, maka aku berdiri membelakangi dia dan tubuhku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi.
Pak Reza kembali melesakkan penisnya di vaginaku, dia mengocok dengan kerasnya hingga meja meeting itu begoyang goyang. Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat Meli sedang duduk di sofa menerima jilatan Andi di vagina mengulum penis Pak Edwin yang berdiri di sampingnya.

Kocokan Pak Reza serasa menggesek semua sisi dinding vaginaku, begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya, ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dengan menggigit bibirku

Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Reza, tanpa kusadari ternyata Meli, Andi dan Edwin ternyata sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Andi mempermainkan klitoris Meli sambil mengocokkan jarinya, ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Edwin berada di antara aku dan Meli, sambil mengulum puting Meli dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Meli, ternyata penis Andi begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza apalagi Pak Edwin, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk penis favoritku.

Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Meli, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Meli sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Meli sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an.

Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Meli. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Andi mulai mengocok Meli dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Meli, dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Meli Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Meli makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.

“Aaauughh..eeghh..ss” teriak Meli tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi.

“sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Andi mengocok Meli dengan penuh gairah nafsu, buah dada Meli yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya Edwin berada di antara aku dan Meli, sambil mengulum puting Meli dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Meli, ternyata penis Andi begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza apalagi Pak Edwin, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk penis favoritku.

Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Meli, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Meli sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Meli sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an.

Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Meli. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Andi mulai mengocok Meli dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Meli, dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Meli Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Meli makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.

“Aaauughh..eeghh..ss” teriak Meli tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi.

“sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Andi mengocok Meli dengan penuh gairah nafsu, buah dada Meli yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya Edwin berada di antara aku dan Meli, sambil mengulum puting Meli dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Meli, ternyata penis Andi begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza apalagi Pak Edwin, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk penis favoritku.

Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Meli, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Meli sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Meli sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an.

Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Meli. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Andi mulai mengocok Meli dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Meli, dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Meli Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Meli makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.

“Aaauughh..eeghh..ss” teriak Meli tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi.

“sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Andi mengocok Meli dengan penuh gairah nafsu, buah dada Meli yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya tangan satunya meremas buah dada Meli yang lebih montok seolah hendak membandingkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.

Aku sudah khawatir cemas kalau ternyata Andi menyemprotkan spermanya di vagina Meli terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan penisnya ke vagina Meli, sudah setengah jam lebih.

“gila kuat juga si Andi ini” batinku.

Kini Andi mengocok Meli dengan posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan, buah dada Meli yang besar menggantung dan bergoyang dengan indahnya ketika Andi mengocoknya.

Pak Reza yang masih menunggu giliran dari Andi duduk di meja antara kami, hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan antara kuluman dan jilatan. Meli mengulum maka aku menjilati sisanya begitu juga sebaliknya, dua lidah di satu penis.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Meli membuat Pak Reza merem melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Meli. Sepertinya Meli sudah bisa merasakan nikmatnya penis Andi yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dengan kuluman pada penis Pak Reza.
Andi menghentikan kocokannya dan menyerahkan Meli ke Bos-nya dan mereka bertukar tempat, Andi mengganti posisi pada mulut Meli setelah terlebih dahulu memutar kursi Meli menjauh dariku, kecewa juga aku dibuatnya karena tidak bisa menikmati penis Andi itu, ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dengan lebih jelas betapa nikmatnya penis Andi itu hingga Meli mengulum dengan ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.

Aku yakin Meli kurang bisa menikmati Pak Reza setelah merasakan penis Andi. Kocokan Pak Edwin tidak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati kuluman Meli pada penis Andi itu meski Pak Edwin mulai melakukan variasi gerakannya, tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, dia lalu memutar kursi hingga Aku dan Meli berjejer, tapi Andi malah menggeser tubuhnya ke sisi lain malah menjauhiku.

Pak Reza meremas buah dadaku sambil mengocok Meli, sementara Pak Edwin meremas buah dada Meli sambil mengocokku dan Andi meremas remas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya, kini Meli mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Andi tapi dia selalu menghindariku sepertinya dia segan menyentuhku.

“come on Andi, satu remasan atau satu kuluman saja darimu, I need you” jerit batinku tapi kembali rasa gengsi sebagai Bos terhadap dia masih tinggi. Andi berciuman dengan Meli sambil tangannya tetap meremas buah dadanya, aku iri melihatnya.

Bahkan ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukar tempat, Andi tetap tak mau beranjak ke arahku. Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Reza, oh much better than before, kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Reza, ouh betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau jauh lebih nikmat dibanding dengan Pak Edwin tadi, kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi.

Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukaran tempat lagi, hingga tiga kali.

Tak lama kemudian ketika Pak Reza sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Meli saat Pak Edwin dan Andi bertukar tempat, Meli sudah mendapat kocokan Andi untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan tubuhnya menggeliat ketika Andi memasukkan kembali penisnya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum penis Pak Edwin.

Pak Reza kembali meremas remas buah dada Meli sambil mengocokku tapi Andi tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Meli sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andi mengocoknya dengan keras. “Lisa sudah mendapatkan tiga penis, di mulut maupun vagina, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

Kupandangi wajah Andi ketika mengocok Meli begitu ganteng dan cool, expresinya tidak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi tubuhnya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Andi menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Reza, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andi, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Reza dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke vaginaku dengan kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari penisnya di dalam vaginaku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan semprotan Pak Reza, ternyata Pak Edwinpun menyemprotkan spermanya di muka Meli, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.

Pak Reza menarik penisnya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Edwin, aku belum mencapai orgasme, hanya satu penis yang masih berdiri yaitu Andi, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.

Kuhampiri Andi yang sedang menyocok Meli, dari belakang kupeluk dia hingga tubuh telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan lebih keras.

Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Andi masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Meli, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan.

Barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Meli, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andi memang menginginkanku tapi tidak berani.

Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Meli, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.
Dengan penuh nafsu dan dengan liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.

Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Meli yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian tubuhnya melemas di atas kursi dengan napas terputus putus.

Bersamaan dengan ditariknya penis dari vagina Meli, dia mendorong tubuhku ke bawah lalu disodorkannya penis besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga penis anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum penis itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari vagina Meli tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andi memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku dengan liar, hampir aku tak bisa bernafas.

Meli sudah duduk di antara Pak Edwin dan Pak Reza kemudian Andi memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih penis besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir vaginaku dan kuarahkan masuk, ternyata Andi tak mau terlalu lama bermain main di luar, dengan keras di sodoknya penis besar itu masuk ke vaginaku.

“OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.
Vaginaku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan tubuhku, tapi Andi seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan cepat dan keras.

Kurasakan penisnya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di vaginaku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.

Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk vaginaku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyetubuhiku, tubuh atletisnya menindih tubuhku sambil pantatnya turun naik mengocok vaginaku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.

Aku mengagumi kekuatan fisik Andi yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh tubuh. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andi di atas tubuhku.

Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok penis Andi, goyanganku kubuat tidak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Reza sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku.

Pak Reza ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan penisnya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Andi kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.
Andi lalu duduk hingga tubuhku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada penis Pak Reza, Andi menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dengan keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.

Akhirnya kurasakan tubuh Andi menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala penisnya membesar memenuhi rongga dalam vaginaku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan.

Maka akupun orgasme saat penis Andi sedang berdenyut dengan hebatnya di vaginaku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, tubuhku sudah mulai melemas tapi penis Pak Reza masih di tanganku.

Maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Reza sambil masih tetap duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Reza, tak lama kemudian berdenyutlah penis Pak Reza di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari penis itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.

Aku terkulai lemas di atas tubuh Andi, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.


Meli memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan penis Andi masih mengganjal vaginaku.

Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Andi pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andi tapi dia tidak memperhatikan. Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Reza menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Reza pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Edwin sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Meli yang masih telanjang.

“Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Edwin
Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Edwin, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Edwin yang masih bujangan itu.

Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andi. Dan selesailah official meeting hari ini.

Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

Setelah makan siang, aku dan Andi mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Andi naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan

“Andi apapun yang telah terjadi adalah tidak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Andi sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tidak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.
Aku tidak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Andi terlalu nikmat untuk di tinggalkan